Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Enam nelayan Indonesia divonis 18 tahun penjara di Vanuatu
  • Selasa, 15 Agustus 2017 — 15:35
  • 554x views

Enam nelayan Indonesia divonis 18 tahun penjara di Vanuatu

Hakim Fatiaki mengurangi hukuman ini satu tahun menimbang perlakuan buruk dan diskriminasi yang dilakukan kapten kapal tersebut. “Untung bagi kalian Vanuatu, tidak seperti negara kalian, tidak mengenal hukuman mati.”
Para terdakwa setelah pembacaan putusan Jumat lalu – foto: dailypost.vu/Richard Nanua
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Port Vila, Jubi - Enam nelayan Indonesia yang mengaku bersalah telah membunuh kapten mereka di atas sebuah kapal ikan, divonis 18 tahun penjara.

Mahkamah Agung Vanuatu juga mengeluarkan perintah agar para terdakwa dideportasi ke Indonesia ketika mereka sudah memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat, setelah sembilan tahun penjara pada April 2026 mendatang.

Hakim Daniel Fatiaki awalnya memutuskan 30 tahun penjara, namun putusan ini  dikurangi menjadi 28 tahun penjara karena umur para terdakwa (antara 21-25 tahun) dan karena mereka warga negara asing yang divonis ribuan kilometer dari rumah.

Hakim Fatiaki mengurangi hukuman ini satu tahun menimbang perlakuan buruk dan diskriminasi yang dilakukan kapten kapal tersebut. Fatiaki lalu menimbang pengakuan bersalah mereka dan mengurangi hukuman mereka menjadi 18 tahun, dihitung sejak 30 April 2017 ketika mereka ditahan.

Kasus ini dimulai di kota Kaoshing, Taiwan, dari mana kapal Tunago No. 61  berbendera Vanuatu berlayar menuju wilayah penangkapan di Pasifik tanggal 7 Mei 2016.

Kapal itu ditumpangi korban, Kapten Xie Dingrong dan rekan senegaranya serta teknisi utama Zhang Dapeng dan 26 awak; 6 orang Vietnam, 7 orang Filipina dan 13 orang Indonesia termasuk di antaranya para terdakwa.

Pada tanggal 8 September 2016, teknisi Dapeng melaporkan pembunuhan pemilik kapal di Taiwan ketika kapal tersebut sedang berlayar ke Suva, Fiji.

Agen pengapalan di Fiji juga diinformasikan tentang peristiwa ini lalu dilaporkan ke polisi.

Setelah diperiksa Saepul Manap, Andi Riyadi, Riva Pranga Kliswanrio, Abdul Hasan Sidik, Suheri Meivan dan Ade Marwadi mengaku telah membunuh kapten mereka dan menyimpan jenazahnya di pendingin sampai mereka tiba di Fiji.

Para terdakwa diekstradisi ke Vanuatu sesuai permintaan pemerintah.

Menurut Hakim Fatiaki, pembunuhan ini brutal dan terencana. Setidaknya empat terdakwa membunuh korban larut malam ketika korban sedang tidur. Pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan pisau nelayan, gunting dan palu.

Korban diserang secara membabibuta dan kalaupun ia sempat berteriak, ia tidak bisa menghindari para pelaku.

“Keganasan ini bisa dilihat dari lokasi, kedalaman dan banyaknya cedera di tubuh korban,” tambah hakim Fatiaki.

“Ada kurang lebih 41 tusukan di sekujur tubuh korban, dari kepala hingga ke pahanya. Tidak diragukan lagi niat para pelaku membunuh korban. Pengadilan ini belum pernah menghadapi kasus yang begitu kejam dan begitu memandang rendah hidup.”

Fatiaki mengungkapkan penyesalannya, berkata bahwa tidak ada yang dapat dilakukan pengadilan untuk menghidupkan kembali korban, ayah dari seorang anak perempuan dan istrinya yang kini menjanda.

“Ini beban berat yang tiap-tiap kalian harus pikul seumur hidup karena kalian dengan sadar dan sengaja ikut berpartisipasi mengambil nyawa Xie Dingrong,” katanya.

“Untung bagi kalian Vanuatu, tidak seperti negara kalian, tidak mengenal hukuman mati.”

Fatiaki mengatakan bahwa menurut laporan pra-pengadilan, para pelaku mengaku bahwa sebelum mereka naik kapal MV Tunago No. 61, mereka diberi tahu bahwa semua yang mereka butuhkan akan disediakan, antara lain makanan, obat-obatan dan gaji.

Meski demikian, menurut keenam nelayan itu, mereka sudah bekerja selama setahun dan empat bulan tanpa bayaran. Lebih jauh lagi, ketika ditanya soal gaji, sang kapten terus-menerus berkata bahwa mereka akan segera dibayar.

Keenam nelayan ini juga mengaku bahwa mereka diperlakukan secara berbeda daripada warga negara lain yang ada di kapal tersebut. Menurut pengakuan mereka di pengadilan, korban sering memaksa mereka untuk makan makanan kalengan yang mengandung babi, padahal ia tahu bahwa itu melawan agama mereka.

Lebih lagi, kadang-kadang mereka harus makan umpan ikan untuk bertahan hidup. Mereka kadang bekerja sampai 22 jam sehari dan hanya bisa beristirahat 4 sampai 6 jam. Para nelayan ini juga tidak diberi kesempatan menelpon dan tidak diberi uang muka.

Hakim Fatiaki dalam putusannya melaporkan bahwa salah satu dari para pelaku sempat mengalami cedera ketika sedang membersihkan ikan. Ia pergi kepada korban untuk meminta pembalut luka namun korban menolak permintaan pelaku. Ketika ia meminta lagi, ia ditampar oleh korban.

Dalam putusannya, hakim Fatiaki berkata bahwa tim penuntut juga meminta kompensasi finansial dalam berkas tuntutan mereka. Kompensasi ini direncanakan juga akan dibayarkan kepada keluarga korban. Fatiaki menjelaskan bahwa pengadilan harus mempertimbangkan tuntutan kompensasi ini, tapi ia sendiri merekomendasikan pengadilan perdata untuk menangani masalah ini.(dailypost.vu/ L.J. Giay)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Alot, negosiasi demi konservasi laut

Selanjutnya

Setidaknya 2200 orang terjangkit demam berdarah di Fiji 2017

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe