Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Ibrahim: parpol berperan munculkan calon tunggal kepala daerah
  • Rabu, 23 Agustus 2017 — 17:20
  • 552x views

Ibrahim: parpol berperan munculkan calon tunggal kepala daerah

Ibrahim Kristofol Kendi, S.Sos, MPA dari Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura mengatakan, parpol berperan penting memunculkan calon tunggal dalam pelaksanaan pilkada di suatu daerah. Kandidat yang mendominasi dukungan parpol membuat kandidat lainnya tidak mendapat kesempatan.
Ilustrasi pelaksanaan pilkada di Papua - Dok. Jubi 
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Adanya calon tunggal dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) kabupaten, kota dan provinsi tak lepas dari peran partai politik (parpol). 

Ibrahim Kristofol Kendi, S.Sos, MPA dari Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura mengatakan, parpol berperan penting memunculkan calon tunggal dalam pelaksanaan pilkada di suatu daerah. Kandidat yang mendominasi dukungan parpol membuat kandidat lainnya tidak mendapat kesempatan.

"Ya sangat, kalau kasarnya kita katakan ada bisnis dan sebagainya. Ya, seperti itu karena parpol kan dalam tanda kutip mendapatkan sesuatu dari calon, tapi juga misalnya yang diusung menguasai legislatif dan eksekutif, pendapatan mereka juga bisa dari situ," kata Ibrahim, ketika dihubungi Jubi via teleponnya, Rabu (23/8/2017). 

Menurutnya, adanya calon tunggal tidak luput dari potensi politik uang. Misalnya ketika ada calon yang memborong partai, sehingga calon lainnya tidak dapat berbuat banyak. 

"Sangat tidak demokratis, jika hanya calon tunggal. Kalau mengacu pada demokrasi yang sesungguhnya, siapa saja punya hak," ujarnya.

Meski begitu katanya, harus dilihat kembali apakah itu diperbolehkan undang-undang atau tidak. Jika hal tersebut diatur dalam undang-undang, berarti itu dinyatakan sah.

"Kalau sudah diizinkan undang-undang, tidak apa-apa sebenarnya calon tunggal. Kenapa dipermasalahkan," katanya. 

Selain peran parpol, munculnya calon tunggal dalam pilkada, lanjut Ibrahim, akibat tumpang tindih aturan yang berlaku di Indonesia. Di sisi lain ada aturan yang mengakomodir calon tunggal, namun di lain sisi tidak.

Pada pilkada serentak, 15 Februari 2017, Kota Jayapura membuat sejarah dalam pelaksanaan pesta demokrasi di Papua. Ibu kota Provinsi Papua itu menjadi daerah pertama di Papua yang melaksanakan pilkada dengan calon tunggal. 

Ketika itu, calon wali kota petahana berhadapan dengan kotak kosong. Calon tunggal dalam pilkada Kota Jayapura disebut berbagai pihak contoh buruk daerah lain di Papua. Kini salah satu daerah yang disebut kemungkinan akan memunculkan seperti Kota Jayapura adalah Mamberamo Tengah. Calon petahana di kabupaten itu disebut-sebut kemungkinan akan berhadapan dengan kotak kosong pada pilkada serentak 2018.

Tidak hanya Mamberamo Tengah, pilgub Papua, 2018 mendatang diprediksi akan memunculkan calon tunggal. Hal ini semakin kuat ketika bakal calon gubernur petahana, Lukas Enembe menyatakan telah mengantongi 10 rekomendasi parpol dari 11 parpol yang memiliki keterwakilan di DPR Papua.

"Lebih bagus melawan kotak kosong. Kalau ada perlawanan orang Papua akan mati sia-sia," kata Enembe pekan lalu.

Selain diperbolehkan undang-undang, calon tunggal menurut Enembe juga untuk meminimalisir potensi konflik dan menghemat anggaran. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Relawan LE: Dana pendidikan, manufer lain kriminalkan Lukas Enembe

Selanjutnya

Komnas HAM temukan masalah di PSU Kabupaten Jayapura

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe