Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Meepago
  3. Tragedi Deiyai berdarah, ini kronologi versi pihak perusahaan
  • Sabtu, 05 Agustus 2017 — 12:09
  • 2931x views

Tragedi Deiyai berdarah, ini kronologi versi pihak perusahaan

Nataniel Pekei, warga Oneibo yang juga saksi menyesalkan, hubungan antara pihaknya dengan perusahaan sangat akrab. Namun, katanya, mengapa pihak perusahaan sampai tega tidak membantu.
Kepala tukang pembangunan jembatan Oneibo dari PT. Putra Dewa Paniai, Yohanes Randa (kiri) saat berbincang dengan Kepala Komnas HAM Papua,Frits Ramandey, Sabtu, (5/8/2017) – Jubi/Abeth You
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Deiyai, Jubi – PT. Putra Dewa Paniai yang diduga menjadi dalang konflik di Meepago, sebab memanggil pihak aparat keamanan termasuk Brimob untuk mengamankan camp Oneibo, akhirnya berhasil ditemui Jubi bersama Komnas HAM Perwakilan Papua, Sabtu, (5/8/2017), di kantor perusahaannya Tigido, Deiyai.

Kepala tukang pembangunan jembatan Oneibo, Yohanes Randa (38) yang dimintai keterangan menceritakan, sekitar pukul 11.00 siang ia didatangi seorang warga, Nataniel Pekei, guna meminta bantuan mengantar Ruvianus Douw yang saat itu diangkat dari kali Oneibo karena tenggelam. Namun dirinya menolak membantu warga tersebut, dengan pertimbangan kondisi korban, sebab apabila korban meninggal di perjalanan, yang akan disalahkan nanti dirinya.
 
“Pukul 11 siang, satu pa guru (Nataniel Pekei) minta tolong Douw antar ke RS Madi di Paniai. Saya bilang kami tidak bisa antar pa guru, takut nanti ada apa-apa kami yang disalahkan. Minta maaf pa guru. Selang dua menit, ada dua pemuda minta berhenti kerja karena ada yang meninggal. Satu jam kemudian ada mobil Hilux datang, tapi tidak tahu antar siapa. Dari camp kami dengar ada menangis-menangis,” jelas Yohanes Rande.

Menurutnya, saat itu ada sembilan karyawan dan dua anak kecil. Lalu dia pulang ke kantor perusahaan yang berlokasi di Tigidoo. 

Lanjutnya, sekitar pukul 15.00 WP, karyawannya menginformasikan ada masyarakat sedang berbuat onar dan menghancurkan camp. 

“Setelah itu saya bersama tiga orang Brimob PAM turun ke Oneibo, namun tidak sampai camp karena banyak warga,” jelasnya. 

Karena situasi tidak mendukung, katanya, ada lemparan batu dan potongan kayu berhamburan, mereka pelan-pelan mundur dan pulang menuju pos Brimob. 

"Saya panggil delapan orang Brimob untuk melakukan pengamanan di sana (camp Oneibo), lalu kami datangi Polsek, juga ada delapan orang yang ikut kami turun kembali ke camp pakai enam mobil, tiga truk, ada dua sabhara, dan satu mobil perusahaan. Sampai di tikungan kecil dekat camp, kami mundur lagi karena situasi tidak baik, saya tetap dalam mobil,” katanya. 

Ia mengaku, saat itu aparat turun dari mobil, tapi masyarakat tetap lempar batu dan kayu. Upaya terus dilakukan untuk meredakan situasi tapi tidak direspons. 

“Saya lihat ada warga pegang panah. Tapi tidak lempar, hanya batu dan kayu yang dilempar ke arah mobil kami,” katanya. 

Tiba-tiba, katanya, terdengar bunyi tembakan senjata. 

"Bunyi sekitar lima menit. Masyarakat langsung bubar, lalu kami putar balik. Saya tidak lihat berapa yang kena tembakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, semua Brimob yang turun bersenjata dan pakai rompi, sedangkan polisi ada yang pegang senjata dan ada yang tidak. 

“Kami balik ke Polsek, polisi mintai keterangan juga sama saya,” ucapnya.

Sementara terkait keputusan untuk tidak mengantar korban tenggelam, ia mengaku, itu keputusan pribadi bukan standar perusahaan. Karena dirinya melihat kondisi pasien sudah tidak berdaya. 

“Saya khawatir jangan sampai meninggal di tengah jalan, nanti saya yang disalahkan, itu pikiran utama saya,” katanya.

Nataniel Pekei, warga Oneibo yang juga saksi menyesalkan, hubungan antara pihaknya dengan perusahaan sangat akrab. Namun, katanya, mengapa pihak perusahaan sampai tega tidak membantu.

“Kami di sini sangat akrab dengan perusahaan. Biasa saling membantu, anak-anak bantu angkat besi, angkat semen. Juga saling kasih rokok. Tapi saat itu tidak tahu kepala tukang ini pikir apa, sampai tidak mau tolong, padahal pertolongan pertama harus lakukan. Kan, masih ingat jelas kata P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan),” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kantor BRI di Enarotali terbakar

Selanjutnya

Akhirnya, timsel umumkan enam besar Panwas Paniai dan Deiyai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe