Konferensi Luar Biasa
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Otonomi
  3. Lahan gambut miliki nilai ekonomi tinggi
  • Rabu, 12 Juli 2017 — 23:26
  • 1225x views

Lahan gambut miliki nilai ekonomi tinggi

Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead mengatakan beberapa daerah di Indonesia, Jepang, Jerman, Irlandia maupun Inggris bertani di lahan gambut.
Ilustrasi Hutan Sagu di Merauke - IST
Alexander Loen
alex@tabloidjubi.com
Editor : Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia menilai lahan gambut memiliki nilai ekonomi tinggi jika dimanfaatkan secara tepat. Apalagi di Papua luas lahan gambut mencapai 2.658.184 hektar.

Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead mengatakan beberapa daerah di Indonesia, Jepang, Jerman, Irlandia maupun Inggris bertani di lahan gambut.

"Kalau beberapa tempat ada digunakan untuk kembangkan ikan air tawar, Kalimantan dan Sumatera beternak kerbau rawa," kata Nazir kepada wartawan, di Jayapura belum lama ini.

Menurutnya, jenis tanaman seperti nanas, kopi gambut, kelapa dalam, sagu bisa tumbuh subur di atas lahan gambut.

BRG berkeinginan mengedepankan budi daya lahan gambut yang secara turun temurun telah dikerjakan masyarakat. “Kami ingin menghindari tanaman eksotis yang tadinya cocok dil ahan kering dibawa ke lahan gambut,” ucapnya.

“Hal ini kami lakukan karena khawatir ketika lahan gambutnya kering dan tanaman tersebut mati, maka bisa menyebabkan kebakaran. Tentu kami akan tempatkan tanaman yang lebih cocok di daerah lembab dan basah.”

Nazir katakan, pihaknya akan mendorong masyarakat di Papua untuk menanam pohon sagu di kawasan lahan gambut, mengingat sesuai para ahli dari LIPI dan pertanian sagu mengatakan komoditas ini memiliki produktivitas berkali-kali lipat dibandingkan singkong.

"Walaupun sagu dipanen delapan tahun sekali, sementara singkong mungkin enam bulan sekali, tetapi kalau dihitung dengan budaya yang tepat jumlahnya akan sangat besar (per hektare) sehingga kalau produktivitasnya dibagi per tahun masih lebih tinggi," katanya.

Selain dijadikan lahan pertanian, kata dia, lahan gambut di Papua yang masih murni, alami dan indah bisa dijadikan tempat wisata, apalagi kondisi gambut di Papua masih 90 persen lebih.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Noak Kapisa mengatakan Papua memiliki luas lahan gambut seluas 3.2 juta hektare, dan yang masih utuh 2.6 juta hektare.

"Jadi sekitar 90 persen lebih yang masih utuh, dan kerusakan di lahan gambut di Papua dari tahun-tahun sebelumnya dan perlu direstorasi ada sekitar 82 ribu hektare," kata Noak.

Dari jumlah tersebut, ujar ia, tidak semua harus diambil tindakan restorasi. "Kalau kita bisa lakukan fokus tindakan dengan 54 ribu hektare saja bisa menutupi target yang 82 ribu hektare tadi," ucapnya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Elia Loupatty : restorasi gambut perlu ada kesepahaman

Selanjutnya

Hery Dosinaen : penanganan korupsi di Papua sudah dilaksanakan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe