Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pilihan Editor
  3. Ini peluru tajam bos, bukan karet!
  • Jumat, 04 Agustus 2017 — 17:41
  • 3412x views

Ini peluru tajam bos, bukan karet!

“Ini peluru kaliber PIN 5,56. Bukan peluru karet. Jangan karang-karang bahasa. Itu peluru tajam. Ini buktinya ada,” jelas Elias Pakage, salah satu keluarga korban ketika ditanya Jubi di ruang UGD RSUD Deiyai, Rabu, (2/8/2017).
Selongsong peluru yang dikumpulkan masyarakat di sekitar lokasi insiden penembakan di Deiyai, Selasa (1/8/2017) - IST Inzet : Peluru kaliber 5,56 - IST
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Victor Mambor

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Pernyataan Kepolisian Daerah Papua, melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) yang menyebutkan oknum polisi dan Brimob hanya menembakkan peluru karet pada insiden Deiyai, Selasa (1/8/2017), yang dilansir beberapa media massa lokal dan nasional ditanggapi dengan emosional oleh keluarga korban penembakan, Elias Pakage.

“Ini peluru kaliber PIN 5,56. Bukan peluru karet. Jangan karang-karang bahasa. Itu peluru tajam. Ini buktinya ada,” jelas Elias Pakage, salah satu keluarga korban ketika ditanya Jubi di ruang UGD RSUD Deiyai, Rabu, (2/8/2017).

Elias yang mengaku sebagai mantan tentara itu menunjukkan bukti selongsong peluru yang dikumpulkan warga. Lanjutnya, jika di kemudian hari  ia diminta menunjukkan bukti tersebut, ia siap.

Peluru tajam kaliber PIN 5,56 dibuat oleh PT. Pindad Indonesia. Peluru jenis ini tergolong jenis sedang. Dikenal juga dengan sebutan peluru 5.56 NATO dan biasa digunakan sebagai amunisi senjata SS1.

Keluarga Yunior Pakage yang saat ini kritis dan dibawa ke RSUD Nabire meminta kepada pimpinan Polri agar jangan mengada-ada dengan mengeluarkan pernyataan yang tidak mendasar.

“Saya minta jangan karena punya mulut asal bicara tanpa melihat bukti. Itu tidak boleh. Ini benar-benar peluru tajam. Harus jaga nama baik institusi. Jika salah, katakan salah,” katanya.

Ia menyebut nama Kabidhumas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Kamal yang menurutnya ditipu oleh anak buahnya sendiri.

“Seharusnya Kabid Humas Polda Papua melihat bukti atau persoalan secara jelas baru bicara di media massa. Ia ditipu oleh anak buahnya di lapangan (TKP),” katanya.

Pernyataan Elias Pakage ini dibenarkan oleh Dokter Selvius Ukago, kepala UGD RSUD Deiyai. Dokter Ukago mengakui bahwa, dirinya telah melihat bukti yang dibawa oleh masyarakat ketika korban diantarkan.

“Peluru yang ada dalam tubuh korban saya belum lihat karena belum operasi. Tapi, saya lihat bukti peluru yang dibawa datang oleh masyarakat yakni kaliber PIN 5,56,” ungkapnya.

Tak hanya menyebutkan peluru yang digunakan adalah peluru karet, Kabid Humas Polda Papua ini mengatakan tidak ada korban yang tewas pada insiden tersebut. Kenyataannya, salah satu korban tewas karena luka tembak sebelum sempat mendapatkan perawatan medis.

Kapolda Papua, Inspektur Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengakui dalam bertugas anggota Polri dibekali dua jenis peluru yakni peluru karet dan tajam.

Hal itu dikatakan Boy Rafli usai gelar pasukan di lapangan Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura, Jumat (4/8/2017). 

"Senjata aparat itu sudah disita. Mengenai peluru tajam, petugas itu punya dua peluru, peluru karet dan peluru tajam. Yang terpenting, legalitas penggunaannya. Sah atau tidak. Dapat dipertanggungjawabkan atau tidak," katanya kepada wartawan usai gelar pasukan di lapangan Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura, Jumat (4/8/2017).

Korban dievakuasi ke Nabire
Empat orang yang kritis akibat kena tembakan peluru tajam oleh polisi dari Kepolisian Sektor (Polsek) Tigi dan Brimob setempat dirujuk ke RSUD Nabire. Keempatnya dirujuk ke Nabire karena pihak RSUD Deiyai kekurangan alat dan tenaga dokter yang menangani.

“Jumlah pasien yang masuk di sini ada delapan orang. Satu orang yaitu Yulianus Pigai (sebelumnya disenutkan Marius Pigai) sudah meninggal setelah tiba di RSUD 10 menit. Tiga lagi kritis jadi kita rujuk ke RSUD Nabire. Delianus Pekei (30), Yohanes Pekei (35) dan Yunior Pakage (27) serta Melianus Dogopia (30) yang dilarikan ke RSUD Paniai juga turut dirujuk,” ujar dokter Selvius Ukago kepada Jubi di RSUD Deiyai, Rabu. (2/8/2017).

Sedangkan lainnya, kata dia, hanya kena serpihan sehingga disebut luka ringan, maka pihaknya melakukan pengobatan (rawat) kepada mereka.
Lanjutnya, keempat korban dirujuk ke Nabire karena kena tambakan hingga terluka serius. Delianus Pekei kena di pipi kiri, lengan kiri atas, punggung, ada sekitar lima luka di tubuhnya.  Yohanes Pekei kena di lutut kiri tembus dari luar ke dalam dan beberapa tempat di bagian kaki serta pinggang. Yunior Pakage kena peluru di kaki kiri tembus dari luar ke dalam.

“Perlu ada operasi, pasti serpihan akan dikeluarkan,” jelasnya.

Evaluasi keberadaan Brimob di pegunungan
Terpisah, legislator Papua, Laurenzus Kadepa meminta Kapolri menarik anggota Brimob yang diperbantukan di wilayah pegunungan Papua.
Hal itu dikatakan anggota Komisi I DPR Papua bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM, menyikapi kejadian di Deiyai, Selasa (1/8/2017).

"Kami minta Kapolri segera mengevaluasi penempatan anggota Brimob di seluruh wilayah Papua, terutama daerah pegunungan. Segera evaluasi kinerja mereka," kata Kadepa, Rabu (2/8/2017).

Menurutnya, selama ini anggota Brimob cenderung bermasalah dengan masyarakat. Ia mengutip surat yang disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Deiyai, Yohanis Adii yang selain meminta penarikan Brimob di Deiyai, juga mengatakan anggota Brimob di Deiyai sering melakukan kegiatan yang meresahkan warga Deiyai seperti berjualan togel dan judi sabung ayam.

Permintaan sama juga disampaikan oleh Ketua Dewan Adat Paniai, John Gobay. Dewan Adat menurut Gobay meminta Kepolisian Daerah Papua dan Komnas HAM segera melakukan klarifikasi dan penyelidikan terkait insiden penembakan Selasa kemarin.

“Karena yang berkembang sekarang itu dua versi informasi dari  pihak aparat dan  pihak masyarakat,” jelas Gobay.

Ia mengatakan selama ini oknum anggota polisi maupun Brimob di wilayah adat Mee Pago terindikasi melakukan berbagai kekerasan, mulai dari Degeuwo, Paniai, Dogiyai hingga Deiyai.

“Kami juga minta Bupati Deiyai untuk melarang semua kontraktor mengunakan aparat sebagai pengaman perusahaan dan tidak lagi memberikan kegiatan kepada perusahaan yang tidak memberi manfaat kepada warga untuk melakukan  kegiatan di wilayah Tigi Kabupaten Deiyai,” ujar Gobay.  (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kemiskinan anak tertinggi di Papua dan Papua Barat

Selanjutnya

Maaf dalam HAM

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe