Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Deklarasi Brisbane: Usaha memahami krisis lingkungan di Pasifik
  • Selasa, 08 Agustus 2017 — 20:16
  • 1204x views

Deklarasi Brisbane: Usaha memahami krisis lingkungan di Pasifik

Inti dari rekomendasi ini adalah pentingnya membangun mekanisme dialog yang berkesinambungan antara negara-negara Oceanic, untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam bukan hanya tentang budaya masing-masing tapi juga hubungan masyarakat dengan lingkungan.
Krisis lingkungan di Pasifik mengancam budaya Pasifik.- Christopher Johnson/Wikimedia Commons, CC BY-SA
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Brisbane, Jubi - Tindakan apa yang perlu diambil sebagai solusi berbasis alam untuk menjawab tantangan yang paling mendesak terhadap kelanjutan Oceania? 

Inilah pertanyaan yang diutarakan dalam Deklarasi Brisbane yang dirilis baru-baru ini. Deklarasi ini mengangkat isu layanan dan keberlanjutan Oceania.

Deklarasi ini disusun setelah sebuah forum yang dilaksanakan awal tahun ini di Brisbane selesai. Forum ini melibatkan peneliti, politisi dan para pemimpin komunitas, yang menyatakan bahwa Australia bisa berperan lebih banyak bagi masyarakat di kepulauan Pasifik, lebih dari sekedar penanggulangan bencana seperti topan.

Forum tersebut memberikan banyak pencerahan terutama bagi orang-orang Australia.

Beberapa tahun terakhir, banyak artikel (beberapa di antaranya di The Conversation) menulis tentang hilangnya pantai, kampung, dan pulau di wilayah ini, termasuk di Kepulauan Solomon, Catarest, Atol Takuu dan Selat Torres karena naiknya permukaan laut. Namun forum di Brisbane menunjukkan betapa sedikitnya orang Australia mengerti tentang apa dampak dari peristiwa-peristiwa ini.

Selama sepuluh tahun terakhir, Australia telah mengalami serangkaian peristiwa cuaca ekstrim, termasuk Topan Debbie, yang menghantam Queensland, ibu kota Brisbane) ketika forum tersebut sedang berlangsung .

Mereka yang terkena dampak bencana ini secara langsung bisa mengerti betapa dalamnya trauma emosional yang menyertai hancurnya hidup dan harta benda.

Di forum tersebut, orang-orang dari beberapa negara Pasifik bercerita tentang bagaimana tragedy naiknya permukaan laut mempengaruhi hidup, budaya dan alam bagi orang-orang Kepulauan Pasifik.

Salah satu cerita, yang kemudian menjadi fokus drama Mama’s Bones, mengisahkan derita emosional yang dalam karena orang-orang kepulauan harus pindah dari tanah yang menyimpan jenazah leluhur mereka.

Dalam forum itu juga ditayangkan film There Once Was an Island, yang merekam hidup orang-orang yang tinggal di Atol Takuu dalam usaha mereka menghadapi dampak naiknya permukaan laut bagi hidup komunitas mereka yang terdiri dari sekitar 600 orang.

Film ini dirilis tahun 2011 dan menunjukkan bagaimana orang-orang Pasifik sudah mulai berjuang melawan tekanan untuk pindah, bahaya dari pindah ke rumah baru yang jauh, dan perpecahan keluarga dan komunitas yang menyakitkan karena peristiwa ini.

Budaya mereka jelas-jelas sedang terancam, tapi banyak orang yang direkam di film ini berkata bahwa mereka hanya menerima sedikit  bantuan pemerintah atau internasional. Anggaran Australia untuk bantuan internasional sejauh ini semakin berkurang.

Seperti ditekankan Stella Miria-Robinson, yang mewakili Pacific Islands Council di Queensland, kepada peserta forum, kehilangan yang dihadapi orang-orang Pasifik sebagian disebabkan gaya hidup orang-orang di negara maju yang banyak menghasilkan emisi.

Peran Australia

Apa yang bisa dilakukan orang Australia? Mendorong debat terkait bantuan dan kebijakan imigrasi merupakan langkah penting.

Seperti diungkapkan peneliti kebijakan public Susan Nicholls dan Leanne Glenny, sehubungan dengan kebakaran hutan Canberra tahun 2003, orang Australia lebih memahami respon terhadap krisis yang berhubungan dengan perbaikan infrastruktur, daripada pendekatan yang lebih dari itu: dukungan untuk pemulihan psikologis mereka yang menjadi korban.

Senada dengan itu, para peserta forum di Brisbane mencatat bahwa bantuan Australia untuk negara-negara Pasifik biasanya berhubungan dengan infrastruktur, dengan bantuan dari konsultan yang berbasis di Australia.

Ini berarti bahwa masalah-masalah non-infrastruktur , penyediaan pendidikan dan layanan psikologis yang sesuai bagi orang-orang kepulauan,  kurang didukung.

Deklarasi Brisbane meminta pemerintah-pemerintah, lembaga-lembaga bantuan, akademisi, dan organisasi pembangunan internasional untuk lebih baik dalam pekerjaan mereka.

Dalam serangkaian rekomendasi yang ditujukan untuk memelihara ekosistem dan kehidupan masyarakat kepulauan Pasifik, deklarasi ini mengajak badan-badan untuk secara aktif, ‘menggabungkan pengetahuan lokal dan pribumi’ dalam rencana-rencana mereka.

Inti dari rekomendasi ini adalah pentingnya membangun mekanisme dialog yang berkesinambungan antara negara-negara Oceanic, untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam bukan hanya tentang budaya masing-masing tapi juga hubungan masyarakat dengan lingkungan.

Kunci dari dialog in adalah pengembangan bahasa bersama agar dialog bisa dibangun tentang makna sosial, budaya dan ekonomi lingkungan bagi masyarakat; serta membangun kemampuan semua bangsa untuk terlibat dalam dialog yang produktif (baik berbicara maupun mendengar).

Kemampuan ini memerlukan tidak hanya pelatihan untuk mengembangkan keterampilan yang relevan, tetapi juga pendirian jaringan yang relevan, pengumpulan dan pembagian informasi yang dibutuhkan dan pengakuan akan pentingnya pengetahuan lokal dan pribumi.

Terpisah dari pengertian bahwa orang-orang Australia harus belajar untuk memahami posisi orang-orang di Pasifik, jelas bahwa mereka, karena tantangan yang telah mereka hadapi,  memiliki wawasan yang berharga bagi Australia dalam pengembangan kebijakan, tatacara pemerintahan dan pendekatan manajerial dalam usaha untuk memenuhi United Nations Sustainable Development Goals.(The Conversation/ L.J. Giay)

*Ditulis oleh Kate Auty, Simone Maynard dan Steven Cork

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Nasib tambang nikel Vale di Kaledonia Baru tidak pasti

Selanjutnya

Krisis obat-obatan di Pulau Bougainville berlanjut

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe