Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. FTH harus menjawab kebutuhan wisatawan
  • Selasa, 01 Agustus 2017 — 13:23
  • 1170x views

FTH harus menjawab kebutuhan wisatawan

Festival Teluk Humboldt (FTH) ke-IX akan diselenggarakan 2-7 Agustus 2017. Kegiatan yang diselenggarakan sesuai dengan agenda Dinas Pariwisata Provinsi Papua ini sudah berlangsung sejak tahun 2008. Tema  tahun ini adalah ‘Warna-Warni Pesona Wisata Port Numbay’.
Salah satu atraksi yang ditampilkan dalam Festival Teluk Humboldt - istimewa
Angela Flassy
angela@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Festival Teluk Humboldt (FTH) ke-IX akan diselenggarakan 2-7 Agustus 2017. Kegiatan yang diselenggarakan sesuai dengan agenda Dinas Pariwisata Provinsi Papua ini sudah berlangsung sejak tahun 2008. Tema  tahun ini adalah ‘Warna-Warni Pesona Wisata Port Numbay’.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw mengatakan festival ini merupakan pasar pariwisata, untuk mempromosikan potensi pariwisata Port Numbay.

Festival yang diselenggarakan di Pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan itu, setiap tahun menampilkan atraksi wisata budaya, keindahan alam, tari dan pentas-pentas seni asli Teluk Humboldt.

Memasuki tahun kesembilan penyelenggaraannya, seharusnya FTH sudah menjadi pasar pariwisata, dan bukan lagi sebagai ajang promosi.

Namun hingga saat ini FTH masih bergelut dengan tantangan menjawab berbagai keluhan pengunjung; yang mayoritas pengunjungnya masyarakat lokal. Keluhan-keluhan itu, misalnya, tempat yang sempit, molornya jadwal pementasan, jadwal pementasan seni yang tak jelas, dan penyelenggara yang tampak asal-asalan menyelenggarakan festival hingga sepi pengunjung. Bagaimana menjadikan ajang promosi jika sepi pengunjung?
Padahal dari materi, FTH tidak kalah menarik dengan festival-festival lain di Tanah Papua, seperti Festival Danau Sentani (FDS) di Kabupaten Jayapura, Festival Munara Wampasi di Biak, Festival Budaya Lembah Baliem di Jayawijaya, Festival Budaya Asmat di Kabupaten Asmat dan Festival Raja Ampat di Provinsi Papua Barat. Tapi mengapa sepi?

Wisata swafoto (selfie)

Promosi yang minim selalu menjadi kambing hitam. Penyelenggara lupa bahwa paradigma pariwisata kini berubah. Bagi generasi milenial, situs pariwisata tidak dinilai dari seberapa unik acara tersebut disajikan, tetapi bagaimana tempat atau acara wisata tersebut indah dalam sebuah bingkai foto di media sosial (medsos). 

Wisatawan tidak peduli betapa jauh dan sulitnya akses tempat wisata. Yang terpenting situs atau acara wisata tersebut menarik saat disajikan di medsos. Entah foto atau video, yang terpenting mereka mendapatkan banyak follower saat tayang di medsos. 

Contohnya wisata “Danau Love” di kawasan Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.Tidak ada hal yang menarik lainnya selain bentuk danau yang unik, sebab air danau tertampung pada cekungan berbentuk hati--simbol cinta. Keunikan bentuk danau tersebut dijadikan tempat selfie yang indah saat dipublikasikan di medsos. Wisatawan pun rela menempuh puluhan kilometer hanya untuk berfoto dan menampilkannya di medsos.

Bagaimana dengan Festival Teluk Humboldt? Soal materi, FTH memiliki materi yang unik--yang hanya ada di sini, di Kota Jayapura. Sebelas kampung asli menyimpan potensi wisata yang luar biasa. 

Mengapa kita mengecilkan potensi 11 kampung yang luar biasa ini dengan menggelar festival di tepi Pantai Hamadi, yang lokasinya sangat terbatas? Mengapa tidak membawa wisatawan mengunjungi kampung-kampung yang indah itu? 

Open House-lah. Setiap kampung mempersiapkan spot-spot foto yang menjadi keunggulan kampungnya. Mereka juga menyiapkan makanan dan minuman khas dari setiap kampung. Juga berbagai atraksi seni, mulai dari tari-tarian, kerajinan tangan hingga simulasi acara perkawinan dapat disajikan kepada wisatawan. Tak perlu berlama-lama. Dalam satu hari, dua kampung Open House. Wisatawan dapat memilih akan kemana. Lima hari selesai. 

Soal pelaksana, tak perlu khawatir. Setiap kampung memiliki struktur adat yang jelas, sehingga materi hingga keamanan bisa diserahkan langsung ke masyarakat kampung. Bagi masyarakat asli Port Numbay menggelar pesta adat secara swadaya adalah hal yang biasa.  

Di lain sisi, tidak banyak warga Kota Jayapura yang pernah mengunjungi kampung-kampung asli itu. Keindahan kampung-kampung asli itu pun jauh dari medsos. Padahal spot-spot indah untuk berfoto di sini tersedia tanpa batas. 

Lima kampung di dalam teluk seperti Kayu Batu, Kayu Pulau, Enggros, Tobati, dan Nafri dapat dijangkau dengan kapal wisata Pemkot Jayapura, yang baru dibeli itu. Tiga kampung di luar teluk, seperti Skouw Mabo, Skouw Sae, Skouw Yambe, ditambah Holtekam dan dua kampung asli yang berada di tepi Danau Sentani, Waena dan Yoka dapat ditempuh dengan jalur darat. 

Pemkot dapat mengerahkan armada bus miliknya untuk menjangkau kampung-kampung tersebut. Soal biaya, pemerintah dapat memberikan sedikit stimulant untuk penyelenggaraan acara di setiap kampung. Jumlahnya bisa saja setara dengan biaya yang dianggarkan untuk mendatangkan mereka ke Pantai Hamadi. 

Walaupun demikian, sejujurnya itu tak perlu karena masyarakat kampung di Port Numbay terbiasa berswadaya untuk acara adat. Tapi jika pemerintah mau lebih berhemat, FTH bisa dijadikan ajang kompetisi wisata antarkampung. Dijamin masyarakat lebih berswadaya untuk berlomba dan pemkot tak bakal mengeluarkan biaya sama sekali untuk FTH di masa-masa yang akan datang, kecuali untuk operasional kapal wisata. 

Dengan begitu, dunia akan mengetahui dan mengenal ramahnya masyarakat Port Numbay. Indahnya Tanjung Swaja. Teluk Kayu Batu yang luar biasa indah.Tenangnya Kampung Kayu Pulau yang selama ini hanya bisa dilihat dari Pantai Dok II. Masyarakat dapat berlomba memancing di Tobati dan Enggros. Atau ber-selfie di jembatan panjang atau tugu masuknya injil Kampung Nafri. Melihat beningnya Pantai Skouw sambil menikmati kelapa muda. Atau menikmati sepiring ikan gabus yang lezat di tepi danau sambil berfoto di Kampung Yoka. 

Itu semua sangat dimungkinkan, sehingga tujuan menjadikan FTH sebagai pasar pariwisata Port Numbay terwujud. Sedangkan promosinya akan gratis karena  dilakukan oleh wisatawan sendiri di medsosnya.

Faktor risiko yang perlu diperhitungkan adalah jumlah pengunjung. Panitia harus memperhitungkan jumlah pengunjung yang masuk ke dalam sebuah kampung. Terutama kampung yang memiliki dermaga. Pengunjung yang berlebihan dikhawatirkan akan merusak dermaga atau spot foto yang menjadi unggulan. Pengunjung juga membawa sampah. Karena itu, panitia harus menyediakan tempat dan petugas sampah agar kampung tak kotor pascafestival. Jika kedua hal tersebut diperhitungkan dengan baik, maka tak ada masalah.

Pada akhirnya, selepas FTH masyarakat kampung merasakan manfaat langsung festival bagi mereka. Mereka bukan lagi menjadi objek, tetapi subjek festival. Kemudian masyarakat kampung berbenah dan menjaga keamanan kampung agar wisatawan konsisten datang. Wisatawan pun mendapat kepercayaan, dan rutin mengunjungi kampung mereka meskipun tanpa pergelaran FTH. (*)

loading...

Sebelumnya

Jayapura sedang menuju kabupaten layak anak 

Selanjutnya

DPR: kalau PSU diundur, nanti pake uang yang mana lagi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe