Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Bahasa Kepulauan Cook perlu diajarkan ke generasi baru
  • Senin, 07 Agustus 2017 — 07:03
  • 1045x views

Bahasa Kepulauan Cook perlu diajarkan ke generasi baru

Melalui forum itu Pastor Tauria ingin mengatakan bahwa tidak bisa berbahasa reo bukanlah masalah, selama masih ada kebanggaan dan rasa kepemilikan dengan Kepulauan Cook, memelihara hubungan dengan Kepulauan Cook, dan mengalir darah Kepulauan Cook dalam tubuh, “maka kalian adalah orang Kepulauan Cook,” kata dia.
Stand makanan tradisional Kepulauan Cook di Whitireia Polytech di Porirua, Wellington - RNZI/ Tim Glasgow
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Wellington, Jubi – Menandai perayaan Pekan Bahasa–bahasa Kepulauaan Cook di Selandia Baru minggu ini, ternyata masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan bahasa ini tidak punah begitu saja.

Te epetoma o te reo Māori Kuki Airani atau Pekan Bahasa Kepulauan Cook dilaksanakan dengan tujuan untuk membangun kesadaran terhadap tiga bahasa dan berbagai dialek yang berasal dari negara ini.

Walaupun populasi di Kepulauan Cook sendiri berjumlah dibawah 14.000 jiwa, namun ada sekitar 62.000 orang yang menyebut diri mereka sebagai orang dari Kepulauan Cook yang sekarang berdomisili di Selandia Baru.

Sejumlah kegiatan budaya telah diselenggarakan di Selandia Baru sepanjang minggu ini.

Politeknik Whitireia di Poriru, Wellington, menjadi lokasi pusat beberapa kegiatan untuk merayakan pekan ini.

Jean Mitaera, kepala pekerja sosial di Whitirea yang juga menjabat sebagai anggota panitia untuk Pekan Bahasa Kepulauan Cook berkata rangkaian kegiatan ini memberikan kesempatan bagi semua yang berasal dari Kepulauan Cook untuk kembali berhubungan dengan budaya mereka, serta memperkenalkannya dengan penduduk Selandia Baru.

“Apapun jenis bahasa pasti memerlukan teman, jadi kita perlu lebih dari satu orang dari Kepulauan Cook untuk membantu (lestarikan) bahasa ini dari kepunahan serta memeliharanya, kita perlu orang lain,” ujar Jean.

Dia berkata untuk mendorong orang Kepulauan Cook di Selandia Baru  dapat berbicara bahasa mereka sendiri adalah perjuangan yang berat.

“Kebanyakan dari mereka tumbuh tanpa menggunakan bahasa reo, saya rasa ini berakar dari pengaruh kolonial dimana bahasa inggris adalah bahasa pendidikan dan pekerjaan.”

Meskipun Mitaera lahir di Wellington, tapi dia dibesarkan dan dibiasakan dengan bahasa Maori-Kepulauan Cook, karena itu adalah bahasa utama yang digunakan di rumahnya serta di gereja yang dia hadiri.

“Sering kita temui banyak orang dari Kepulauan Cook bertumbuh di sekitar lingkungan gereja, terutama gereja-gereja Protestan, sehingga bahasa pertama dari gereja yang mereka hadiri akan menjadi bahasa ibu bagi mereka yang menghadirinya. Gereja menjadi tempat untuk belajar dan berlatih bahasa,” kata dia.

Menurut Mitaera memperkenalkan Bahasa Reo ke rumah-rumah dan kehidupan sehari-hari itu sangat penting.

“Menurut saya cara terbaik untuk menelihara bahasa reo adalah menggunakan pendekatan berbasis rumah tangga,  sehingga keluarga-keluarga mengerti pentingnya penggunaan bahasa ini dalam kegiatan sehari-hari untuk membantu membiasakannya dan menambah pembendaharaan kata. Jadi kitamembangun pembendaharaan kata dari kegiatan sehari-hari daripada mempelajarinya di sekolah.”

Pastor Teremoana Tauira Maka  dating ke Politeknik Whitireia dan menyaksikan anak-anak perempuannya berpartisipasi dalam pertunjukan tari hula.

Tauira Maka lahir di Kepulauan Cook tapi bermigrasi ke Selandia Baru pada tahun 1992.

Generasi muda Kepulauan Cook di Selandia Baru memiliki kerinduan untuk belajar tentang adat dan budaya mereka, tuturnya.

“Kita disini tidak memiliki kesempatan mengalami budaya asli Kepulauan Cook. Kita jauh dari Kepulauan Cook, jauh dari adat dan budaya kami, dirampas dari tanah kami, jauh dari lokasi sejarah, dan kami berusaha untuk menciptakan sendiri pengalaman yang sama disini,” kata dia.

Menurut pengamatan Tauria, oleh sebab itulah orang-orang Kepulauan Cook di Selandia Baru semakin haus akan bahasa mereka, “dan semakin haus akan budaya asli mereka karena di kampung halaman mereka pengaruh ini sangat kuat, tetapi ketika jauh dari rumah, kami merindukan suasana itu. Cerita-cerita, bahasa dan dialek, budaya, tari-tarian,” ujar Pastor itu.

Dia juga berkata bahwa generasi muda Kepulauan Cook di Selandia Baru merasa sulit membangun hubungan dengan warisan budayanya sendiri.

“Saya pernah terlibat dalam debat di media sosial Facebook. Banyak pangguna forum itu berpendapat ketidakmampuan berbicara te reo menunjukkan bahwa kalian bukan dari Kepulauan Cook. Kemudian respon saya, meskipun kalian tidak dapat berbicara bahasa reo selama darah yang mengalir dalam tubuh kalian adalah darah keturunan Kepulauan Cook, kalian adalah orang Kepulauan Cook,” tegasnya.

“Tidak penting apakah kalian seperempat, penuh, atau setengah Kepulauan Cook, mereka tidak bisa mengambil itu dari kalian. Mereka bisa mengambil reo dari kalian, mereka bisa mengambil budaya kalian, tapi mereka tidak bisa mengambil darah kalian,” ujarnya lagi.

Melalui forum itu Pastor Tauria ingin mengatakan bahwa tidak bias berbahasa reo bukanlah masalah, selama masih ada kebanggaan dan rasa kepemilikan dengan Kepulauan Cook, memelihara hubungan dengan Kepulauan Cook, dan mengalir darah Kepulauan Cook dalam tubuh, “maka kalian adalah orang Kepulauan Cook,” kata dia.

Jean-Marie Akav, seorang siswa berusia 19 tahun ikut menyajikan makanan tradisional di Whitireia termasuk chop suey, donat, dan nasi, sepanjang pekan ini.

Dia lahir di Selandia Baru. Meskipun tidak dapat berbicara Bahasa Maori-Kepulauan Cook, dia memiliki kerinduan untuk mempelajarinya.

“Saya sangat ingin mempelajari budaya, mempelajari bahasa, agar kami dapat berbicara dan bercakap-cakap dengan orang tua leluhur kami. Alangkah baiknya bila kita bisa  mempelajari budaya kita sehingga bisa membaginya dengan mereka yang lebih muda,” ujarnya.(Elisabeth C. Giay)

loading...

Sebelumnya

PBB prihatin tidak ada perempuan di Parlemen terpilih

Selanjutnya

French Polynesia lebih keras melawan ekspansi tambang fosfat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe