close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Maluku
  3. Ada air mata di drama kolosal Martha Christina Tiahahu
  • Kamis, 17 Agustus 2017 — 18:15
  • 3946x views

Ada air mata di drama kolosal Martha Christina Tiahahu

Pementasan drama kolosalnya sangat mengharukan. Wajar saja jika banyak orang menitikkan air mata karena terbawa suasana serta alur cerita perjuangan Srikandi Maluku tersebut
Monumen Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang, Ambon. Jubi/Detiktraveler
ANTARA
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Ambon, Jubi - Pementasan drama kolosal perjuangan pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu yang ditampilkan pada peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI dipusatkan di lapangan Merdeka, Kota Ambon, diwarnai isak tangis peserta upacara maupun masyarakat yang menyaksikannya.

Drama kolosal yang mengangkat kisah perjuangan Srikandi Maluku tersebut bersama ayahnya Paulus Tiahahu yang merupakan pemimpin tentara rakyat serta Thimas Matulessy berjuluk Kapitan Pattimura melawan penjajah Belanda di benteng Beverwijk di desa Sila, Pulau Nusalaut tersebut, tahun 1817 tersebut dilakonkan oleh ratusan personil Kodam XVI Pattimura.

Sebagian peserta maupun warga yang memenuhi areal sekitar lokasi upacara menitikan air mata saat menyaksikan para pemain mementaskan drama kolosal yang diawali dengan penangkapan ayah Martha Christina yakni Paulus Tiahahu sebagai pemimpin tentara rakyat.

Suasana menjadi mengharukan dan banyak warga menangis saat menyaksikan lakon Kapitan Paulus Tiahahu dihukum gantung oleh kolonial Belanda dan disaksikan langsung oleh anaknya Martha Christina Tiahahu yang saat itu masih berusia belia.

Warga juga dibuat semakin terharu saat tokoh perempuan itu, mengangkat sumpahnya untuk berjuang melawan penjajahan kolonial di Pulau Nusalaut dan Saparua hingga titik darah terakhir.

Pementasan yang dipenuhi adegan baku tembak antara tentara rakyat dan tentara kolonial tersebut benar-benar menyedot perhatian warga yang membludak dan memenuhi areal sekitar lapangan merdeka.

"Pementasan drama kolosalnya sangat mengharukan. Wajar saja jika banyak orang menitikkan air mata karena terbawa suasana serta alur cerita perjuangan Srikandi Maluku tersebut," kata John (49) seorang warga yang ikut menyaksikan pementasan.

“Baru merasakan suasana mengharukan serta ikut terbawa emosi saat menyaksikan pementasan drama kolosal tersebut, “ ujarnya.(*)
 

loading...

#

Sebelumnya

“Ale Rasa Beta Rasa” pukau Ambon

Selanjutnya

Empat negara ASEAN ikuti festival bintang radio

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4876x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4299x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4168x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3493x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2956x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe