Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Korban uji nuklir French Polynesia dapat “angin segar” soal kompensasi
  • Rabu, 05 Juli 2017 — 16:50
  • 775x views

Korban uji nuklir French Polynesia dapat “angin segar” soal kompensasi

"Beberapa orang mengatakan itu adalah kabar baik tapi sejauh yang saya tahu saya menginginkan tindakan yang tepat dan konkret, saya ingin mengadakan pertemuan dengan agenda mengenai semua masalah, misalnya Loi Morin. Kapan pertemuan berikutnya dari komite ini untuk Kompensasi?" tanya Oldham.
Monumen korban ujicoba nuklir di French Polynesia – Jubi/IST
RNZI
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Veteran uji coba nuklir di French Polynesia mendapatkan harapan baru bahwa Prancis pada akhirnya akan memberikan kompensasi pada mereka karena kesehatan yang buruk yang disebabkan oleh tes senjata nuklir bertahun-tahun lalu. Paris telah memutuskan untuk mempertimbangkan kembali ratusan klaim kompensasi yang sebelumnya ditolak.

Berita tersebut muncul di tengah peringatan 193 kali tes nuklir pertama di Tahiti yang dilakukan militer Prancis di Moruroa dan Fangataufa selama periode 30 tahun. Acara di Papeete, ibukota French Polynesia juga dilakukan untuk memperingati dua juru kampanye  John Doom dan Bruno Barrillot yang meninggal pada tahun lalu.

Meskipun Prancis mengeluarkan undang-undang pada tahun 2010 untuk mengkompensasi korban, kriteria korban dikatakan terlalu sempit. Sekarang ulasan tentang Loi Morin - undang-undang yang dinamakan menurut menteri pertahanan saat itu - memberi harapan baru.

Sebuah surat dari presiden Polinesia Prancis Edourad Fritch dikirim ke organisasi yang memperjuangkan pengakuan atas kerusakan yang diakibatkan oleh tes tersebut.

"Saya dengan senang hati memberi tahu anda bahwa Dewan Negara, berdasarkan pendapat dari tanggal 28 Juni, telah mengindikasikan bahwa reformasi ini akan mulai berlaku segera dan bahwa Komite Uji Coba Korban Nuklir akan meninjau semua kasus yang sebelumnya ditolak," kata Fritch.

Roland Oldham, presiden direktur organisasi veteran Moruroa e tatou, dengan hati-hati menyambut berita tersebut.

"Beberapa orang mengatakan itu adalah kabar baik tapi sejauh yang saya tahu saya menginginkan tindakan yang tepat dan konkret, saya ingin mengadakan pertemuan dengan agenda mengenai semua masalah, misalnya Loi Morin. Kapan pertemuan berikutnya dari komite ini untuk Kompensasi?" tanya Oldham.

Selama kampanye pemilihan Presiden Prancis, Emmanuel Macron berjanji untuk menyelesaikan klaim kompensasi nuklir secara penuh. Dia menggambarkan penjajahan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia membuat pernyataan tersebut pada bulan Februari saat berkunjung ke Aljazair yang digunakan oleh militer Prancis untuk tes senjata nuklir sampai mereka pindah di Pasifik Selatan.

Sikap ini juga menyokong kampanye Gereja Protestan Maohi, denominasi dominan di Tahiti. Yang membuat cemas para administrator Prancis di Papeete, gereja tersebut terus mengacu pada tes tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Klaim ini sekarang diangkat oleh oposisi pro-kemerdekaan yang dipimpin Oscar Temaru.

"Inilah keluhan yang tertunda yang merupakan bagian dari kasus yang akan kita lihat di New York pada bulan Oktober sehingga hal ini dapat ditransfer ke Pengadilan Pidana Internasional," kata Temaru kepada televisi setempat.

Seorang juru kampanye anti-nuklir veteran dan mantan politisi, Tea Hirshon melihat momentum pembangunan. Tapi dia meragukan motivasi orang-orang yang mengungkapkan keprihatinannya karena para politisi anti-kemerdekaan selama bertahun-tahun mengabaikan penderitaan para korban.

"Kami akan melanjutkannya langkah demi langkah untuk reparasi dan kami masih jauh dari itu. Saya pikir presiden menggunakan uji coba nuklir juga sebagai tekanan pada pemerintah Prancis untuk mendapatkan lebih banyak uang," katanya.

Ketika Prancis mengakhiri program pengujian senjata nuklirnya, dia setuju untuk membayar pemerintah Gaston Flosse lebih dari $ 100 juta per tahun untuk mengonfigurasi ulang ekonomi yang telah bergantung pada masuknya uang dari militer dan layanan terkaitnya. Pembayaran dibatasi selama satu dekade namun Flosse berhasil mengamankan kelanjutan transfer yang terus-menerus.

Flosse, yang dipecat karena sebuah dugaan korupsi dan kaget karena tidak mendapat pengampunan atas kejahatannya, mendorong Partai Tahoeraa Huiraatira yang dominan pada tahun 2014 untuk mencoba mencari US$ 8.30 juta dari Prancis sebagai kompensasi.

Jumlah tersebut harus dibayar untuk kerusakan lingkungan dan untuk pendudukan Prancis di lokasi uji coba yang tetap merupakan zona larangan masuk di French Polynesia.

Kerusakan pada atol sulit untuk dinilai namun Prancis meragukan atol-atol di kepulauan French Polynesia akan hancur.

Para politisi di Tahiti telah memvariasikan pandangan mereka tentang tes selama beberapa dekade terakhir namun kini mereka berkumpul secara kolektif karena peduli pada warisan tanah mereka yang akan bertahan selama beberapa generasi. Namun masyarakat sangat khawatir dengan penyakit dan ketakutan akan kondisi turun-temurun dan sistem perawatan kesehatan yang terlalu buruk.

Asosiasi 193 adalah kelompok yang relatif baru, dipimpin oleh seorang imam, yang telah mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan untuk mendorong sebuah referendum mengenai warisan nuklir.

Sayangnya, Roland Oldham beranggapan saat ini semuanya masih dalam pembicaraan.

"Kami sudah lama berada di sini dan kami sangat tahu politisi, sehingga yang saya tunggu-tunggu dari mereka hanyalah tindakan nyata," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Peringati 30 tahun hubungan diplomatik, Vanuatu dan China rilis perangko baru

Selanjutnya

Perhitungan suara berlangsung di Hela meski kerusuhan terjadi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe