Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Nyalakan 1000 lilin, begini sikap warga Deiyai untuk tragedi 1 Agustus
  • Kamis, 10 Agustus 2017 — 04:06
  • 959x views

Nyalakan 1000 lilin, begini sikap warga Deiyai untuk tragedi 1 Agustus

“Pemuda merupakan pemberontak kebenaran di negerinya sendiri. Maka, kami (pemuda Deiyai) siap kawal kasus hingga tuntas,” tegas Mote.
Aksi 1000 lilin untuk Deiyai. - Jubi/Doc
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Deiyai, Jubi – Usai gelar acara nyalakan 1000 lilin untuk korban tragedi 1 Agustus di kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai, Papua, berbagai komponen warga Deiyai nyatakan sikap untuk kasus tersebut

Ketua Tim Peduli Kemanusiaan di Deiyai, Yulianus Mote mengatakan, tragedi 1 Agustus merupakan kasus pelanggaran HAM internasional.

“Pemuda merupakan pemberontak kebenaran di negerinya sendiri. Maka, kami (pemuda Deiyai) siap kawal kasus hingga tuntas,” tegas Mote.

Ia meminta kepada seluruh pemuda yang ada di Deiyai, bersatu melawan berbagai praktik ketidakadilan di Papua.

“Kami juga meminta kepada Pemda dan DPR Deiyai agar fasilitasi keluarga korban bersama tim ini hingga kasus ini tuntas,” minta dia.

Ia mendesak kepada Pemkab dan DPR Deiyai, membuka ruang diskusi umum agar semua warga Deiyai bisa menyampaikan apa saja terkait tragedi 1 Agustus.

“Selain itu, agar warga bisa sampaikan keluhan yang selama ini tidak tersampaikan. Agar, ke depan bisa menjadi perhatian bagi Pemda dan DPR Deiyai,” katanya.

Kepala suku besar Kabupaten Deiyai, Frans Mote mengatakan manusia itu milik Tuhan Allah, pemerintah dan adat. Tragedi 1 Agustus yang merenggut nyawa Yulianus Pigai merupakan duka bagi seluruh warga Deiyai.

Kata Frans, prosesnya sudah diserahkan ke ranah hukum. Maka itu, ia meminta kepada seluruh komponen warga di Deiyai agar jangan dulu buat aksi sebelum duka itu berakhir.

Sebenarnya, kata Frans lagi, sesuai hukum adat, persoalan yang terjadi mesti dibawa ke meja adat. Karena, pemerintah sudah akui hukum adat. Namun, terkait tragedi 1 Agustus, ia berjanji akan terus kawal kasus ini bersama masyarakat adat Deiyai.

Perwakilan Perempuan Deiyai, Ani Mote, mengatakan mama-mama Deiyai menangis sedih karena tiap tahun selalu ada anak-anak yang mereka lahirkan hilang nyawanya satu per satu tiap tahun.

“Kami (mama-mama) itu selalu melahirkan orang Papua tiap saat. Tapi, tiap saat juga selalu dihabisi dengan berbagai cara di atas tanahnya kami. Apa salah kami?” tanya Ani Mote

Ani Mote juga menolak secara tegas pernyataan Pemda Deiyai saat keluarga korban mendatangi Polsek Tigi, 2 Agustus lalu.

"Saat itu, Pemda Deiyai sempat tanya, ‘mana orang tua kandungnya?’, ‘mana keluarganya?’. Pernyataan itu menyakitkan bagi kami perempuan Deiyai. Pemda Deiyai harus tarik kembali. Pemda Deiyai harus bicara sebagai wakil Allah. Karena, kasus ini bukan milik keluarga korban saja tapi kasus ini milik semua orang Deiyai,” tegas Ani Mote

Selama ini, jelas Ani, warga Deiyai hidup seperti anak ayam kehilangan induknya. Pasalnya, kata dia, sejauh ini Pemda dan DPR Deiyai tidak pernah ada di Deiyai. “Sehingga, wajar saja jika warganya diterkam habis binatang buas karena tidak ada induknya yang mengawasi anak-anaknya,” katanya

Ia meminta kepada Pemda dan DPR Deiyai agar memagari warganya. “Warga Deiyai itu butuh pertolongan dari Pemda dan DPR Deiyai,” ujarnya.

Ia berpesan kepada para pemuda agar selalu membela dan berdiri di atas kebenaran hingga tuntas. “Para pemuda, berbicaralah sebagai orang Deiyai, bukan atas nama pemuda dan keluarga korban,” pesan dia

Anggota SKP Keuskupan Timika, Oktovianus Pekei, mengatakan gereja Katolik sangat menyesalkan dan menyayangkan tindakan aparat keamanan di Deiyai yang telah mengingkari martabat manusia

“Semua manusia itu punya martabat yang sama. Sehingga, sikap berlebihan dari aparat keamanan itu kami sangat sayangkan,” kata Pekei

Kata Pekei lagi, hak untuk hidup dari semua manusia telah dilindungi dari perserikatan bangsa-bangsa hingga tiap negara. Tiap negara, lanjut Pekei, berkewajiban lindungi hak hidupnya

Menghilangkan hak hidup manusia, kata Pekei, bukan cara yang tepat. Karena, hal itu hanya menambah masalah baru. “Hal itu juga akan tercipta kebencian dari warga sipil terhadap aparat keamanan,” ucapnya

Gereja Katolik juga meminta kepada aparat keamanan, menghentikan pendekatan represif terhadap warga.

Gereja Katolik meminta dengan tegas agar tragedi 1 Agustus di Kampung Oneibo, Deiyai, Papua itu diselesaikan melalui pengadilan HAM, bukan pengadilan biasa dan pengadilan militer.

Gereja Katolik juga meminta agar menjaga keamanan secara bersama. Gereja meminta agar bersama cari siapa yang memegang korek dan yang menyalakan. “Dalam kasus ini, jelas yang pegang dan nyalakan api adalah Brimob,” tegas Pekei.

Kalau saja, lanjut Pekei, aparat keamanan melakukan pendekatan secara dialogis terhadap warga, ia meyakini sangat tidak mungkin ada korban yang berjatuhan. (Philemon Keiya)

loading...

Sebelumnya

Polres Kaimana hentikan pengiriman kayu log PT Irma Sulindo

Selanjutnya

SOS: bentuk TPF Independen dan tutup PT Putra Dewa Paniai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe