Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Mama Meryl Latuheru Betay: Saya Tidak Tahu Politik
  • Jumat, 04 Agustus 2017 — 18:08
  • 2877x views

Mama Meryl Latuheru Betay: Saya Tidak Tahu Politik

Meryl Latuheru Betay mengisahkan perjalanan hidupnya (foto: I Ngurah Suryawan)
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Oleh I Ngurah Suryawan

Dua Mama duduk bersebelahan dengan saya saat diskusi terfokus tentang Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Tindakan Pilihan Bebas (The Act of Free Choice) berlangsung di Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Mnukwar akhir Juli 2017. Keduanya tampak masih ceria, segar, meski semua rambutnya hampir memutih. Kedua mama itu adalah Meryl Latuheru Betay dan Esther Kereway. Keduanya adalah seorang pendidik yang menjadi pelaku sekaligus saksi dari pelaksanaan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) di Kabupaten Manokwari pada 29 Juli 1969.

Raut wajah kedua mama sudah memperlihatkan ketegaran jiwanya berjuang menghadapi kerasnya cobaan kehidupan yang mereka pernah lalui. Namun, sama sekali tidak ada kemurungan di wajah mereka. Pancaran raut wajahnya tampak jelas menunjukkan ketegaran kaum perempuan untuk berjuang dan melanjutkan hidupnya ke arah yang lebih baik. Berbicara menyampaikan pendapat masih disampaikan dengan jernih dan bersemangat. Terlihat jelas pondasi pendidikan sebagai seorang guru tidak terbantahkan. Tutur kata yang teratur dan jelas dalam menyampaikan pendapat menyiratkan dalamnya ilmu pendidikan yang tertanam pada diri mereka.

Meryl Latuheru Betay, mama ini berksempatan pertama kali untuk menceritakan pengalamannya ikut dalam Pepera di Manokwari tahun 1969. Mama Meryl kini usianya menginjak 70-an tahun dengan rambutnya yang sebagian besar mulai memutih dan menggunakan kacamata. Mama Meryl menggunakan baju batik Papua bermotif daun berwarna hijau tua dan variasi kuning dan putih. Ia bersemangat untuk hadir memenuhi undangan dan tiba lebih awal dibandingkan yang lainnya. Ia memandangi semua peserta diskusi dan menghela nafas sebelum memulai berbicara. Mama Meryl pun kemudian memegang alat pengeras suara dan mulai bercerita.

Orang Baru

Pada saat pelaksanaan Pepera 1969 di Manokwari, Ia sebenarnya baru beberapa tahun saja menginjakkan kakinya di Manokwari. Sebelumnya, ia menjadi guru di Fakfak sejak tahun 1961. Mama Meryl mengingat, tepat pada 7 September 1962, ia tiba di Manokwari. Saat itu Manokwari tidak seperti sekarang ini. Menyusuri jalanan utama masih banyak pohon-pohon di sekelilingnya. “Manokwari waktu tahun 1960-an itu masih hutan, banyak pohon besar-besar dan rumput-rumput tinggi,” ungkapnya.

Sebagai orang baru di Manokwari, Mama Meryl melanjutkan karirnya sebagai guru yang sebelumnya telah dilaluinya di Fakfak. Ia kemudian ditempatkan di SD Kota di Manokwari dengan kepala sekolahnya orang Belanda. Saat itu pelaksanaan pendidikan dikelola oleh orang Belanda dan digerakkan melalui guru-guru mereka dari mulai tingkatan pendidikan dasar dan menengah (sekolah guru dan pelayan umat).

Pondasi pendidikan dasar dan pendidikan agama yang sebelumnya sudah diletakkan oleh orang-orang Belanda terpaksa harus dihentikan. Orang-orang Belanda harus meninggalkan seluruh tanah Papua karena alasan politik, Mama Meryl mengingat saat datang ke Manokwari dari Fakfak, seluruh guru-guru adalah orang Belanda dan tidak ada yang perempuan. “Hanya saya sendiri yang perempuan,” kisah Mama Meryl kembali mengingat pada saat di SD Kota Manokwari hanya dialah yang perempuan.

Pada saat itu kegiatan di SD Kota berisi pelatihan bagi tenaga-tenaga guru perempuan yang dilakukan oleh guru-guru Belanda. Mama Meryl mengingat di SMP ada Ibu Yakoba Rumadas yang selain mengajar juga diperbantukan untuk mengurus asrama putri. Mereka tergabung dalam PSW (Pusat Studi Wanita) dibawah gereja yang mendidik guru-guru perempuan Papua untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu yang lebih baik. Pada saat itu, mama Meryl mengenang, salah satu kekuatan mendasar dari pendidikan yang dikelola oleh orang-orang Belanda adalah pola asrama yang begitu disiplin dan juga mendidik anak-anak Papua.

Saat bertugas di SD Kota, Mama Meryl menerapkan pengetahuan yang didapatnya dari guru-guru Belanda tersebut untuk melatih siswa perempuan Papua untuk membuat ketrampilan kerajinan tangan. “Saya berkeliling untuk kasi pelajaran-pelajaran kerajinan tangan di Manokwari ini. Mulai dari Sanggeng, Fanindi, Marthen Luther keliling kasi pelajaran itu,” ungkapnya.

Guru Indonesia

Sejak tahun 1964, mulailah kedatangan guru-guru dari Jawa yang dikerahkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengajar di Papua. “Banyak yang dari Sumatera, orang-orang Batak dorang,” jelas Mama Meryl. Ia kemudian mencontohkan istri dari Bapak Mulyono, salah satu bupati terkenal di Manokwari adalah orang Batak yang datang pada saat pertama kali di tahun 1964 tersebut. Dengan datangnya guru-guru dari Jawa, Sumatera dan berbagai daerah di Indonesia itu, maka dimulailah pengaruh pendidikan Indonesia masuk di Manokwari.

Mama Meryl menuturkan bahwa pada saat itu sedikit perempuan Papua yang bersedia menjadi guru. Jika sudah menjadi guru maka sudah dianggap terdidik dan terpandang. Pendidikan menjadi seorang guru sangat berat sehingga betul-betul membentuk karakter diri dalam kehidupan selanjutnya. Pada masa tahun 1965 tersebut, setelah selesai dari pendidikan guru harus bekerja terlebih dahulu selama lima tahun baru diperbolehkan untuk menikah. Hal itu juga yang harus dialami oleh Mama Meryl, sehingga tidak jarang ia bersama teman-temannya selalu digoda oleh laki-laki ketika berjalan. “Mereka (laki-laki) menggoda dan mengajak untuk menikah ketika kami berada di jalan. Katanya kawin yuk?” kisahnya.

Setelah lima tahun bekerja menjadi guru, Mama Meryl kemudian menikah secara adat saja. Berturut-turut ia kemudian melahirkan keturunan yaitu pada tahun 1966 lahir anak perempuan. Pada tahun 1968 anak laki-laki lahir melengkapi kebahagiannya bersama dengan keluarga besar. Terakhir pada tahun 1969 lahirlah anak laki-laki bernama Lukas. Nah, di tahun inilah getir kehidupan mulai menimpanya.

Diambil Orang Baju Hijau

“Saya masih ingat, saat itu dini hari jam satu malam di tanggal 20 Juli 1969. Pintu rumah saya diketuk-ketuk. Saat itu di luar rumah gelap. Saya melihat ada satu mobil berhenti. Ada orang turun dari mobil berbaju hijau dengan senjata,” kisah Mama Meryl. Saat itu usianya baru 24 tahun. “Saya sama sekali tidak tahu politik saat itu. Buta sekali,” lanjutnya.

Mama Meryl merasa tidak punya kesalahan sehingga memberanikan diri untuk bertanya. Ia menanyakan ada perlu apa dengan saya dan apakah sudah membawa surat tugas? Mendapat pertanyaan tersebut tentara yang membawa senjata itu tentu saja terkejut dan bilang tidak membawa surat perintah. Mereka hanya menjawab dapat perintah untuk membawa Mama Meryl. “Kami diperintahkan untuk membawa ibu bersama kami,” kata Mama Meryl menirukan pernyataan dari tentara yang menjemputnya itu.    

Mama Meryl mengisahkan, saat dipanggil dini hari tersebut, ia kemudian dibawa ke Gedung Pepera di Manokwari. Semua guru-guru yang dibawa oleh tentara bersenjata tersebut dikumpulkan di Gedung Pepera untuk diberikan pengarahan oleh Residen Sudarto. “Semua guru-guru yang hadir ditusuk-tusuk jidatnya setelah diberikan pengarahan oleh Residen Sudarto,” kisahnya. Pada saat di Gedung Pepera itulah ia melihat banyak tentara yang bertugas untuk berjaga-jaga.

Mama Meryl mengisahkan di depannya ada lima orang tentara dengan senjatanya masing-masing sedang rebut entah kenapa. Ia yang berada di depannya tentu saja ketakutan. Saat “diamankan” di Gedung Pepera itu, ia sering dijenguk oleh anak-anak sekolah untuk sekadar membawa makanan. Ia mengisahkan selama tahun 1969 itu berada di bawah rasa takut. (*)

 

Penulis adalah Staf Pendidik/Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.  

loading...

Sebelumnya

Ini peluru tajam bos, bukan karet!

Selanjutnya

Hollandia rugby borong juara di Timika

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe