Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Ketika lonceng kematian pendidikan berbunyi
  • Selasa, 11 Oktober 2016 — 06:14
  • 3064x views

Ketika lonceng kematian pendidikan berbunyi

Pasalnya ada beberapa daerah yang tidak serius menangani pendidikan secara merata. Angka buta huruf meningkat, angka jumlah melek huruf melambung tinggi. Kekosongan guru Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Proses belajar mengajar di wilayah Pegunungan Tengah Papua seringkali terhambat oleh ketersediaan guru - Jubi/Victor Mambor
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Oleh : Frans IGN. Bobii

Di tengah ramainya membicarakan sumber daya manusia (SDM) di Papua, masih saja terlihat  berbagai keperihatinan, khususnya di bidang pendidikan. Walaupun Pemerintah Pusat mencari formala mengatasi keprihatinan yang menimpa persada Papua, namun tak kunjung terselesaikan. Sayangnya, saluran keprihatinan masyarakat jelata disumbatkan oleh segelintir manusia berdasi.

Ironisnya, masalah ini berimbas pada segala aspek di tanah Papua yang berbentuk burung kasuari, di ufuk timur Indonesia. Semisal, masalah pendidikan di era Otonomi Khusus (Otsus) yang memperihatinkan.

Pasalnya ada beberapa daerah yang tidak serius menangani pendidikan secara merata. Angka buta huruf meningkat, angka jumlah melek huruf melambung tinggi. Kekosongan guru Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kondisi ini mengambarkan adanya pendidikan semakin mundur di dalam bingkai Otsus. Sementara di era ini telah membuka ruang agar dunia pendidikan mendapat perhatian guna mengobati luka batin yang diderita warga Papua. Khususnya sejumlah daerah di pelataran gunung Papua. Di kala gencarnya dana Otsus masih saja ditemukan melambungnya angka buta huruf.

Kejanggalan dalam memajukan dunia pendidikan adalah ketidakpekaan para penyelenggara pendidikan di daerah. Persoalan ini merupakan wujud nyata cara para pemimpin yang tersistematis agar tercipta pembiaran, dan merupakan upaya pembunuhan karakteristik secara halus.

Adapun beberapa contoh yang menimpa mahasiswa Deiyai di beberapa kota studi. Asrama mahasiswa dibangun Pemerintah Kabupaten Deiyai sejak tahun 2013. Namun hingga kini belum terampung. Di kota studi Jayapura misalnya, pemerintah telah membangun asrama mahasiswa di Kampung Tiba-Tiba, Kelurahan Awiyo, Distrik Abepura. Hingga kini belum dilanjutkan pembangunannya. Apalagi kota studi Makassar, Sulawesi Selatan, yang dibangun sejak tahun 2012.

Pemerintah telah menganggarkan Rp 4 miliar lebih. Namun berbagai alasan, seperti izin membangun bangunan (IMB) dan sertifikat tanah menjadikan pembangunnya belum selesai.

Menyimak kondisi demikian, pemerintah tengah mengisahkan sederatan kisah bagi mahasiswa dalam menapaki masa depan demi daerahnya. Sebut saja asrama mahasiswa Deiyai di kota studi Jayapura dan Makassar. Sudah beberapa tahun belakangan menjadi bangunan tua. Entah apa alasan yang menimpa pemerintah dalam menindaklanjuti dua proyek yang bernilai miliaran rupiah ini.

Mahasiswa asal Deiyai di dua kota ini telah mengingatkan pemerintah dalam bentuk orasi sebagai wujud kepedulian mereka  dalam perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan.

Respons Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deiyai terhadap kedua bangunan ini tak kunjung dilanjutkan. Apa dan mengapa harus demikian? Apakah kekurangan dana atau memang ada dana tetapi digunakan demi kepentingan kegiatan lain?

Untuk menjawab dua pertanyaan ini agaknya sulit ditebak. Oleh pemerintah terdahulu masa pemerintah administratif penjabat bupati telah meletakkan dasar pembangunan demi pendidikan dengan nilai proyek yang besar sebagai tahap pertama. Namun, setelah Deiyai menjadi kabupaten definitif tidak dilanjutkan oleh pasangan bupati terpilih. Aneh bin ajaib jika kondisi serupa berlanjut dalam bidang lain.

Di tengah kemajuan pendidikan tingkat perguruan tinggi bila dibandingkan kabupaten-kabupaten yang  seumur dengan kabupaten Deiyai malah sudah beberapa asrama permanen di hampir semua kota studi dibangun. Persoalan lain, mungkin Pemkab Deiyai kini menutup mata dan membiarkan para mahasiswanya terus menjerit serta membebankan orangtua mereka  dalam menempuh pendidikannya.

Akibat ketidakpekaan Pemkab Deiyai dalam membangun asrama mahasiswa Deiyai di beberapa kota di Indonesia ini secara halus pemerintah sedang mencekik leher ekonomi masyarakat yang berpendapatan  di bawah garis kemiskinan. Lebih parah lagi pembangunan ekonomi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat untuk mendukung anak-anak mereka yang sedang kuliah tidak disiapkan.

Basis ekonomi yang mestinya diberdayakan, agar tidak membebani pemerintah atau sebaliknya. Pemerintah harus menyediakan fasilitas pendidikan bagi mahasiswa sehingga tidak membebankan masyarakat miskin. Sebab para mahasiswa yang sedang kuliah  kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu. Sekalipun keluarga mampu kebutuhan semakin mencekik leher sehingga anak-anaknya terlantar karena kebutuhan atau biaya pendidikan, kos-kosan (baca rumah indekos) dan keperluan lain.

Menarik komentar Alm. Pater Nato Gobay, Pr., ketua Yayasan Pendidikan dan Persekolah Katolik (YPPK) Tillemans Keuskupan Timika sebagaimana yang dilansir media harian Papuapost Nabire (23/4/2012) di kolom pendidikan menyebutkan, jika para pemimpin daerah di Papua tidak menyiapkan sarana-sarana pendidikan mulai dari SD hingga perguruan tinggi, maka saat itulah lonceng kematian pendidikan berbunyi. Artinya masa depan sumber daya manusia ditentukan kesiapan masa kini. Para mahasiswa harus memberikan perhatian khusus. Di era Otsus telah memberikan ruang besar kepada masyarakat Papua, agar dengan serius para kepala daerah terus menaruh perhatian demi kemajuan SDM.

Alm. Pater Nato juga berpendapat, walaupun pemerintah membangun infrastruktur, perkantoran yang mewah dan jalan yang bagus tetapi jika manusianya belum diperhatikan maka  pemerintah belum berhasil membangun. Sebab menurutnya, kemajuan pembangunan sangat ditentukan oleh indeks prestasi manusia (IPM).

Kondisi pendidikan dasar juga menjadi masalah krusial yang sulit terselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Keseriusan membangun dunia pendidikan dasar terkesan diombang-ambingkan oleh segelentir manusia bernaluri kepentingan sesaat ketimbang kepentingan masa depan manusia. Para guru tidak ditertibkan oleh atasan semua tingkatan (SD-SMA/SMK). Kekurangan guru menambah daftar persoalan pendidikan. Kemajemukan masalah pendidikan menggeserkan pentingnya dunia pendidikan.

Melihat kondisi demikian Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Deiyai Markus Mote, menyoroti kepincangan  pemerintah dalam memperhatikan dunia pendidikan. Salah satunya adalah pembiaran  pembangunan  asrama kota studi Jayapura dan Makassar yang dibangun Pemkab Deiyai yang hingga kini belum terselesaikan.

Pembangunan asrama Kota Jayapura sejak tahun 2012. Namun hingga saat ini belum diperhatikan. Akibatnya terlihat beberapa bangunan liar di Kampung Tiba-Tiba, Kelurahan Awiyo, Distrik Abepura. Ini hasil kunjungan mereka saat melihat langsung kondisi pembangunan tersebut, termasuk di Makassar. Asrama belum dibangun.

Pemerintah Kabupaten Deiyai harus menanggapi dan melanjutkan pembangunan kedua asrama yang hingga kini terkesan dibiarkan. Berbagai aspirasi mahasiswa telah kita rampung, bahkan berkembang di media sosial (Medsos). Hal ini memalukan dan bukti ekspresi generasi muda untuk mendapat perhatian guna membangun  kedua srama tersebut.

Sementara itu kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Deiyai Pieter Adii berpendapat  pembangunan asrama di Jayapura akan dilanjutkan pada tahun ini. Pemerintah Deiyai melalui dinas Pendidikan dan Pengajaran  telah menyiapkan dana sebesar dua miliar lebih.

Pembangunan asrama mahasiswa di Makassar terbentur dengan sejumlah masalah, yakni IMB, sertifikat tanah dan lain-lain. Karena itu, tahun ini pemda Deiyai fokus menyelesaikan tahapan bangunan asrama mahasiswa di kota Studi Jayapura, Papua. (*)

*Penulis adalah pemerhati pendidikan sekaligus tokoh Pemuda Deiyai, tinggal di Wagtehe

loading...

Sebelumnya

Diplomasi kecantikan ala Indonesia

Selanjutnya

Kuasa dan kolonisasi elite lokal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe