Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. PIANGO bersolidaritas untuk Guam dan West Papua
  • Senin, 21 Agustus 2017 — 13:19
  • 1102x views

PIANGO bersolidaritas untuk Guam dan West Papua

“Hal ini, serta situasi genting di West Papua membuktikan fakta bahwa dekolonisasi adalah persoalan yang belum selesai di Pasifik dan terus mengancam hak-hak rakyat Pasifik atas kemerdekaan, perdamaian, kehidupan dan martabat,” lanjutnya.
Sekitar 100 orang berkumpul di taman Chief Kepuha di Hagatna, Guam pada 14 Agustus 2017 memrotes tensi antara AS dan Korea Utara - Tassanee Vejpongsa/Associated Press
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Nabire, Jubi – Diabaikannya otonomi politik orang Chamorro-Guam oleh konflik AS dan North Korea belakangan ini, serta situasi genting di West Papua, membuktikan bahwa dekolonisasi masih jadi persoalan di Pasifik dan mengancam hak rakyat Pasifik untuk hidup merdeka, damai dan bermartabat.

Pernyataan itu dikeluarkan oleh Pacific Islands Association of Non -Governmental Organisations (PIANGO) atau Asosiasi Organisasi-organisasi non-pemerintah Kepulauan Pasifik, melalui Direktur Eksekutifnya, Emele Duituturaga, yang diterima oleh redaksi Jubi, Jumat (18/8/2017).

Dalam pernyataan yang dibuat di Suva, Fiji terutama menekankan perdamaian dan solidaritas untuk Guam tersebut, diangkat oleh Duituturaga menyusul seruan kelompok-kelompok masyarakat asli Chamorro atas solidaritas global dan perdamaian demi menghentikan pertikaian antara AS dan Korea Utara.

“Korea Utara boleh jadi sudah menarik keputusannya meluncurkan serangan peluru kendali ke Guam untuk sementara waktu, namun ancaman serangan terus ada. PIANGO dan anggota-anggotanya di 24 negara-negara dan teritori di Pasifik menyatakan solidaritas kami terhadap rakyat Guam, sebagai sesame rakyat Oceania, dan bersimpati mendalam kepada mereka karena ancaman terdekat yang harus mereka tanggung tanpa mereka punya andil di dalamnya,” uangkap Duituturaga.

Dia melanjutkan pertikaian antara Korea Utara dan AS ini adalah wujud “pertikaian antara Korea Utara dengan penjajah masyarakat asli Chamorro, yakni Amerika Serikat, namun ketidakpastian, kekhawatiran dan dampak-dampak agresi ini akan secara langsung mempengaruhi masyarakat Chamorro yang hanya ingin hidup damai di tanah leluluh mereka,” kata Duituturaga.

Isu penentuan nasib sendiri dan dekolonisasi Guam disorot pada pertemuan sub-regional PIANGO Mikronesia di Hagatna, Guam awal tahun ini.

“Pada pertemuan di bulan April ini, organisasi masyarakat sipil yang berafiliasi ke PIANGO di Guam dan di wilayah Pasifik Utara lainnya menekankan peningkatan kehadiran militer AS di Guam sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini jelas menjadi faktor pendukung atas situasi saat ini, sehingga kami menyerukan solidaritas dari bangsa-bangsa di Pasifik dan semua pemangku kepentingan untuk mengakhiri tensi antara Korea Utara dan AS,” tegasnya.

Duituturaga juga menghubungkan situasi kerentanan di Guam dengan apa yang terjadi di West Papua sebagai wujud dari kolonialisasi yang masih berlanjut di Pasifik.

“Hal ini, serta situasi genting di West Papua membuktikan fakta bahwa dekolonisasi adalah persoalan yang belum selesai di Pasifik dan terus mengancam hak-hak rakyat Pasifik atas kemerdekaan, perdamaian, kehidupan dan martabat,” lanjutnya.

PIANGO telah menyampaikan kepedulian ini ke Komite Dekolonisasi PBB sejak tahun 1996, bersama dengan seruan dekolonisasi Guam, Kanaki, dan Timor Leste, namun hingga saat ini hanya Timor Leste yang dengan sukses bertransisi  menjadi merdeka penuh.

“Karena itu kami mendesak Komite Dekolonisasi PBB untuk melakukan segala yang mungkin untuk mempercepat dekolonisasi Guam. Sehingga mereka dapat terhindar dari bencana mematikan bagi rakyat yang sudah kehilangan begitu banyak,” kata Duituturaga.

Kepada Sky News, Minggu (20/8/2017) Eddie Calvo, Gubernur Guam mengatakan baru saja menerima telpon dari Donald Trump saat dirinya sedang memberi makan ayam-ayamnya. Menurut Calvo, trump memastikan Kore Utara akan menghentikan rencana serangan itu.

“Para teroris ingin menghancurkanmu dengan memporakporandakan pola hidupnya sehingga kita semua hidup dalam ketakutan. Saya rasa Kim Jong Un sedang melakukan itu. Jika tujuannya adalah untuk menciptakan ketakutan, maka dia tidak berhasil. Jika kami tunjukkan kekhawatiran kami dan menjadi panik hingga hidup kami sehari-hari berubah maka ancaman Kim sudah memenangkan setengah pertempuran,” tegasnya.(*)

loading...

Sebelumnya

Freeport tutup ruang perundingan dengan mantan karyawan

Selanjutnya

Komnas HAM sampaikan laporan kasus ‘Deiyai Berdarah’ ke Kapolri

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe