Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pergulatan Yap dengan wisata (bagian 2)
  • Senin, 21 Agustus 2017 — 14:03
  • 522x views

Pergulatan Yap dengan wisata (bagian 2)

Pariwisata yang berkelanjutan memiliki pendekatan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini bukan hanya soal pendapatan dan pengembangan infrastruktur. Ia melibatkan penelitian yang mendalam, pendidikan bagi masyarakat, dan penyebaran  informasi secara transparan, demikian pernyataan Jones.
visityap.com/Brad Holland
PINA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Pulau Yap, Jubi – Di balik percakapan tentang pembangunan dan negosiasi dengan investor, ada isu lain yang tidak kalah penting: hubungan Mikronesia dengan Amerika Serikat.

Setelah menerima jutaan dollar dari AS, beberapa negara Pasifik sedang mendekati batas waktu yang menentukan. Pada tahun 2023, perjanjian antara AS dengan Mikronesia berahir. Ini berarti Mikronesia punya waktu enam tahun untuk menemukan dan membuat model ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Bagian 1: Pergulatan Yap dengan wisata (bagian 1)

Masa depan yang tidak pasti

Sekumpulan perjanjian antara AS dengan Mikronesia ini dikenal sebagai “Compact of Free Association” (COFA), dan dimulai pada tahun 1960-an antara pulau-pulau Mikronesia dengan AS.

COFA melibatkan tiga negara pulau di Pasifik: Federated States of Micronesia (FSM), Republik Kepulauan Marshall Islands, dan Republik Palau. Sesuai perjanjian ini, AS memberikan bantuan ekonomi, pertahanan militer FSM, dan bantuan lain. Sebagai gantinya, AS boleh beroperasi di FSM dan akses negara lain ke FSM dilarang.

Perjanjian ini mencerminkan pendekatan geopolitis AS di Pasifik beberapa dekade terakhir: menggunakan pulau-pulau di mana berbagai pertempuran terjadi selama Perang Dunia II sebagai zona penyangga antara AS dan ancaman potensial dari Asia.

Perlindungan dan bantuan yang disediakan COFA selama ini menciptakan kesempatan bagi masyarakat pulau-pulau ini melalui pendidikan, kesempatan pekerjaan, dan layanan kesehatan.

Kebanyakan pendapatan dari negara-negara ini berasal dari AS. Dengan pendanaan ini, banyak infrastruktur telah dibangun serta beberapa program dan proyek dilaksanakan.

Yang jelas COFA mengakibatkan ketergantungan di negara-negara ini. Apapun niat awal COFA, pulau-pulau ini tengah mengalami proses pelepasan yang menimbulkan banyak kegelisahan.

Di AS ada keinginan untuk memperbarui perjanjian ini, walaupun ada juga niat untuk mengubahnya dalam rangka membantu ekonomi negara-negara kepulauan ini menjadi lebih mandiri.

Dengan gamblang, Gubernur Yap Ganngiyan berkata bahwa perjanjian ini, “bukan cara yang tepat untuk mempertahankan sebuah pemerintahan. Bagi saya, subsidi AS yang dialirkan melalui lapisan-lapisan pemerintahan tidak menyediakan dorongan dan mekanisme untuk mengembangkan SDM dan mesin ekonomi negara.”

Dengan COFA, beberapa pulau seperti Palau mengembangkan diri menjadi tujuan bagi wisatawan Asia, terutama dari Cina. Perkembangan terakhir ini membuat khawatir beberapa ahli geopolitis Barat. Pulau-pulau seperti Saipan dan Tinian, telah mengembangkan jalur-jalur ekonomi lain termasuk industri garmen, wisata dan perjudian.

Yap adalah salah satu dari pulau ini, dan ia terperangkap di tengah dunia dengan nilai budaya yang kuat dan keinginan untuk menikmati modernitas.

Di sini, para pembuat kebijakan dan masyarakat mengerti pentingnya transisi menuju sumber pendapatan yang baru. Masalahnya, tidak banyak tawaran selain proposal ETG untuk mengembangkan resor baru.

Pariwisata berkelanjutan?

Pada Festival Homecoming tahun ini, pembicara Andrew Jones menyebutkan pentingnya pembangunan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan.

Jones berpengalaman di bidang perhotelan dan pernah menjabat direktur  Pacific Asia Travel Association, dan ia menyampaikan pesan yang ia harapkan akan menjadi jalan tengah baik bagi mereka yang melihat potensi bisnis maupun mereka yang mau melestarikan budaya dan lingkungan.

Dalam pidatonya, Jones berkata bahwa ia tidak setuju dengan pemikiran “kalau kamu menyediakan bangunan, orang akan datang”. Pemikiran ini beranggapan bahwa membangun hotel yang mewah akan meningkatkan jumlah wisatawan dan jumlah pendapatan. “Ini biasanya solusi jangka pendek. Dan solusi jangka pendek seperti ini biasanya dalam jangka panjang memiliki dampak buruk,” tambah Jones.

Pariwisata yang berkelanjutan memiliki pendekatan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini bukan hanya soal pendapatan dan pengembangan infrastruktur. Ia melibatkan penelitian yang mendalam, pendidikan bagi masyarakat, dan penyebaran  informasi secara transparan, demikian pernyataan Jones.

“Kebijaksanaan di dalam keranjang”

Orang Yap memiliki suatu ungkapan yang biasa diucapkan, “kebijaksanaan di dalam keranjang”.

Ungkapan ini merujuk pada keranjang anyaman yang biasa dibawa orang Yap ke mana-mana. Keranjang ini memuat semua benda-benda yang penting. Setiap pertemuan di Yap, baik formal maupun informal, melibatkan persiapan untuk mengunyah pinang dan mengisap sepuntung rokok, sebelum percakapan dimulai.

Proses persiapan ini lambat, ia memiliki langkah-langkah yang tetap, dan biasanya terjadi beberapa kali selama sebuah rapat. Menurut orang-orang Yap, selama proses persiapan ini, seseorang mengambil waktu untuk merancang tindakan atau kata-kata selanjutnya. Dan di situlah kebijaksanaan berada, menunggu untuk ditemukan. 

Mungkin inilah alasan Yap masih merenungkan gagasan tentang pembangunan dalam skala sebesar ini demi pariwisata. Mungkin inilah alasan mereka masih belum memasuki lahan ini layaknya tetangga mereka. Masyakat ini tengah mengambil waktu dan mempersiapkan diri dengan sabar sebelum bertindak, mencari kebijaksanaan di keranjang bersama.(L.J. Giay)

loading...

Sebelumnya

Satu lagi sekolah di Vanuatu mogok minggu ini

Selanjutnya

Oposisi klaim kumpulkan kekuatan, hendak gulingkan Perdana Menteri Sogavare

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe