Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Rina Wenda, Mutiara Hitam GPM yang diterlantarkan
  • Sabtu, 22 Juli 2017 — 09:58
  • 3825x views

Rina Wenda, Mutiara Hitam GPM yang diterlantarkan

Gerakan Papua Mengajar (GPM) hadir sebagai penyelamat harapan generasi ini termasuk Rina yang tengah terlantar itu. Selama mutiara hitam itu terlantar, GPM merangkul mutiara-mutiara lainnya di kompleks yang bersebelahan dengan Gua Maria Sang Bintang Timur, Buper Waena.
Ilustrasi anak sekolah di Papua - IST
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Oleh Soleman Itlay

Sore itu cukup ramai di depan GIDI Jemaat Sardis, Buper Kota Jayapura. “Ade itu namanya Rina Wenda. Dalam waktu dekat kami akan daftarkan dia ke sekolah dasar”, kata pria yang rela meninggalkan segala sesuatu dan selalu mendampingi mutiara-mutiara kecil itu, Rabu (24/5/2017).

Berikutnya, Minggu, 25 Juni di hadapan jemaat pria itu mengatakan, “Rina dan teman-teman lainnya bisa masuk SD. Mulai besok sekolah buka pendaftaran. Sehingga bapa dengan mama dorang bisa antarkan mereka ke sekolah. Untuk daftar ke kelas satu. Seandainya, mereka punya persyaratan, seperti akta nikah, akta kelahiran atau apa yang diperlukan tidak ada?”.

Lanjut dia, “Kita akan pikirkan bersama. Tetapi seandainya pihak sekolah tidak terima? Kita akan minta alasannya kenapa sampai anak-anak ini mau sekolah tapi membatasi keinginan mereka sekolah.”

Sekadar ingatkan, Rina daftar di SD Inpres Buper Waena, Jayapura pada Selasa (4/7/2017). Panitia sudah mengatakan akan terima mutiara hitam di hadapan keluarga. Dua hari kemudian, Kamis (6/7/2017), Rina dikabarkan ditolak oleh pihak sekolah. Alasannya tertera di ujung catatan ini.

Mutiara hitam itu punyak jejak pendidikan yang berliku-liku. Saat ini ia berusia 14 tahun. Untuk menggapai mimpi dan cita-citanya, ia pernah menginjak kelas tiga pada sebuah SD di Kanggime, Kabupaten Tolikara. Kemudian bersama ibu pindah ke Jayapura pada 2010. Karena ayahnya hendak melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Jayapura.

Semenjak tiba di ibu kota Provinsi Papua, keluarga pernah coba untuk mendaftarkanya di beberapa SD Port Numbay, ibu kota Jayapura. Segala upaya keluarga yang pernah dilakukan saat Rina berusia 10 tahun gagal semua. Sayang, nasib bocah kecil yang punya semangat tinggi itu terlantar.

Rina tidak merasakan hak sebagai warga negara Indonesia yang dijamin untuk hidup, sekolah, menuntut ilmu, mendapat pengetahuan, dst. Persyaratan menjadi penting ketimbang penuhi hak seseorang. Rina tidak hanya terlantar dan tidak sekadar mendapatkan hak hidupnya. Tetapi lebih dari itu, niat keluhurannya semakin dipersempit dengan usia.

Sedih, keinginan berbenturan dengan persyaratan sekolah dasar. Hak sebagai manusia tidak lagi dipertimbangkan. Tidak ada lagi jalan lain, selain hasrat hidupnya diterlantarkan karena surat pindah. Kendati demikian, semangat pendidikan yang tertanam dalam pribadi bocah itu tidak pernah pudar. Kekecewaan tidak pernah membuatnya pantang menyerah untuk terus mencoba, mencoba dan mencoba.

Berkali-kali menghadap para pengajar-pengajar tapi tak satu pun ada hasilnya. Tidak sedikit pun keluarga dapatkan buah kerja keras untuk bocah cantik itu. Bukannya keluarga tidak mau memberikan kejutan padanya. Tetapi memang tidak ada sepenggal kabar gembira yang didapat dari semua sekolah dasar yang pernah diinjak. 

Tidak ada lagi aliran semangat pendidikan ditempatkannya. Ruang dan waktu rasa sempit. Begitu pun dengan kesempatan. Tidak ada ruang untuk menempuh pendidikan yang baik. Tidak ada waktu untuk melanjutkan pendidikan di sisa usia, layaknya sekolah dasar. Tidak ada kesempatan lagi untuk memulai dari awal baginya.

Tidak banyak yang bisa dilakukan. Jalan menuju cita-cita semakin sempit. Sosok sebagai bocah yang memiliki keinginan kuat makin tidak ada arti. Orangtua terkasihnya, pernah berkali-kali merayu kepada sekian banyak guru-guru. Tetapi para kendali sekolah dasar di pusat kota studi ini tidak terhasut dengan buaian keluarga. Kini ia ikut pendidikan nonformal yang dikoordinir oleh Agustinus Kadepa, dkk.

Gerakan Papua Mengajar (GPM) hadir sebagai penyelamat harapan generasi ini termasuk Rina yang tengah terlantar itu. Selama mutiara hitam itu terlantar, GPM merangkul mutiara-mutiara lainnya di kompleks yang bersebelahan dengan Gua Maria Sang Bintang Timur, Buper Waena.

Sejak 2013 Yohana Pulalo, Orgenes Ukago, Theresia Tekege, Hengky Yeimo, Alfonsa Wayap, Arnold Belau, dan Andhi Taghiuma, Fransiska Pigay, dan lainnya menjadi penggagas ide, pengajar dan pembimbing mutiara-mutiara kecil yang akan menjadi besar di bawah tajuk “membimbing, membina, mengajar dan membentuk mutiara-mutiara guna menjadi garam dan terang dunia”.

Sebagai penanggung jawab, GPM mendampingi mutiara hitam itu daftar ke sekolah bersama keluarga anak didik mereka. Orgenes Ukago dan mama Rina turun dari kediaman ke SD Inpres Buper Waena pada Selasa 4 Juli 2017, pukul 09.30 WP. Dengan harapan mereka daftar dan kepada keluarga dan GPM, pihak sekolah melalui panitia mengatakan akan terima mutiara hitam itu. Walaupun usianya lebih, tapi pihaknya akan atur sebagaimana mestinya.

Setelahnya, pulang dengan harapan Rina sudah bisa sekolah. Mutiara hitam itu bisa mendapat kesempatan, dan mendapatkan ruang dan waktu guna meletakkan kerinduan yang menjadi pergumulan selama ini. Bahwasannya, mutiara hitam bisa melanjutkan sekolah. Tetapi sedih, dua hari kemudian situasi berubah. Mutiara itu terancam terlantar karena dikabarkan tidak memenuhi persyaratan penerimaan siswa baru di sekolah itu.

Pada Kamis, 6 Juni 2017, pihak sekolah menyatakan tidak terima Rina. Sedih berlapis sial kembali datang lagi di hadapan si mutiara itu. Nasibnya kini tak menentu lagi. Kepada siapa ia akan mengadu? Hanyalah doa yang selalu ia pinta. Di dalam kerinduan kini mutiara terlantar di perbukitan Buper Waena.

Siapa yang akan melihat nasib bocah kecil ini? Siapa yang akan mendengar keluh kesah si mutiara hitam? Agus Kadepa selaku koordinator GPM, sebelumnya mengatakan, pihaknya akan meminta alasan kepada pihak sekolah. Bahkan mengatakan akan menanyakan alasan, mengapa anak-anak ini mau sekolah baru membatasi.

“Tetapi seandainya pihak sekolah tidak terima? Kita akan minta alasannya kenapa sampai  anak-anak ini mau sekolah tapi membatasi keinginan mereka sekolah.” Alasannya, sebenarnya sepele. Pertama Rina Wenda ditolak karena surat pindah. Giliran kedua mutiara hitam itu ditolak karena faktor usia.

Bahwasannya, alasan pertama bisa diatur dengan mengukur hak mutiara hitam itu sebagai manusia dan anggota warga negara? Maka persyaratan kedua yang menjadi alasan tidak akan terjadi lagi. Sungguh, mutiara kecil itu merasakan absurditasnya. Rina Wenda, Mutiara Hitam Gerakan Papua Mengajar Diterlantarkan. Sedih! (*)

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua

loading...

Sebelumnya

Dipaksa Menjadi Tersangka Pidana Pilkada, #SaveGubernurLukasEnembe

Selanjutnya

Gakkumdu, bagaimana kasus raskin Jayawijaya?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe