Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. JUBI dan Ruang Bicara Orang Papua
  • Jumat, 16 September 2016 — 07:33
  • 914x views

JUBI dan Ruang Bicara Orang Papua

Latarbelakang sejarah ini maha penting untuk meletakkan secara tepat dimana peran dan keberadaan JUBI yang baru saja merayakan ulang tahun ke-15. Ulang tahun sedemikian barangkali bagi banyak orang dinilai biasa saja dan tidak ada istimewanya karena publik sekarang telah terbiasa dengan ruang kebebasan pers yang luas dan dimanjakan dengan pilihan media cetak, elektronik dan online yang tak terhitung jumlahnya. Namun, jika kita tempatkan JUBI dalam konteks dimana untuk lebih dari tiga dasawarsa ekspresi ke-Papua-an dan menyuarakan suara orang Papua dapat berujung pada maut, kesan kita akan berubah.
Ilustrasi
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Oleh Dr Budi Hernawan

Dalam ingatan kita media cetak di Papua telah banyak terbit dari masa ke masa. TIFA Irian, barangkali salah satu terbitan paling tua. Tabloid ini berasal dari stensilan buletin intern Fransiskan Serafijnse Tifa yang diterbitkan oleh kalangan misionaris Fransiskan Belanda yang berkarya di New Guinea (sekarang Papua) dan Australia pada tahun 1947. TIFA Irian kemudian bermetamorfosis menjadi TIFA Papua ketika nama Papua dikembalikan oleh Gus Dur.

Pada tahun 1984 terbit Majalah Kabar Dari Kampung (KdK) oleh Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa Irian Jaya (YPMD Irja). Dua terbitan yang bermarkas di Jayapura ini kiranya menjadi wadah masyarakat menyalurkan suaranya, khususnya di saat ruang bicara orang Papua di ranah publik begitu sempit. Dua media cetak tersebut setia menemani kalangan aktivis, akademisi, dan khususnya masyarakat Papua yang berada di bawah kendali Daerah Operasi Militer. Namun kita tak lagi mendengar kemana rimbanya.

Sejak reformasi 1998, media massa di Tanah Papua berkecambah. Radio swasta, TV Swasta dan juga media cetak bermunculan. Tak lupa media online. Berbagai media baru yang lahir di Papua menjadi penanda terbukanya ruang bicara publik yang selama lebih dari tiga dekade diberangus oleh rejim Orde Baru. Pemberangusan tidak hanya berupa pem-breidel-an seperti dalam konteks media nasional tetapi dalam konteks Papua, pembungkaman langsung terarah pada ekspresi ke-Papuan orang Papua.

Pemberangusan Grup musik Mambesak yang dimotori oleh Kurator Museum Uncen, Arnold Ap, menjadi indikator utama betapa ungkapan identitas kepapuaan sudah dipersepsi sebagai ancaman untuk rejim militer. Sang Kuratorpun kemudian dibunuh di lepas pantai pasir dua dengan kesan seakan-seakan sedang melarikan diri ke arah PNG. Akibat tindakan ini keluarga Ap mengungsi ke PNG sebelum akhirnya mendapatkan suaka di Belanda.

Latarbelakang sejarah ini maha penting untuk meletakkan secara tepat dimana peran dan keberadaan JUBI yang baru saja merayakan ulang tahun ke-15. Ulang tahun sedemikian barangkali bagi banyak orang dinilai biasa saja dan tidak ada istimewanya karena publik sekarang telah terbiasa dengan ruang kebebasan pers yang luas dan dimanjakan dengan pilihan media cetak, elektronik dan online yang tak terhitung jumlahnya. Namun, jika kita tempatkan JUBI dalam konteks dimana untuk lebih dari tiga dasawarsa ekspresi ke-Papua-an dan menyuarakan suara orang Papua dapat berujung pada maut, kesan kita akan berubah.

Berbeda dengan media mainstreampada umumnya, JUBI bukan berawal dari sektor bisnis media. Sebaliknya JUBI berasal dari gerakan non-profit di Papua yang bernama Forum Kerjasama (FOKER) LSM Papua dan hanya berbentuk media cetak sebagai corong advokasi dan kampanye FOKER LSM Papua pada 2001 yang kemudian disebut sebagai JUBI jilid 1. Generasi ini dipimpin oleh M Kholifan dan tim wartawan muda yang di kemudian hari mengisi posisi di media nasional maupun non-media seperti Frits Ramandey, Cunding Levi, Robert Vanwi, Agus Fakubun, Joost Mirino, Paskalis Keagop dan Mustofa. Namun jilid pertama ini tidak bertahan lama.

Pada 2003 lahir pula JUBI jilid kedua dibawah Pemimpin Redaksi Dominggus A Mampioper hanya bertahan selama setahun dan akhirnya vakum. Saat Septer Manufandu menjabat Sekretaris Eksekutif FOKER LSM, dia merekrekrut Victor Mambor, yang sekarang Pemimpin Redaksi JUBI. Setahun kemudian Victor Mambor ditugaskan mengelola JUBI. Inilah yang barangkali disebut JUBI Jilid Ketiga. Sejak tahun 2008 inilah, tabloid JUBI berubah wajah dari tabloid mingguan menjadi majalah online.

Sebelum bergabung ke JUBI, Victor merintis kariernya sebagai wartawan di Harian Pikiran Rakyat di Bandung pada 1996 meski sudah menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sejak 1995saat masih berada di bangku kuliah. Sekitar tahun 2003, Victor kembali ke tanah air Papua dan kemudian bergabung di Harian Bisnis Papua. Saat berkiprah di Harian ini dia pernah mendapat teguran keras dari redaktur karena memuat pemberitaan tentang Presidium Dewan Papua di halaman depan harian tersebut. Peristiwa ini menjadi salah satu alasan kenapa dia pindah ke FOKER.

Dua tahun mengurus JUBI di bawah FOKER, akhirnya pada 2010 JUBI dipisahkan dari FOKER menjadi organisasi sendiri. “Faktanya adalah NGO tidak bisa mengelola bisnis media karena tidak memiliki kapasitas yang diperlukan. Dan kemudian justru menjadi beban FOKER waktu itu” jelas Victor. Menurut Victor, JUBI memiliki misi untuk “mengangkat kenyataan hidup orang Papua ke publik”.

Perjalanan waktu 15 tahun bukan waktu yang mudah layaknya bisnis media lainnya di Indonesia. Secara prinsip JUBI membuktikan bahwa mengawinkan bisnis dan perjuangan advokasi kebebasan pers bukan hal yang mustahil. Lebih dari itu JUBI juga telah menjelma menjadi fakta bahwa orang Papua bukan hanya mampu tetapi bahkan telah berhasil mengembangkan bisnis media secara profesional tanpa meninggalkan idealisme. JUBI tidak hanya menjadi pembawa berita tetapi juga produksi informasi dan opini publik. Karenanya perluasan JUBI menjadi koran harian sejak 2014 tak lain merupakan kelanjutan alamiah dan visioner. Alamiah karena logika bisnis yang sukses selalu bermuara pada perluasan bisnis

Titik keberhasilan ini bukan hasil kerja semalam yang tanpa tantangan. Victor berkisah bahwa beberapa kali JUBI disusupi. “Sekitar tahun 2011, ada lima orang pura-pura mengaku sebagi jurnalis dan bergabung ke JUBI. Tapi yang tiga (orang) tidak lama. Yang dua ini tinggal. Satu mengaku dari Kopassus dan yang satu lagi dari BIN. Saya tahu itu karena dorang mengaku ke saya. Yang dari Kopassus pergi setelah 8 bulan. Yang dari BIN hanya tiga bulan saja” ungkap Victor. “Mereka bilang ke saya kalau ‘bos mau tahu lebih dulu apa yang akan terbit hari berikutnya”.

“Tapi sejak 2013, mereka ubah modusnya. Mereka mau tahu apa visi pribadi saya. Mereka mau tahu JUBI dapat uang dari mana” lanjutnya. Tantangan seperti ini barangkali biasa terdengar di Papua tetapi sekaligus menunjukkan bahwa ruang bicara Orang Papua terus menerus dikontrol dan dijepit. Tidak hanya itu, secara fisik aparat militer pernah menodongkan senjata mereka kepada Victor dan istrinya.

“Waktu itu (2013) saya baru pulang dari Noumea dan menyeberang dari sebelah [PNG]. Maitua jemput di batas. De yang bawa mobil. Tong su lewat imigrasi. Begini tiba-tiba ada tentara paksa tong ikut dorang. Tong tra mau. Tong jalan saja baru beberapa menit tentara lain lagi berdiri depan mobil dan arahkan senjata ke kita. Siap tembak ini. Sa pu maitua kaget sekali dan panik. Sa juga. Tapi sa langsung tarik rem tangan dan mobil berhenti. Kalau tidak, tidak tahu apa yang terjadi”.

“De teriak ‘buka kaca’! Maitua kasih turun kaca dan tentara itu kelihatan terkejut. Jelas sekali mukanya. Barangkali dia pikir nanti muncul wajah Papua. Tapi ini tidak. Maitua kan dari Riau. Jadi de punya nada suara yang sebelumnya arogan dan kasar tiba-tiba jadi sopan. Sa tanya ada apa. De bilang ada dugaan penyelundupan dari PNG. Tapi sa bilang, kalau begitu kenapa hanya mobil kami yang diperiksa. Ada 10 mobil lain bebas-bebas saja. De kelihatan bingung dan tong pergi saja. Barangkali de pikir ini perintah bos benarkah? Tapi peristiwa itu betul-betul mengancam” pungkas Victor.

Ancaman seperti itu bukanlah yang pertama dan terakhir. Barangkali tantangan itulah yang mematangkan JUBI baik sebagai bisnis media maupun sebagai advokasi ruang bicara orang Papua. Di sisi lain, umur ke-15 sebuah lembaga yang merupakan campuran antara bisnis dan idealisme menjadi tahun ujian juga. Lembaga ini diuji secara internal dari beberapa segi.

Pertama, kemampuan mematangkan perkawinan bisnis dan idealisme. Uji coba ini telah menjelma menjadi fakta sehingga perlu dikembangkan dengan mengembangkan manajemen yang handal. Di sini JUBI masih harus membuktikan apakah mampu melewati tahap eksistensi 25 tahun yang menjadi titik kritis berbagai organisasi non-pemerintah di tingkat nasional dan juga Papua. Artinya apakah setelah 25 tahun JUBI masih akan tetap idealis atau menjadi murni bisnis?

Kedua, JUBI tetap ditantang untuk mengembangkan wartawan-wartawan baru yang terampil dan profesional sehingga mampu terus menggerakkan dinamika kebebasan berekspresi dan kebebasan pers di luar Kota Jayapura. Ini merupakan tantangan tidak sederhana karena hingga kini produksi informasi terus datang dari Jayapura sementara sudut-sudut Tanah Papua lainnya kurang mendapat porsi perhatian yang sepadan. Konsekuensinya, apakah JUBI juga memikirkan usaha perintisan media serupa di Sorong, Wamena, Fak-fak, Merauke, Timika, atau Manokwari agar kota-kota tersebut juga mampu mewakili dirinya sendiri.

Ketiga, secara eksternal, JUBI akan terus menuai tantangan dan bukan mustahil ancaman-ancaman dari berbagai pihak yang tidak sepakat dengan gaya bicara JUBI. Visi awal dan idealisme JUBI terbukti sudah tidak disukai penguasa. Jika cara kasar, ternyata dirasa tidak efektif lagi, barangkali cara-cara yang lebih halus akan disodorkan entah dalam bentuk kerjasama-kerjasama penerbitan, hibah-hibah atau tawaran lain ke tingkat karyawan dan wartawan JUBI. Pola kooptasi inilah yang dapat melumpuhkan dan membungkam kembali ruang bicara Orang Papua yang sudah diperjuangkan oleh JUBI dan jaringan kerja baik di dalam maupun di luar Papua. Selamat Ulang Tahun JUBI. Semoga makin tangguh! Kinaonak!!(*)

 

Penulis adalah pengajar di Program Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta dan peneliti di Abdurahman Wahid Centre Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Selanjutnya

Refleksi HUT RI ke-71: Papua dalam Lensa NKRI

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe