Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. HET di Papua, Bulog : Tergantung selera dan kebutuhan 
  • Jumat, 04 Agustus 2017 — 12:18
  • 761x views

HET di Papua, Bulog : Tergantung selera dan kebutuhan 

Kepala Bidang Komersil Badan Urusan Logistik Papua dan Papua Barat, Bolu Ismail, mengaku pencabutan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Kemendagri adalah upaya yang cukup bijak sebab nantinya akan mempengaruhi pasar dalam hal pengadaan saat ditetapkan.
Penjual beras di salah satu kios di Pasar Entrop Kota Jayapura - Jubi/Sindung
Sindung Sukoco
sindung@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Kepala Bidang Komersil Badan Urusan Logistik Papua dan Papua Barat, Bolu Ismail, mengaku pencabutan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Kemendagri adalah upaya yang cukup bijak sebab nantinya akan mempengaruhi pasar dalam hal pengadaan saat ditetapkan.

"Khusus Papua dan Papua Barat terkait dengan hal ini ada pengaruhnya sebab  penduduk Papua dan Papua Barat lebih meletakkan masalahnya di selera dan kebutuhan," tegasnya kepada Jubi, Kamis (3/7/2017).

Iapun menegaskan bahwa masalah beras, masyarakat Papua dan Papua  Barat lebih melihat dengan realitas dimana didasarkan dengan ketersediaan komoditas tersebut.

Senada dengan itu, pedagang beras di Pasar Youtefa Jayapura, Amir, mengaku pihaknya tak ada masalah yang berarti dengan beras premium yang ramai dibicarakan di daerah barat Indonesia.

 "Nggak ada bedanya. Kami tidak terganggu dengan penentuan harga tersebut, sebab semua berpulang dengan ketersediaan beras tesebut di pasaran," ujar singkat.

Kepala Satuan Tugas Pangan yang juga Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jendera,l Setyo Wasisto, bersama Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), M. Syarkawi Rauf, menggelar jumpa pers terkait dugaan tindak pidana pengoplosan beras oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Lahat, Sumatera Selatan serta kasus serupa di Jawa. 

Menurut Syarkawi perlu penataan kembali mata rantai distribusi beras yang saat ini diindikasikan dikuasai oleh segelintir pengusaha. "Selain panjang distribusi beras juga tidak adil bagi petani," kata M. Syarkawi Rauf, di Markas Polda Sumatera Selatan, Jumat ( 28/7/17).

Sebelum tiba di pasaran, beras juga sering dipermainkan oleh oknum tertentu untuk meningkatkan jumlah keuntungan dengan berbagai cara , termasuk dioplos dan ditambah pemutih.

 "Khusus di Sumsel ini kasusnya unik karena berasal dari beras yang tak layak konsumsi," ujarnya. 

Dari penelusuran KPPU secara umum harga beras di pasaran tidak menguntungkan petani. Penikmat untung, katanya, hanya diraskan oleh segelintir pengusaha. 

Sedangkan petani tetap miskin dengan penghasilan tidak sesuai dengan jeripayah yang telah dikeluarkan.

"Adapula oligopoli ditengah mata rantai itu,"  katanya. (*) 

 

loading...

Sebelumnya

Masyarakat Waan akan dilatih membuat ikan asin

Selanjutnya

Siapkan 16 ribu liter, Pertamina uji coba Dexlite di Kota Jayapura

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe