Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Perempuan & Anak
  3. “Saya adalah Bapak dan Mamah” dan “Nagosa” di Fest Film Papua
  • Sabtu, 29 Juli 2017 — 03:59
  • 1479x views

“Saya adalah Bapak dan Mamah” dan “Nagosa” di Fest Film Papua

Sebelum diputar perdana dalam Festival Film Papua (FFP) pada 7-9 Agustus di Merauke, Nelson (19) dan Christina, siswi kelas XII SMA, itu membeberkan sedikit kisah di balik karya mereka.
Nelson Lokobal dan Christian Kogoya saat memperlihatkan karya filmnya di Rumah Bina Wamena-Jubi/Islami
Islami Adisubrata
islami@tabloidjubi.com
Editor : Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal I Jubi
 
Jubi - “SAYA adalah Bapak dan Mamah” serta “Nagosa” (mama), dua film dokumenter karya Nelson Lokobal dan Christian Kogoya, menambah referensi judul perfilman tentang kehidupan sosial masyarakat asli di Lembah Baliem. 

Sebelum diputar perdana dalam Festival Film Papua (FFP) pada 7-9 Agustus di Merauke, Nelson (19) dan Christina, siswi kelas XII SMA, itu membeberkan sedikit kisah di balik karya mereka.

“Saya adalah Bapak dan Mamah” karya Nelson, bercerita tentang perjuangan Desiana Sorabut, murid kelas 6 SD, bersama dua orang adiknya, tanpa kedua orangtua mereka.

“Jadi, ceritanya, mereka sudah kehilangan mama dan bapa sejak Desiana masih di kelas 2 SD,” beber Nelson, di Wamena.

Dalam filmnya, Nelson menggambarkan kekuatan gadis sekecil Desiana yang terpaksa mengambil peran sebagai layaknya orangtua dalam suatu keluarga. Setelah duduk di bangku kelas 6 SD, gadis ini melakukan segala pekerjaan seperti para orangtua lain di kampungnya agar ‘api dapur-nya’ tetap menyala.

“Bangun pagi, dia harus ke kebun ambil sayuran lalu jual di kota… Siang hari sepulang sekolah, dia harus kembali ke kebun untuk tanam sayur dan hipere (ubi). Jaga kebunnya supaya selalu ada hasil…setidaknya ada sayur dengan hipere di dapur. Itu yang dia lakukan demi dia sendiri dan adik-adiknya,” ujarnya.

Bukan hanya mengurus kebunnya. Salah satu harta peninggalan orangtuanya adalah babi. Peternakan babi di pekarangan rumah. Sekali-kali, ia berjualan kacang rebus, hasil kebunnya, di sekolah.

“Nasib anak seperti Desiana sudah banyak di kota Wamena …kisah itu buat saya tertarik jadi saya buat film-nya,” jelasnya.

Film dokumenter lain yang patut ditonton adalah “Nagosa.” Film karya siswi kelas XII SMA itu mengisahkan tentang peran seorang perempuan-ibu-yang bekerja keras untuk menopang kebutuhan hidup keluarganya, bahkan untuk membiayai pendidikan sang-suami.

Tiap harinya, Nagosa ini harus menempuh 4 km dari rumahnya di pinggiran kota Wamena untuk ke pusat kota tersebut.

Christina berujar, “Tiap hari, ibu itu menyapu jalan di seputaran Kota Wamena. Dari pekerjaan itu, dia memperoleh upah dari pemerintah setempat. Di samping itu, ia juga menjual kayu bakar,” katanya.

Itulah kira-kira, ringkasan cerita di balik karya dua putra-putri asli Lembah Baliem, yang masuk dalam sederetan film dokumenter Papua pada FFP nanti.

5 film dari Wamena

Selain dua film di atas, masih ada tiga film lain yang diterima panitia FFP. Ence, fasilitator pelatihan workshop film yang juga panitia FFP menjelaskan tiga film lainnya bercerita tentang perjuangan melestarikan nilai budaya melalui musik lokal, relawan yang melawan stigma HIV-AIDS, dan sahabat nusantara yang hidup di jalan.

“Yang akan diputar di Merauke, Saya Adalah Bapak dan Mamah, Melawan Stigma, Maximum Impact, Nagosa, Sa Butuh Ko Pu Cinta. Dengan rata-rata yang ikut anak sekolah dan pemuda Jayawijaya,” kata Ence. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Media massa harus ciptakan pilkada aman dan damai

Selanjutnya

Pengawasan di era otonomi belum berjalan baik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe