Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Contohlah Gus Dur dalam mensikapi persoalan Papua
  • Kamis, 27 Juli 2017 — 21:33
  • 2135x views

Contohlah Gus Dur dalam mensikapi persoalan Papua

Ia menjadi presiden Indonesia yang pertama kali menyampaikan permintaan maaf atas apa yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya kepada rakyat Papua.
Alm. Gus Dur saat bertemu dengan tokoh Papua, Alm. Theys Eluay di tahun 2000 - IST
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Manuel Kaisiepo, mantan Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia era Presiden Megawati berkisah tentang Gus Dur dan sikapnya terhadap persoalan Papua di Graha Gus Dur, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

Gus Dur, menurut Kaisiepo, saat menyetujui dilakukannya Kongres Rakyat Papua II pada tahun 2000 berhadapan dengan banyak pihak yang menentangnya.

"Ketika kongres itu mau diadakan, semua orang protes. Itu separatis. Tetapi presiden (Gus Dur) menyetujui kongres itu diadakan,” kata Kaisiepo, dikutip situs NU Online.

Tak sampai disitu saja. Gus Dur bahkan membantu penyelenggaraan kongres tersebut dengan memberikan bantuan dana.

Selanjutnya, Gus Dur menemui para penggagas kongres yang dianggap sebagai tokoh-tokoh separatis. Kyai NU ini langsung diprotes karena dianggap setuju dengan separatisme di Papua.

Namun Gus Dur menjawab tuduhan-tuduhan padanya itu dengan mengatakan rakyat Papua adalah saudaranya. Dan ia menegaskan bahwa sikapnya itu untuk membangun kepercayaan rakyat Papua pada pemerintah Indonesia.

Meski demikian, sikap Gus Dur pada kongres tersebut dianggap mendua oleh aktivis sosial almarhum George Aditjondro. Dalam satu wawancaranya dengan Jurnal Pasar Modal tahun 2000, tak lama setelah Kongres Rakyat Papua II berlangsung, ia mengatakan tak heran dengan sikap Gus Dur terhadap kongres tersebut.

"Saya tidak heran, karena sebelum jadi presiden pun, Gus Dur sering bersikap mendua, mungkin saking kepinginnya dia menyenangkan semua orang," jelas Aditjondro.

Ia mengungkapkan, kepada para pejuang kemerdekaan Timor Lorosae, serta gerakan solidaritas Timor Lorosae sedunia, Gus Dur seringkali menyatakan simpati dan dukungannya sehingga dia berkali-kali diundang untuk mengikuti seminar, konferensi, atau upacara peringatan di Dili. Pada saat pemberian Hadiah Nobel Perdamaian untuk Jose Ramos Horta dan Uskup Belo, Gus Dur juga diundang, dan Uskup Belo pun menyatakan terima kasih pada Gus Dur dalam pidatonya di Oslo, padahal Gus Dur tidak jadi datang.

Apapun itu, Gus Dur selalu dielu-elukan oleh gerakan pendukung HAM sedunia meski punya hubungan baik dengan tentara. Kemampuannya berkelit di antara karang-karang pendukung dan penentang hak-hak asasi manusia, memang mengagumkan.

Dalam konteks hubungan Indonesia dengan rakyat Papua, Gus Dur adalah sosok Presiden Indonesia yang berani mengakui kesalahan negara pada rakyat Papua. Ia menjadi presiden Indonesia yang pertama kali menyampaikan permintaan maaf atas apa yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya kepada rakyat Papua.

Mengaku salah tentu butuh keberanian besar. Dan itu hanya dimiliki oleh seorang pemimpin yang visioner, bukan seorang pemimpin yang menggemari pencitraan dirinya! (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kemiskinan anak tertinggi di Papua dan Papua Barat

Selanjutnya

Tak sesuai fakta persidangan, putusan terhadap Obby Kogoya dinilai rasis

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe