Konferensi Luar Biasa
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Gereja rilis data hampir 50 balita meninggal akibat penyakit di Tigi Barat
  • Kamis, 20 Juli 2017 — 21:42
  • 1438x views

Gereja rilis data hampir 50 balita meninggal akibat penyakit di Tigi Barat

Penyebab kematian, ungkap dia, dalam diskusi-diskusi terbatas di kalangan masyarakat, terungkap beberapa persepsi yang kiranya perlu diklarifikasi lebih lanjut, sebab pandangan medis dan masyarakat berbeda.
P. Santon Tekege, Pr (depan) dan P. Damianus Adii, Pr (berkaca mata) dalam suatu acara di Waghete, Deiyai – Jubi/Abeth You.
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Syofiardi

Papua No. 1 News Portal I Jubi
 
Deiyai, Jubi – Gereja Katolik Dekenat Paniai, Keuskupan Timika, Papua telah melakukan pendataan langsung terhadap balita yang meninggal akibat penyakit di sejumlah kampung, di antaranya Desa Ayatei, Desa Digikotu, Desa Piyakedimi, Desa Yinudoba, dan Desa Epanai. Dalam diskusi terbuka, kematian 50 orang Mee pada 16 Juli 2017 dengan masyarakat, terungkap akibat dan penyebab kematian orang Mee. Korban yang sempat didata tersebut ialah para korban dalam kurun pertengahan April hingga 15 Juli 2017.

Pater Paroki Deiyai, Tigi Barat, Pater Damianus Adii, Pr kepada Jubi menjelaskan, kematian bayi  ini sebelumnya disebarkan Kepala Distrik Tigi Barat Fransiskus Bobii pada Minggu, 9 Juli 2017.

“Dalam laporannya, beliau menulis jumlah korban 30 bayi, tetapi setelah kami mendata ulang, ternyata jumlah korban adalah 50 anak bayi, termasuk dewasa, atas dasar data laporan wabah ini, saya siap menjelaskan beberapa hal,” ungkap P. Damianus Adii, Pr, Kamis, (20/7/2017).

Menurutnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Deiyai, para dokter, perawat, dan mantri bergerak langsung ke lokasi kejadian. Pada Jumat, 14 Juli 2017 siang pukul 10 sampai 3 sore melakukan pengobatan massal. Pukul 4-5 sore mengadakan evaluasi di kantor Distrik Tigi Barat. Menurut medis gejala penyakitnya antara lain, ISPA, campak, diare, dan disentri.

“Tetapi, menurut pendataan kami kepada keluarga korban gejala tubuh pasien adalah panas tinggi, mencret (diare), mulut luka-luka, mata merah, dan tiba-tiba meninggal, waktu sakitnya satu hari sampai empat hari langsung meninggal dunia,” jelasnya.

Penyebab kematian, ungkap dia, dalam diskusi-diskusi terbatas di kalangan masyarakat, terungkap beberapa persepsi yang kiranya perlu diklarifikasi lebih lanjut, sebab pandangan medis dan masyarakat berbeda.

“Pemerintah Deiyai sudah bangun Pustu di beberapa kampung, tetapi pelayanan dari para medis dan Dinas Kesehatan tidak ada selama ini, kami hanya melihat gedung saja,tidak ada prasarana medis dan obat-obatan, hanya yang ada di kampung-kampung adalah rumah Pustu tanpa pelayanan medis,” katanya.

Rumah itu, lanjutnya, menjadi kandang dan kotoran kambing dan babi.

"Masyarakat dengan jelas mengatakan kejadian kematian adalah musibah yang luar biasa,” tuturnya.

Ia menilai Pemerintah Kabupaten Deiyai dan Pemprov Papua buta melihat musibah kejadian luar biasa ini. Padahal korban kematian masih berlanjut hingga Juli 2017. Karena ittu, masyarakat melihat kepala dinas, para dokter, perawat, kaget dan bergerak cepat setelah terjadi musibah, tanpa antisipasi sebelum kejadian.

Sementara, Pater Santon Tekege, Pr mengatakan, pihaknya telah menyuarakan masalah kesehatan, pemerintah juga diundang bahkan menjadi pemateri dalam diskusi yang bertemakan kesehatan. Tetapi masalah kesehatan tetap saja ada, tidak ada tindak lanjut.

Ia menuturkan, gereja menilai bahwa pemerintah setempat lamban mengatasi wabah kematian puluhan bayi di Deiyai. Karena itu, pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab wabah luar biasa tersebut. Gereja menilai kasus tersebut adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) karena kematiannya sudah lebih 10 anak bayi atau 50 anak bayi.

“Di mana Pemerintah Indonesia (Jakarta), di mana Pemerintah Provinsi Papua? Dan di mana Pemerintah Kabupaten Deiyai? Sebuah kebutaan Anda dalam menyelamatkan anak bayi ciptaan Allah ini,” ujarnya.
 
Pihaknya nyatakan, tidak mau adanya pembiaraan wabah kematian oleh Pemerintah Indonesia dan mesti ada penanganan kesehatan masyarakat di kampung-kampung di Tanah Papua. Pemerintah Provinsi Papua harus segera turunkan para medis di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Pemerintah Indonesia harus bertanggungjawab atas wabah kematian 50 balita di Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, di Tanah Papua dan masyarakat asli Papua menilai bahwa Pemerintah Indonesia sengaja melakukan pembiaraan kematian wabah kematian tanpa penanganan serius selama ini di Tanah Papua,” tandasnya.
 
Berikut nama, tanggal lahir, dan tanggal meninggal para balita dan dewasa yang didata gereja Katolik Dekenat Paniai:
 
1.    Yunias Pakage, lahir 25 Juni 2017 dan meninggal 2 Juli 2017
2.    Yanuarius Goo, 7 Januari 2016 dan meninggal 2 Juli 2017
3.    Yosias Goo, 20 Agustus 2015 dan meninggal 10 Juni 2017
4.    Yose Goo, 25 Januari  2017 dan meninggal 25 Juni 2017
5.    Agustina Pigome, 10 Desember 2015 dan meninggal 20 Juni 2017
6.    Martina Bobi, 1 Mei 2017 dan 10 Juni 2017
7.    Pince Ukago, 16 April 2016 dan 1 Juli 2017
8.    Yuliana Badi, 15 Mei  2014 dan 10 Juli 2017
9.    Yupinia Bad, 20 Desember 2015 dan 11 Juli 2017
10. Marselina Badi, 10 Desember 2016 dan 26 Juni 2017
11. Akupince Badi, 24 Juni 2016 dan 4 Juli 2017
12. Mariana You, 12 November 2016 dan 8 Juli 2017
13. Yuliana Badi, 12 Juli 2016 dan 16 Juni 2017
14. Yupiana Badi, 21 September 2016 dan 10 Juli 2017
15. Lina Goo, 10 April 2015 dan 20 Juni 2017
16. Depian Badi, 15 Desember 2016 dan 7 Juni 2017
17. Wenedega Bobi, 16 November 2016 dan 15 Juni 2017
18. John Pekei, 23 Desember 2016 dan 20 Juni 2017
19. Dominikus Pigome, 19 Desember 2016 dan 7 Juli 2017
20. Melince Pigome, 10 Mei 2017 dan 24 Juni 2017
21. Maria Giyai, 10 Januari 2017 dan 30 Juni 2017
22. Otopina Giyai, 15 November 2016 dan 10 Juli 2017
23. Meliana Goumau Goo, 17 Oktober 2016 dan 7 Juli 2017
24. Antasia Pigome, 19 Oktober 2016 dan 11 Juni 2017
25. Titus Badi, 19 Agustus 1960 dan 19 Juni 2017
26. Yohanes Pigome, 21 Oktober 2016 dan 8 Mei 2017
27. Sela Badi, 19 April 2017 dan 10 Juli 2017
28. Badiwene Badi, 5 Mei 2017 dan 9 Juli 2017
29. Pekeimaga Pekei, 17 Mei 2016 dan 9 Juli 2017
30. Yulita Agapa, 16 Mei 2015 dan 17 Mei 2017
31. Selina Bobi, 7 Mei 2015 dan 21 Juni 2017
32. Nofita Douw, 16 Januari 2017 dan 11 Mei 2017
33. Mariance Bobi, 17 Juli 2015 dan 25 Juni 2017
34. Jonas Bobi, 10 Februari 2016 dan 30 Mei 2017
35. Yohan Very Pekei, 2 Oktober 2015 dan 4  Juli 2017
36. Amakatedou Bobi, 12 November 2015 dan 29  Mei 2017
37. Periska Agapa, 6 April 2015 dan 25 Juni 2017
38. Theodorus Badii 20 Desember 2016 dan 13 Mei 2017
39. Mabi Pigome, 2 Mei 2017 dan 1 Juli 2017
40. Yonas Pigome, 4 Maret 2014 dan 2 Juni 2017
41. Yulmina Pigai, 2 Maret 2016 dan 3 Juni 2017
42. Yulita Pigome, 1 April 2016 dan 7 Mei 2017
43. Melianus Pigome, 14 Agustus 2002 dan 8 juni 2017
44. Elisabet Pigome, 20 thn dan 8 Juli 2017
45. Pigomeumau Pigome ½ thn dan 10 Juni 2017
46. Titus Badi, 20 thn
47. Agustinus Goo, 20 thn dan 2 Juli 2017   
48. Yupri Ukago meninggal 1 Juli 2017
49. Monika Douw, 20 Agustus 1988 dan 3 Juni 2017
50. Yakoba Pekei, April 1980 dan 24 Juni 2017.

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Komisi V DPR Papua ancam pending anggaran RS Abepura

Selanjutnya

Siswa baru SMP deg-degan ketika pertama memakai seragam

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe