Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Gobay: Kapolda Papua bisa memperbaiki citra polisi di Papua
  • Jumat, 11 Agustus 2017 — 19:38
  • 1607x views

Gobay: Kapolda Papua bisa memperbaiki citra polisi di Papua

“Saya pikir kapolda ini bisa memperbaiki citra polisi di Papua,” ungkap Gobay kepada jurnalis Jubi di Kantor DAP, Tanah Hitam, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (11/08/2017).
Aksi 1000 lilin untuk korban Deiyai - Jubi
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi – Tragedi penembakan di Deiyai pada 1 Agustus 2017, terus menuai keprihatinan berbagai elemen di Papua. Berbagai macam komentar terkait ketegasan Kapolda Papua, Boy Rafly, dilontarkan mereka yang peduli nasib rakyat Papua.

Salah satunya Ketua Dewan Adat Paniai, John NR Gobay. Ia mengatakan Kapolda Papua, Boy Rafly harus berani mengarahkan anggotanya yang terlibat dalam tragedi Deiyai, sampai diproses di pengadilan.  
 
“Saya pikir kapolda ini bisa memperbaiki citra polisi di Papua,” ungkap Gobay kepada jurnalis Jubi di Kantor DAP, Tanah Hitam, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (11/08/2017).
 
Katanya, upaya memperbaiki citra itu sudah ditunjukkan ketika penembakan terjadi di Deiyai 1 Agustus, kapolda menyampaikan permintaan maaf, bahkan kepada korbannya langsung di RSUD Jayapura.
 
Permintaan maaf tersebut menurutnya hal baru dari pihak kepolisian di Papua, dalam menyikapi berbagai tindak kekerasan selama ini. Kalau sebelumnya, menurutnya, yang ada hanya bantahan-bantahan. Anggota yang terlibat pun divonis ringan padahal ada nyawa manusia yang dihilangkan.
 
“Vonis kasus Intan Jaya hanya 21 hari. Kasus Degeuwo, vonisnya kami tidak pernah dengar. Padahal orang sampai meninggal. Bahkan menuding organisasi lain sebagai pelakunya,” tegasnya.
 
Kata dia, permintaan maaf untuk perbaikan citra ini, akan lebih baik lagi kalau kapolda menggunakan petunjuk legal UU 22 tahun 2002 tentang kepolisian, dan PP No. 3 tahun 2003 Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan Umum bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
 
“Petunjuk itu bisa membawa penembakan itu ke kasus pidana. Peradilan umum bisa. Anggota polisi itu disidang di pengadilan umum,” kata Gobay.
 
Terpisah, Ndoringga Yarinap, aktivis Forum Independen Mahasiswa (FIM), mengatakan permintaan maaf Kapolda Papua atas penembakan itu bukan hal yang perlu diapresiasi. Pernyataan maaf itu, katanya, penghinaan atau perendahan terhadap martabat orang Papua.
 
“Mereka anggap kami orang Papua ini tidak bernilai. Jadi bisa diselesaikan dengan permintaan maaf dan memberikan bantuan tunai. Kalau mereka hargai, bawa kasus ini ke ranah hukum,” tegasnya dalam jumpa pers Solidaritas Organisasi Sipil Tanah Papua, Kamis (10/08/2017) di Abepura.
 
Tambahnya, kalau tidak dibawa ke ranah hukum, kasus ini akan sama nasibnya dengan kasus-kasus lain di Papua. Lebih konkritnya, sama dengan kasus Paniai berdarah 2014.

“Presiden menyampaikan simpati waktu kunjungan ke Papua, tetapi penyelesaiannya masih menggantung,” katanya. (*) 

Sebelumnya

SOS: bentuk TPF Independen dan tutup PT Putra Dewa Paniai

Selanjutnya

Komnas HAM RI temui keluarga korban tragedi Deiyai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe