Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Gakkumdu, bagaimana kasus raskin Jayawijaya?
  • Minggu, 23 Juli 2017 — 19:08
  • 2390x views

Gakkumdu, bagaimana kasus raskin Jayawijaya?

Rasa heran dengan penegak hukum skarang ini. Sudah sejak lama Papua dipenuhi tikus-tikus berdasi. Parah skali. Sekarang ini baru sok serius menangani tikus berdasi? Bah, ini lucu.
Ilustrasi korupsi – tempo.co
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Oleh : Soleman Itlay

Kalo bisa Penyidik Penegak Hukum Terpadu (Gakkumdu) dorong kasus Raskin Jayawijaya lagi. Biar cerminan penegakan hukumnya itu terlihat murni. Kalo hanya sibuk dengan dugaan tindak pidana pilkada Tolikara yang melibatkan LE, nanti anak-anak kecil tertawakan hukum karena ulah penegak hukum. Kitong mesti lindungi martabat hukum sebagai negara hukum.

Sebenarnya kasus Raskin Jayawijaya ini tra perlu dibicarakan. Karna nanti juga tra akan ada hasilnya. Bosan bicara barang ini. Tapi sebagai masyarakat biasa yang merasa tra nikmati beras miskin ini, baiknya disinggung lagi dalam keramaian pro kontra dengan kasus LE yang sekarang sedang ramai. Siapa tau Gakkumdu dong tangani serius lagi, tong masyarakat juga senang. Tong siap-siap saja menghormati dan tepuk tangan buat penegak terpadu dong.

Rasa heran dengan penegak hukum skarang ini. Sudah sejak lama Papua dipenuhi tikus-tikus berdasi. Parah skali. Sekarang ini baru sok serius menangani tikus berdasi? Bah, ini lucu.

Bukan apa tapi istilah “lawan baca” akan tercermin di mata publik dan media massa. Tong harus menjunjung harga diri hokum. Nanti kalo orang luar dengar hukum diperlakukan begini dan begitu, mereka akan tertawa kitong smua.

Kalo mo serius, ya seriuslah tangani tikus berdasi itu. Jangan setengah serius, yang akhirnya hukum yang akan disalahkan. Tong sangat senang dan slalu mendukung kalian yang menegakkan hukum.

Tong su rasakan keberisikan tikus-tikus dong itu. Tong sendiri tra bisa usir tikus berdasi itu. Tong sangat mengharapkan kalian mencegat tikus-tikus berdasi yang ambil ampas makanan bakal sampai ambil seutuhnya.

Hajar dorang! Tikus-tikus poro yang berbulu bersih itu. Trausa takut-takut. Cukup tong mati kelaparan dan kesakitan. Sudah cukup tong menderita lama. Banyak tong pu sanak sodara dong mati karna tikus-tikus itu. Tikus-tikus berwatak tra tau malu itu, dari lama masuk ke rumah hak tanpa seizin kitong ini. Su banyak tikus-tikus licik itu mengambil smua barang yang tong juga bisa pake tuk hindari kelaparan dan sakit penyakit.

Sayang orang yang kasih kitong barang (negara). Dia kasih eka atau beras miskin tuk tong pake beli makan, air, pakaian, dsb. Dia kirim dari Jakarta ke Papua untuk kitorang ini pake itu smua. Tapi tikus-tikus berbulu hitam dan cokelat masih saja mo ambil barang utuh-utuh dan potong sebagian. Tong harap hukum bisa bantu kitong tangkap tikus itu dan kasih masuk di istana ato honai yang sering orang sebut penjara.

Jangan bunuh tikus-tiku itu. Tong juga masih sayang dorang. Bukan hanya kitong sendiri tapi “Sol Invectus” termasuk mama ini masih sayang dorang itu. Kitorang hanya tra senang dengan dong pu kelakuan licik. Tong tra senang karna ambil eka dan pake sembarangan. Pake barang jelas boleh, tapi eka yang dong pake terutama dari raskin itu untuk jalan-jalan, keliling kota, bersenang-senang, beli (naik) pesawat, beli (naik) kapal, beli kertas palsu untuk tambah-tambah huruf di belakang nama. Baru torang ini mo apa? Coba!

Hal seperti ini yang tong paling sial. Bayangkan tong ini tinggal di rumah saja sampe menderita dan sakit. Mo ambil obat di RSUD Wamena juga stok terbatas. Suster dengan dokter sering bilang beli sendiri di apotek. Tapi tong mo beli juga uang (eka) dari mana? Kalo ada tong beli tapi kalo trada uang tong pulang tangan kosong dengan sakit sakit lagi.

Kalo lihat dari catatan orang Jakarta itu, tong terima beras stiap bulan. Tapi tong di kota dingin, tra seperti itu. Kalo tra salah, dalam setahun terima raskin hanya enam kali. Tra tau enam bulan sisanya dikemanakan? Tong harap Gukkumdu bisa tanya ini. Tanya kepada beras (tra mungkin) kan? Tankap tikus-tikus lalu tanyakan. Bilang, ko (kalian) ada pake beras dalam enam bulan per tahun ka tra? Kalo mengaku atur aman saja.

Tapi kalo tra mengaku, masuk, geledah dan buka catatan di ruang kerja tikus-tikus berdasi. Tetapi sebagian berkas sudah kasih masuk bagian umum di KPK, Bareskrim Polri, Kejaksaan Tinggi Jakarta Pusat, Polda Papua, Kejaksaan Tinggi Papua, Kejaksaan Tinggi Wamena dan Polres Jayawijaya, DPR Papua dari tahun 2011. Kalau susah dapat bukti lagi, bertanya kepada om Google. Karena dorang dan dia menyimpan seluk-beluk jejak kotor tikus berdasi.

Teman-teman FPPMJ, FPPMKJ dan FPMJPT penah kasih masuk pengaduan di tempat-tempat yang disebutkan di atas. Bahkan pernah buat aksi damai di kantor DPR Papua, Kejaksaan Papua, dan kantor KPK Jakarta pusat. Bakal beritanya pun pernah dimuat serta disimpa oleh om Google. Sebelum tutup akses media sosial, tong sarankan Gukkumdu boleh cek. Baca juga kasus raskin Jayawijaya, bukti penegakan hukum tebang pilih di www.abloidjubi.com.  Baca juga, kenapa kasus raskin Jayawijaya tidak ditangani serius di www.kabarmapega.com.

Pada 18 April 2011, SPPNKJ lapor ke KPK dengan tembusan Jaksa Agung, Kapolri, UP4B, Kaukus Papua di Senayan Jakarta, Kejati Papua, Kapolda Papua, Kejaksaan Negeri Wamena, dan Kepolisian Resort Jayawijaya. Pada 15 Januari 2015, mantan Kapolres Jayawijaya, AKBP Adolof Beay pernah bilang begini; “sampai saat ini raskin kita tetapkan satu tersangka. Itupun dalam penyelidikan. Jadi, masih dikembangkan terus. Ini kita sudah gelar di Polda. Raskin itu ada dua, satu di Jayawijaya sendiri, satu lagi di distrik Yalengga. Jadi, dua ini masih dalam tahapan penyelidikan”, katanya, dikutip dari Jubi (15/01/14).

Tapi mo apalah torang ini? Smua sia-sia. Bicara begini dan begitu juga percuma. Bikin mulut cape. Kalo bicara kasus lain boleh pasti cepat. Kalo mo bilang kasus raskin ini su lama. Lagi-lagi mantan Kapolres Jayawijaya, Beay jelas-jelas menyatakan bahwa ada tersangka dari kass raskin. Heran skali sampe detik ini belum tuntas. Sedih nasib kasus ini tabuang jauh begini. Seandainya, kaka kapolres Beay di Wamena, pasti akan bantu memperjelas hak masyarakat dengan hukum.

Skarang mungkin ketua penyidik Gukkumdu, Irjen Boy Rafli Amar dan penegak lainnya juga lupa ka apa e? Mungkin karna fokus mengurus kasus LE sebagai tersangka dalam PSU pilkada Tolikara. Tong doakan biar kasus raskin ini juga penyidik dapat diungkit kembali. Membantu masyarakat yang menantikan keterbukaan proses hukum. Smoga, masyarakat di kota dingin mendapat kehangatan dalam waktu dekat. Itu pun kalo penyidik dong mau serius. (*)

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Jayapura.

loading...

Sebelumnya

Rina Wenda, Mutiara Hitam GPM yang diterlantarkan

Selanjutnya

FTH harus menjawab kebutuhan wisatawan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe