Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Lapar, miskin, tereksploitasi: Peringatan bagi pekerja impor pertanian Australia
  • Jumat, 04 Agustus 2017 — 12:29
  • 799x views

Lapar, miskin, tereksploitasi: Peringatan bagi pekerja impor pertanian Australia

Silas Aru tidak pernah tahu bahwa hasil kerja seharinya memetik tomat sebagian akan menjadi makanannya sendiri. Pria Ni-Vanuatu itu datang ke Australia mencari kesempatan bekerja, demi membayar uang sekolah dan pendidikan lanjutan anak-anaknya.
Para pekerja pemetik buar pir dari Fiji, Vanuatu, Kiribati, dan Nauru di perkebunan buah milik Australia - IST
PINA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Silas Aru tidak pernah tahu bahwa hasil kerja seharinya memetik tomat sebagian akan menjadi makanannya sendiri.

Pria Ni-Vanuatu itu datang ke Australia mencari kesempatan bekerja, demi membayar uang sekolah dan pendidikan lanjutan anak-anaknya.
 
Tapi dia menghabiskan waktunya di negara itu dalam kerja terikat: lapar, tidak dibayar, dipindah-pindahkan dari satu ladang pertanian ke pertanian lain tanpa penjelasan, bahkan disiksa dan diancam ketika menuntut upahnya.

"Sudah seperti masa perbudakan saja," katanya kepada pengadilan federal Australia.
 
Selama enam bulan bekerja di pusat kota Childers di Queensland Tengah, setiap hari dia merasa lapar. Beberapa hari bahkan dia hanya makan apa yang dipetiknya, di hari kemudian kadang diberi sepotong roti untuk dimakan dan air untuk diminum.
 
Aru akhirnya tinggalkan Australia tanpa membawa uang, malahan terlilit hutang. Selama enam bulan bekerja, dia dibayar $150 saja. Tapi pengalaman Aru ini ternyata lazim dialami pekerja-pekerja impor (yang didatangkan musiman) lainnya.
 
Pada bulan Maret tahun ini, pengadilan federal Australia mendenda orang yang membawa Aru ke Australia, Emmanuel Bani, serta perusahaannya sejumlag AUD $ 227.300 dan memerintahkan Bani membayar hampir AUD $ 80.000 kepada 22 orang pekerja Ni-Vanuatu yang disponsorinya ke Australia, yang selama itu diupahnya rendah dan dieksploitasi.

Lebih dari separuh dari 22 orang itu bahkan tidak mendapat bayaran sama sekali, meski bekerja selama berbulan-bulan di sebuah peternakan di Queensland.

Dua puluh dua pekerja bersaksi di hadapan pengadilan bahwa mereka sering tidak diberi makanan seharian, dipindahkan dari satu pertanian ke pertanian lain tanpa peringatan, juga dipaksa tidur di semak-semak di pinggir jalan atau di kursi.
 
Mereka dilecehkan dan diancam ditangkap atau dideportasi jika meminta makanan dan minuman, atau bertanya tentang gaji mereka.

"Berhenti bertanya tentang gaji. Jika Anda terus bertanya, saya akan kirim Anda kembali ke Vanuatu," kata Bani kepada pekerjanya, serta mengancam akan menelepon polisi.

"Sulit membayangkan tindakan lebih mengerikan" dalam “eksploitasi serius terhadap pekerja asing yang rentan masuk ke Australia akibat janji-janji palsu", kata Hakim Michael Jarratt saat sidang putusan hukuman.
  
Sebagian besar tidak menerima upah, sementara di Australia mereka harus mengalami perlakuan mengerikan dari orang seperti Bani, yang telah menerima untung dari kerja keras buruh-buruhnya serta untung dari pemerintah Australia.
 
Tapi Bani sendiri oleh pemerintah Australia dinilai sebagai "majikan berizin" oleh dua departemen di Australia, dan diizinkan mensponsori pekerja musiman ke Australia. Perusahaan Bani lainnya, Pacific Crop Harvesting, terus mengiklankan tenaga kerja dari Pasifik secara online, menjanjikan "pekerja kontrak pertanian. Biaya Minimum. Hasil Maksimum".
  
Bani tidak mungkin membayar para pekerja tersebut atas kerja mereka, atau denda yang diwajibkan oleh pengadilan, kata Hakim Jarratt.
 
Sebagai bukti dihadapan forum penyelidikan parlemen Queensland mengenai kontrak tenaga kerja, Salvation Army mengatakan bahwa pekerja musiman sering kali "pada siang hari ... hanya memakan buah yang mereka petik dan bergantung pada makanan yang dikirimkan para sukarelawan dari gereja kami setiap Minggu . Para pekerja itu biasanya hanya makan jeruk mandarin, roti dan nasi, tidak ada lagi yang lain.
  
Selama penyelidikan tersebut, Salvation Army merujuk pada kematian seorang berkebangsaan Tonga, Sione "Vaka" Fifita (22) yang meninggal setelah jatuh sakit di asrama tempat dia tinggal selama kerja memetik buah di sebuah perkebunan. Dalam pengajuannya ke parlemen, Salvation Army mengatakan bahwa "dia ditinggalkan selama delapan hari tanpa perawatan medis di taman karavan ini".
 
Petugas rumah sakit Queensland sedang menyelidiki kematiannya.
 
Kontraktor yang mempekerjakan Fifita mengatakan: "Kami melakukan semua yang kami bisa untuk memastikan perawatan medis bagi Sione begitu dia sakit. Dia punya asuransi swasta dan dokter hanya 1,5 kilometer jauhnya, kami secara teratur membawa dia ke sana dan mereka juga bisa pergi sendiri."

Investigasi ABC sebelumnya mengungkap bagaimana pekerja pemetik buah di Victoria asal Fiji dan Tonga hanya dibayar $ 9 seminggu setelah penggurangan untuk akomodasi, penerbangan, visa, tempat tidur, makanan dan sarung tangan yang juga diambil dari gaji mereka.
 
Sudah 10 pekerja musiman meninggal dalam lima tahun program kerja Australia tersebut. Dan kematian itu, beserta keputusan hakim, penyelidikan parlemen, dan ekspos media telah menekan program kerja musiman pemerintah Australia ini, yang membawa para pekerja dari sembilan negara Pasifik dan Timor- Leste ke Australia untuk bekerja, terikat pada majikan, hingga sembilan bulan di industri yang diunggulkan, terutama hortikultura.
 
Namun program tetap berlanjut, 4.163 pekerja datang ke Australia tahun lalu, namun dugaan eksploitasi dan pelecehan terus bermunculan ke permukaan publik. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Gender dan HAM harus masuk perencanaan pemerintah Vanuatu

Selanjutnya

Samoa lobi jadi tuan rumah Olimpiade Pasifik 2019

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe