Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Filep Karma terpaksa berobat ke Jakarta karena RSUD Dok II kekurangan listrik
  • Kamis, 17 Agustus 2017 — 04:55
  • 1170x views

Filep Karma terpaksa berobat ke Jakarta karena RSUD Dok II kekurangan listrik

"Tidak semua orang Papua yang mengalami masalah seperti saya bisa ke Jakarta atau Makassar untuk melakukan MRI. Apalagi kalau dia seorang tahanan atau mantan tahanan politik,” kata Karma beberapa waktu lalu saat berkunjung ke redaksi Jubi. (*)
Filep Karma saat merayakan HUT ke-58 nya di Jakarta - IST
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Filep Karma, mantan tahanan politik Papua baru saja merayakan ulangtahun ke-58 nya  di Jakarta bersama beberapa kawannya yang selama ini aktif memberikan dukungan moral maupun materil kepadanya.

Karma datang dalam peringatan ulang tahunnya –yang dipersiapkan oleh beberapa kawan-kawannya- dengan “seragam pegawai negeri” warna coklat muda serta bendera Bintang Fajar kecil di dada. Dia pakai topi Timor Leste dan pin warna biru dari Human Rights Watch. Jenggot besar dan panjang. Senyum lebar. Seorang tamu, yang baru mengenal Karma, bilang, “Bapa Karma ini humoris.”

Ia berpidato soal hak asasi manusia di Papua, termasuk penembakan terhadap Yulius Pigai di Deiyai sampai pemuda tersebut mati, soal kerusakan lingkungan hidup, maupun berbagai kasus pelanggaran sejak Indonesia menguasai Papua Barat pada 1963 –sesudah perjanjian New York pada 15 Agustus 1962.

“Saya sering tak mau dirayakan ulang tahun karena saya tidak mau bikin repot para mama,” katanya usai berpidato.

Surya Anta dari Front Rakyat Indonesia untuk West Papua memberikan kue tart keju kepada Karma. Ada bendera kecil Bintang Fajar ditancapkan. Ucapan selamat ulang tahun, semoga bahagia, jaga kesehatan datang terus-menerus. Dua orang putrinya, Audryn dan Andrefina, menelepon dari Papua, mengucapkan selamat ulang tahun.

Ada juga hadiah berupa tongkat bantuan berjalan buat Karma. Dia memang datang dengan agak terpincang pada kaki kanan.

Namun kedatangannya di Jakarta bukanlah untuk merayakan ulang tahunnya. Ia sebenarnya sedang menjalani serangkaian pemeriksaan di rumah sakit Siloam.

Andreas Harsono, seorang wartawan dari Yayasan Pantau, juga kawan Karma, mengatakan ulang tahun ini takkan dilakukan di Jakarta bila Karma tak sedang menjalani serangkaian pemeriksaan di rumah sakit Siloam.

“Pak Karma dapat kecelakaan motor di Skyline pada 17 Juni. Diperiksa di rumah sakit Dok II Jayapura, Karma diberitahu bahwa mesin MRI (magnetic resonance imaging) tak bisa dinyalakan karena kekurangan listrik. Dia diminta pergi ke Jakarta. Ironis memang, Papua punya mesin MRI tapi listrik tidak cukup,” kata Harsono.

Sudah dua minggu di Jakarta, Filep Karma mengurus administrasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) –agar biaya bisa ditanggung negara-- serta foto Rontgen maupun MRI. Dia juga bolak-balik ke rumah sakit, konsultasi dokter, sampai mendapatkan second opinion.

Hasilnya, diketahui bahwa ada empat ligamen, otot pengikat tulang, di lutut kanan, sobek dan lepas. Ada juga pengapuran di lutut kanan sehingga lutut tak bisa dilipat. Karma mengatakan dia harus operasi dua kali dengan jedah tiga bulan antara operasi pertama dan kedua, “Gunanya, buat melihat hasil operasi pertama, melihat ligamen tumbuh kembali.”

Dia juga diharuskan pada leg brace (besi pengikat lutut agar kerja lutut tak terlalu berat) supaya kerusakan tak makin meluas.

Andreas Harsono mengatakan kesehatan Filep Karma menurun selama dipenjara hampir 11 tahun. “Ini sudah ketiga kali Karma menjalani operasi di Jakarta,” katanya. “Persoalan kesehatan bukan saja persoalan Filep Karma tapi persoalan bagi banyak narapidana politik lain,” katanya.

Dia mengingatkan bahwa masih ada beberapa tahanan politik Papua serta 13 tahanan politik Maluku belum dibebaskan.

Ini belum lagi penderitaan yang dialami keluarga mereka: isteri dan anak. Mereka juga sering mengalami diskriminasi dalam pendidikan, kesehatan maupun pekerjaan.

Filep Karma sendiri mengaku pihak rumah sakit menyarankan dirinya melakukan scan MRI di Makassar atau Jakarta setelah alat MRI di Rumah Sakit Dok II tidak bisa berfungsi.

“Aneh juga. Rumah sakit di ibu kota provinsi ini punya fasilitas MRI tapi tidak cukup listrik untuk menjalankannya. Tidak semua orang Papua yang mengalami masalah seperti saya bisa ke Jakarta atau Makassar untuk melakukan MRI. Apalagi kalau dia seorang tahanan atau mantan tahanan politik,” kata Karma beberapa waktu lalu saat berkunjung ke redaksi Jubi. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Peringati HUT, YPPK Fransiskus Asisi Sentani helat perlombaan

Selanjutnya

Siswa baru hanya 11 orang, Kepsek SMA Satria kecewa

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe