Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Gema Demokrasi protes keras atas pemutusan akses Telegram
  • Senin, 17 Juli 2017 — 12:02
  • 585x views

Gema Demokrasi protes keras atas pemutusan akses Telegram

Menurut mereka pemutusan akses telegram ini adalah tindakan blokir pemerintah yang arogan dan sewenang-wenang karena bisa mengakibatkan pengguna telegram messenger lain yang tidak menggunakannya untuk kepentingan terorisme mengalami kerugian.
Ilustrasi aplikasi pesan Telegram berbasis kompoter - IST
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi – Setelah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) No 2/2017 tentang pembatasan Organisasi Masyarakat, kini Menteri Komunikasi dan Informatika mengancam akan memblokir akses Telegram Messenger.  

Alasanya, seperti yang diungkap Menkominfo Rudiantara Jum’at (14/7/2017) di berbagai media platform media sosial asing yang beroperasi di Indonesia jika tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menangkal konten-konten berbau hoax, fake news, dan radikalisme baik dalam bentuk foto, tulisan, hingga video akan ditutup.

Alhasil dampak terhadap pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya layanan Telegram versi web (tidak bisa diakses melalui komputer).

Hal itu langsung mendapat protes keras dari Gema Demokrasi, suatu kumpulan komunitas dan organisasi sipil berbasis di Jakarta yang peduli atas kebebasan berekspresi. Menurut mereka pemutusan akses telegram ini adalah tindakan blokir pemerintah yang arogan dan sewenang-wenang karena bisa mengakibatkan pengguna telegram messenger lain yang tidak menggunakannya untuk kepentingan terorisme mengalami kerugian.

“Solusi ini sekalipun dinilai efektif hanya berlaku pendek, karena kelompok teroris bisa dengan cepat pindah ke platform digital lain. Lalu apakah kemudian pemerintah akan melakukan blokir lagi dan lagi pada setiap platform digital di mana aksi terorisme berada?” ujar Dhyta Caturani  dari PurpleCode Collective yang tergabung dalam Gema Demokrasi dalam rilisnya yang diterima redaksi, Minggu (16/7/2017).

Tak perlu tindakan blokir, Gema Demokrasi menyontohkan cara Jerman yang lebih baik menangani isu terorisme dan media sosial. “Pemerintah Jerman pada April 2017 memimpin negara-negara Eropa untuk mendorong penerapan denda Rp 7 Milyar pada platform digital yang membiarkan konten radikalisme dan hoax merajalela”.

Untuk itu mereka menuntut agar pemerintah segera menormalisasi akses pada situs Telegram Messenger yang diputus dan mengganti kerugian pada kelompok masyarakat yang bisa mengajukan bukti kerugiannya.

Terpisah melalui akun twitternya, CEO Telegram, Pavel Durov pada awalnya mengaku justru belum menerima permintaan atau keluhan apapun dari pemerintah Indonesia.

“Aneh juga, karena kami tidak pernah terima permintaan/keluhan dari pemerintah Indonesia. Kami akan melakukan investigasi dan akan mengumumkannya,” kata Durov melalui cuitan di @durov itu pada 14 Juli lalu.

Namun pada 16 Juli melalui sebuah pernyataan resmi, seperti dilansir Rappler.com (16/7) kemudian mengatakan bahwa pihaknya kecewa saat mendengar Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan pemblokiran Telegram di Indonesia. “Ternyata Kemenkominfo sempat mengirimkan email berisi daftar public channel yang digunakan oleh para teroris, dan tim kami tidak sempat memproses laporan tersebut dengan cepat,” ujarnya.

Untuk memperbaiki situasi itu, pihak Telegram akan melakukan tiga langkah berikut, yaitu memblokir seluruh public channel yang berkaitan dengan teroris yang sebelumnya telah dilaporkan kepada kami oleh Kemenkominfo; membangun hubungan komunikasi langsung dengan Kominfo untuk bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan memblokir propaganda teroris di masa depan; membentuk tim moderator khusus yang mengerti bahasa dan budaya Indonesia agar dapat memproses laporan tentang konten terorisme dengan lebih cepat dan akurat.(*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Badai salju dan listrik terjang Chile

Selanjutnya

Obby Kogoya: “Dukung saya dalam doa agar keadilan sesuai kehendak Tuhan”

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe