Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kepulauan Marshall kehilangan ‘raksasa sejarah’ anti nuklir, Tony de Brum
  • Jumat, 25 Agustus 2017 — 15:57
  • 894x views

Kepulauan Marshall kehilangan ‘raksasa sejarah’ anti nuklir, Tony de Brum

Seumur hidupnya de Brum adalah seorang pengkritik program pengujian senjata nuklir Amerika Serikat di Kepulauan Marshall, yang pernah dia saksikan langsung saat tinggal di tepi atol kecil bernama Likiep di masa kecilnya pada tahun 1950an. de Brum juga merancang sebuah kesepakatan dengan Duta Besar AS, Fred Zeder, untuk referendum dengan dua pilihan di Kepulauan Marshall: Compact atau kemerdekaan.
Tony de Brum saat menghadiri Mahkamah Agung Internasional di Den Haag, Belanda - RNZI/International Court of Justice
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Majuro, Jubi – Duta Besar Iklim Kepulauan Marshall, Tony de Brum, digambarkan sebagai "raksasa sejarah" yang melesat ke garis depan aksi pergerakan iklim global dan telah berperan penting dalam sejarah politik negara itu.

de Brum, 72, meninggal Selasa  22 Agustus 2017 di rumah sakit Majuro setelah lama berjuang melawan kanker.

Seumur hidupnya de Brum adalah seorang pengkritik program pengujian senjata nuklir Amerika Serikat di Kepulauan Marshall, yang pernah dia saksikan langsung saat tinggal di tepi atol kecil bernama Likiep di masa kecilnya pada tahun 1950an.

de Brum adalah seorang yang sering menjadi saksi di PPB dan dalam sidang dengar pendapat Kongres AS mengenai warisan nuklir di kepulauan tersebut.

Pada tahun 2014, dia bersama Pengacara dari Amerika dan Pengacara internasional mengajukan tuntutan hukum atas nama Kepulauan Marshall di International Court of Justice atau Mahkamah Agung Internasional dan di pengadilan di Amerika Serikat melawan sembilan kekuatan nuklir.

Tujuan dari perlawannya adalah agar pengadilan memerintahkan negara-negara tersebut menangani perundingan perlucutan senjata nuklir yang kerap tersendat-sendat.

Meskipun pada akhirnya kasus ini diberhentikan oleh pengadilan, tuntutan hukum tersebut memusatkan perhatian global pada isu senjata nuklir dan pelucutan senjata, membuahkan nominasi Hadiah Nobel Perdamaian baginya, dan mendatangkan penghargaan internasional lainnya dalam bidang anti-nuklir.

Fasih berbicara dan berpikiran tajam

Kefasihan oralnya, kecerdasan pikirannya, serta dedikasinya melambungkan de Brum ke garis depan gerakan iklim global.

de Brum menghadiri banyak konferensi iklim, menjadi komentator yang dicari oleh televisi dan media cetak terkemuka di seluruh dunia, dan selalu berperan dalam negosiasi iklim internasional.

Dia tanpa henti-hentinnya menanamkan pesan bahwa tanpa tindakan memangkas emisi karbon, bangsanya dan banyak bangsa lainnya akan hancur.

Aksi aktivisme de Brum dibidang iklim memuncak dalam peran sentralnya dalam kesepakatan iklim yang dicapai pada detik-detik terakhir Konferensi Iklim di Paris pada bulan Desember 2015.

"Dia adalah seorang raksasa sejarah, tokoh yang berjasa dalam setiap bidang, dan penjaga masa depan kita bersama," kata Presiden Kepulauan Marshall Hilda Heine.

Di Kepulauan Marshall sendiri, de Brum memulai karirnya di bidang politik sebagai juru bicara dan tangan kanan pendiri negara dan Presiden Pertama Kepulauan itu, Amata Kabua.

Sebagai sekretaris urusan luar negeri, dia adalah negosiator utama dalam perjanjian Compact of Free Association dengan AS mengenai bantuan dari AS.

Pertemuan ini membuahkan rancangan kontroversial di awal tahun 1980-an yang ditentang oleh semua orang yang terkena dampak tes nuklir dan pemimpin dari atol Kwajalein di Kepulauan Marshall, tuan rumah dari pelbagai uji coba rudal Angkatan Darat AS.

Selain terkait dengan rancangan awal traktat tersebut, de Brum juga merancang sebuah kesepakatan dengan Duta Besar AS saat itu, Fred Zeder, untuk referendum dengan dua pilihan di Kepulauan Marshall: Compact atau kemerdekaan.

Ide referendum itu kemudian dibatalkan oleh pemerintah AS setelah Departemen Pertahanan menunjukkan kekhawatiran atas banyaknya penolakan terhadap Compact ini yang dapat berujung pada kemerdekaan.

Empat periode di parlemen

Tony de Brum mengikuti pemilihan pada tahun 1983, pemilihan nasional kedua di negara tersebut setelah pembentukan pemerintahan konstitusional Kepulauan Marshall empat tahun sebelumnya.

Dia dengan mudah memenangkan jabatan itu yang menjadi periode pertama dari empat periodenya di parlemen negara mewakili Majuro, ibu kota Kepulauan Marshall.

Dalam masa jabatan pertamanya, dia diangkat di kabinet oleh Presidan Kabua. Pada tahun 1986, ia diberi posisi Kementerian Kesehatan, di mana ia berhasil mengawasi perubahan signifikan terhadap sistem perawatan kesehatan negara tersebut dengan perluasan layanan-layanan pencegahan kesehatan yang inovatif.

Pada tahun 1988 de brum diberhentikan dari posisinya sebagai Menteri Kesehatan Kepulauan Marshall.

Dua tahun setelah kematian Presiden Kabua pada tahun 1996, de Brum dikembalikan ke Kabinet oleh penerus Kabua, sepupunya Imata Kabua, kepala suku penting di Kwajalein.

Sebagai Menteri Keuangan, de Brum dan Menteri Luar Negeri, Phillip Muller mengatur peralihan negara dari hubungan diplomatik dengan Tiongkok ke Taiwan pada akhir 1998, yang mengakibatkan Taiwan menjadi negara donor kedua terbanyak menyusul Amerika Serikat.

Dia dan Muller tersingkir dari jabatan mereka masing-masing pada tahun 1999 dalam sebuah pemilihan yang berhasil menempatkan seorang biasa yang bukan kepala suku sebagai presiden untuk pertama kalinya di negara itu.

Dia mengalamami kekalahan lagi pada pemilihan nasional tahun 2003.

Kembali berkecimpung di dunia politik

de Brum terpilih kembali untuk masa jabatan ketujuh sekaligus yang terakhir di tahun 2011. Kabinet di bawah pimpinan Presiden Christopher Loeak, yang menyediakan platform untuk keterlibatannya dalam perundingan iklim global dengan Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di Paris sebagai pencapaian puncaknya.

"Upayanya yang tak kenal lelah sangat berperan dalam mengamankan Konferensi Paris," kata Dr Heine, Presiden Kepulauan Marshall saat ini.

de Brum meninggalkan seorang istri, Rosalie, tiga oang anak, sepuluh cucu dan lima cicit.(Elisabeth C. Giay)

loading...

Sebelumnya

Tiga RUU baru Vanuatu segera dibahas Parlemen

Selanjutnya

Perdana Menteri Tuvalu: Laporan media massa itu bohong

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe