Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Desmond Tutu: Saya mau akhiri hidup dengan cara terhormat
  • Minggu, 09 Oktober 2016 — 19:37
  • 1468x views

Desmond Tutu: Saya mau akhiri hidup dengan cara terhormat

Orang sakit yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi seharusnya memiliki hak untuk memilih dibantu kematiannya dengan terhormat, demikian ditulis oleh Uskup Agung Desmond Tutu, di hari ulang tahunnya ke-85, Jumat (7/10/2016).
Desmond Tutu: ‘Bagi mereka yang tak sanggup lagi menahan derita akibat sakit dan ada di penghujung hidupnya, adanya opsi bantuan kematian akan membuat ketenangan tak terkira’ - Rodger Bosch/AFP/Getty Images
Zely Ariane
Editor :
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Orang sakit yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi seharusnya memiliki hak untuk memilih dibantu kematiannya dengan terhormat, demikian ditulis oleh Uskup Agung Desmond Tutu, di hari ulang tahunnya ke-85, Jumat (7/10/2016).

Desmond Tutu mengatakan dirinya akan memilih opsi mengakhiri hidupnya melalui ‘bantuan kematian’, dan dia meminta kepada para politisi, pembuat kebijakan dan pemimpin agama untuk mengambil sikap terkait isu tersebut.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di ulang hari ulang tahunnya itu, setelah serangkaian doa dan upaya di rumah sakit sepanjang tahun ini untuk mengobati infeksi yang dideritanya, Uskup Agung emeritus Cape Town dan aktivis anti-apartheid itu menegaskan kembali dukungannya terhadap ‘bantuan kematian’ bagi orang-orang yang sekarat.

“Seiring hidup saya yang lebih mendekati akhir ketimbang awal, saya memohon untuk memberikan rakyat kehormatan di masa-masa sekaratnya,” demikian dia tuliskan di Washington Post.

“Seperti halnya saya dengan tegas membela kasih dan keadilan dalam kehidupan, saya percaya bahwa orang dengan sakit yang mematikan seharusnya diperlakukan dengan belas kasih dan keadilan yang sama ketika tiba pada kematiannya,” tambahnya.

Menurut Tutu, saat ini orang harus memiliki hak untuk memilih bagaimana dan kapan dia meninggalkan Ibu Bumi. “Saya percaya bahwa seiring dengan perawatan dan pengobatan hebat yang ada saat ini, pasien juga seharusnya memiliki pilihan bantuan agar dapat mati dengan terhormat,” ujarnya.

Tutu telah mengubah pendiriannya terhadap ‘bantuan kematian’ sejak dua tahun lalu setelah sebelumnya menolak sekaligus ragu apakah dirinya mau memilih kematian semacam itu. 

Dia mengatakan: “Sekarang, saya sendiri sudah mendekati gerbang kebarangkatan ketimbang ketibaan, dan ini membuat saya berpikir bagaimana saya sebaiknya diperlakukan ketika waktunya tiba. Dan sekarang saya bertambah yakin, saya berkewajiban menyampaikan suara saya atas persoalan ini.”

Dia percaya kesucian kehidupan, namun juga orang dengan sakit yang mematikan tidak boleh dipaksa menahan sakit yang dengan hebat dideritanya setiap hari, dan mereka seharusnya punya kontrol atas cara dan waktu kematian mereka.

“Saya sudah siapkan kematian saya, dan menyatakannya dengan tegas bahwa saya tidak berharap untuk tetap dibiarkan hidup atas alasan apapun. Saya harap dapat diperlakukan dengan kasih dan diizinkan untuk melanjutkan perjalanan kehidupan selanjutnya dengan cara yang saya pilih,” ujarnya lagi.

Tutu merujuk pada perundangan di California dan Canada yang mengizinkan bantuan kematian bagi orang-orang sekarat. Namun “masih ribuan orang-orang lainnya diseluruh dunia yang tidak diakui haknya untuk dapat mati dengan terhormat”.

Dia menyimpulkan: “Dengan menolak hak-hak orang yang sekarat untuk dapat mati dengan terhormat, kita gagal menunjukkan kasih yang padahal menjadi jantung dari nilai-nilai kekristenan. Saya berdoa agar para politisi, pembuat kebijakan, dan para pemimpin agama memiliki keberanian untuk mendukung pilihan bagi warga dengan sakit yang mematikan tersebut untuk meninggalkan Ibu Bumi. Sekaranglah waktunya bertindak.”

Tutu, yang memenangkan Nobel perdamaian di tahun 1984, telah berkali-kali dirawat di rumah sakit, terakhir di bulan September untuk perawatan infeksi kronis akibat operasi kanker prostat yang dideritanya.

“Bantuan kematian” sah di Swiss, Belanda, Luxembourg, Albania, Kolombia dan Jepang serta Kanada. Beberapa negara bagian di AS juga melegalkannya, seperti Washington, California, Oregon, Vermont dan New Mexico.

Mantan Uskup Canterburry, Inggris, Lord Carey juga mendukung opsi ‘bantuan kematian’ agar disahkan secara hukum. Dia mengatakan tindakan itu sesuai dengan nilai moral dan kekristenan. Tutu mendukung inisiatifnya dan menyatakan dukungan dan terimakasihnya, “inisiatif dia bersama inisiatif serupa di tanah negeri saya, Afrika Selatan, juga di AS dan seluruh dunia.”

 Tutu selama ini adalah advokat sangat vokal atas hak-hak perempuan, dia juga penentang kebencian pada hubungan sesama jenis (homophobia), pengkampanye melawan kemiskinan, mendukung para penderita HIV/AIDS dan perubahan iklim.

Dia memimpin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Afrika Selatan pasca Apatheid. Nelson Mandela menyebutnya sebagai “suara bagi orang-orang tak bersuara”.(*)

loading...

Sebelumnya

Wabah Kolera hantui Haiti pasca Badai Matthew

Selanjutnya

"Seperti Bom Nuklir", Kolera dan kehancuran setelah badai di Haiti

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe