Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Lapago
  3. Konflik dua marga: Siep vs Husage, pelaku pembunuhan diproses hukum
  • Senin, 31 Juli 2017 — 19:10
  • 1501x views

Konflik dua marga: Siep vs Husage, pelaku pembunuhan diproses hukum

Kedua Suku Husage diwakili oleh kepala suku perang Husinakmo Elopore dan suku Siep diwakili oleh kepala suku perang Eka Wit Elopore ketika bersalaman usai penanda tangan kesepakatan untuk berdamai di Polres Jayawijaya. – Jubi/Piter Lokon
Editor : Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Yahukimo, Jubi – Para tokoh masyarakat dari dua suku yang berkonflik: marga Siep dan Husage dari distrik Werima dan Mugi, Kabupaten Yahukimo, akhirnya sepakat untuk berdamai.

Dengan difasilitasi pihak kepolisian di Jayawijaya dan disaksikan anggota dewan tingkat daerah dan provinsi, serta tokoh gereja, adat, pemuda, dan mahasiswa, pada Sabtu (29/7/2017), para tokoh masyarakat dari kedua distrik bertikai itu menandatangani pernyataan sikap untuk berdamai di kantor Polres Jayawijaya, Jl. Syafidarwin.

Sementara itu, Polisi menetapkan Anton Siep (35) sebagai tersangka atas pemubunuhan Narius Esema (40) di Pasar Jibama, Jayawijaya,pada Rabu (19/7/2017). Semua pihak setuju tersangka diproses hukum positif.

Kapolres Jayawijaya, yang diwakili oleh Kompol Agus Hariadi, S.Sos, Kabag OPS, mengatakan masyarakat dari kedua belah pihak telah bersepakat untuk berdamai.  

“Masyarakat dari kedua belah pihak telah sepakat untuk berdamai dan tidak akan melakukan perang suku lagi dengan membuat surat pernyataan sikap berisi lima poin,” kata Kompol Agus Heriadi.

Masing-masing yang bertandatangan, kata Kompol Agus, adalah Eka Wit Siep yang mewakili pihak pelaku/tersangka dan Husinakmo Elopore yang mewakili keluarga korban.

Kompol Agus menjelaskan, Anton Siep dijerat pasal 338 KUHP Subsider pasal 351 tetang tindak pidana kejahatan menghilangkan nyawa orang.

Stop perang suku

Dua anggota dewan yang mewakil kedua marga yang bertikai, usai penandatangan kesepakatan damai, berpesan agar masyarakat menyerahkan setiap tindak pidana kepada pihak berwajib dan hindari main hakim sendiri, apalagi sampai menghilangkan nyawa orang.

“Saya pesan kepada masyarakat Werima dan Mugi, tolong jangan lagi perang. Sudah cukup kali ini saja. Hamba Tuhan sudah mendoakan, hari ini semua sudah sepakat berdamai. Maka itu, stop perang dan mari berpikir untuk pembangunan dan kemajuan daerah,” imbau Nehemia Elopore, anggota dewan dari Yahukimo.

Hal senada disampikan Lazarus Siep, anggota dewan dari tingkat Provinsi Papua. “Nehemia dan saya sebagai wakil rakyat ditengah resiko berat tetapi kami turun dan mediasi kedua distrik, suku ini… tolong bisa dengar kami dan buat kesepakatan berdamai, untuk itu kami dua menyampaikan terima kasih,” kata anggota komisi IV DPR Papua itu.

Sementara itu, Elpius Hugi, salah satu tokoh putra daerah, menyangkan aksi yang berujung pada hilangnya dua nyawa orang asli Papua tersebut. Ia mengharapkan tidak ada lagi aksi main hakim sendiri.

“Nyawa orang Papua sangat mahal nilainya, banyak orang Papua mati sia-sia karena sakit…itu kita menyesal sekali, baru kenapa harus saling perang… tolong, hentikan. Ini era pembangunan. Perang seperti ini tidak pantas, jangan lagi ada pembunuhan,” tegas Hugi.

Kronologi singkat

Anton Siep (35), dihadapan polisi dan para tokoh mengaku telah menikam Narius Esema (40) di salah satu rumah makan di Pasar Jibama, Wamena.

Siang itu, Rabu (19/7/2017), sekitar pukul 15.35 WIT, Anton sedang makan siang di warung. Tak lama berselang, Narius mendatangi Anton dan menanyakan Handphone, yang diambil (curi) Anton.

Anton mengaku, sebelumnya, mereka telah membahas masalah tersebut dan ia berjanji akan mengganti HP milik Narius.

Anton menjawab belum punya uang untuk mengganti HP baru. Mendengar itu, Narius menarik bajunya dan membawa Anton keluar warung. Narius meminta untuk hari itu juga diselesaikan di kantor polisi sektor Jibama namun ditolak Anton.

Anton mengaku tidak terima dan mengambil pisau lalu menikam Narius.

Narius Esema sempat dilarikan ke RSUD Wamena namun tidak tertolong. Narius meninggal dunia.

Akibatnya, aksi balas dendam dilakukan pihak keluarga Narius Esema ke kampung Anton.

Waka Polres Yahukimo, Kompol Johan Itlay mengatakan dalam aksi balasan itu menimbulkan satu korban jiwa (meninggal dunia) dari pihak keluarga Anton dan 10 orang luka-luka.

“Masalah ini ditangani oleh Polres Jayawijaya dan Polres Yahukimo. Dan, kedua belah pihak akhirnya memutuskan untuk berdamai dan Anton Siep diserahkan untuk menjalani proses hukum,” jelas Waka Johan Itlay. (*)

 

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pemkab Jayawijaya serahkan tujuh hektar untuk pembangunan RS vertikal

Selanjutnya

Perjuangan warga Wenput (Yahukimo) selama 15 tahun, ‘terbayar’ kini

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe