Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Lapago
  3. Pemilik honai adat yang dibakar minta ganti rugi
  • Selasa, 29 Agustus 2017 — 10:25
  • 636x views

Pemilik honai adat yang dibakar minta ganti rugi

Korban pembakaran honai adat suku Kosi Hiluka pasca kejadian Ibele minta Polres Jayawijaya dan Polda Papua segera menyelesaikan kasus tersebut atau melakukan mediasi antara masyarakat adat bersama Polres Lanny Jaya.
Linus Hiluka bersama Theo Hesegem saat memberikan keterangan pers - Jubi/Islami
Islami Adisubrata
islami@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Wamena, Jubi - Korban pembakaran honai adat suku Kosi Hiluka pasca kejadian Ibele minta Polres Jayawijaya dan Polda Papua segera menyelesaikan kasus tersebut atau melakukan mediasi antara masyarakat adat bersama Polres Lanny Jaya.

Salah satu pemilik honai adat di kampung Ibele, Linus Hiluka, mengakui pihaknya sudah berbicara dengan Kapolres Jayawijaya dengan memberikan surat yang tembusannya kepada Polda Papua, kepala distrik dan keluarga Hiluka, selaku pemilik hak ulayat, tidak terlibat dengan kasus penikaman anggota Polres Lanny Jaya beberapa waktu lalu.

"Kami menuntut Polres Lanny Jaya harus bertanggung-jawab atas pembakaran honai adat kami. Saat ini kami keluarga besar Hiluka mendesak Polres Lanny Jaya, Polres Jayawijaya, dan Polda Papua untuk menyelesaikan kasus ini secepatnya," kata Linus Hiluka, di rumah Bina Wamena, Senin (28/8/2017).

Ia menegaskan jika masalah ini tidak dimediasi secepatnya dan menyelesaikan ganti rugi, masyarakat akan memalang jembatan di Ibele, sehingga memutuskan akses jalan trans Wamena-Lanny Jaya. Ini tentunya akan merugikan banyak pihak yang sering melalui jalur tersebut. Pemerintah kedua belah pihak baik Lanny Jaya dan Jayawijaya harus bersama-sama menyelesaikan masalah ini.

"Artinya, kami harus melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat. Kebakaran honai adat atau honai perang ada yang tidak bisa diganti makanya mahal, seperti Delima pusaka, yang berasal dari nenek moyang dan juga kulit manusia," tegasnya.

Sementara, Ketua Jaringan Advokasi Hukum dan HAM Pegunungan Tengah Papua, Theo Hesegem, mengaku aksi pembakaran yang dilakukan berujung dari pemalakan dan penganiayaan terhadap anggota Polres Lanny Jaya. Namun rumah suku Hiluka itu dibakar sebenarnya bukan pelaku sehingga wajib untuk ganti rugi. Suku Hiluka menuntut Rp 4 miliar lebih karena dalam adat itu berbeda-beda, sehingga perlu untuk ganti rugi.

"Sebenarnya pada saat melakukan aksi pembakaran oleh anggota Polres Lanny Jaya itu salah, karena tidak ada koordinasi dengan Polres Jayawijaya, kemungkinan diharapkan harus ada pertemuan sehingga jangan ada pemalangan jalan karena ini merupakan jalan kabupaten sehingga bisa merugikan banyak orang," ujar Theo. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Pemilih pemula mulai ada gambaran ikut pilkada 

Selanjutnya

Wabup Mimika pertanyakan PKH untuk warga pedalaman

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe