Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Komnas HAM: putusan sidang terbakarnya kitab suci ditunda
  • Selasa, 29 Agustus 2017 — 16:12
  • 720x views

Komnas HAM: putusan sidang terbakarnya kitab suci ditunda

"Sidang ditunda hingga 12 September. Ada hakim yang pensiun, dan ketua majelisnya di panggil ke Jakarta, mungkin ada pertemuan para majelis hakim," kata Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey kepada Jubi, Selasa (29/8/2017).
Suasana sidang kasus terbakarnya kitab suci di Pengadilan Militer III-19 Jayapura, 15 Agustus 2017 - Dok. Jubi
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Pembacaan putusan sidang terbakarnya kita suci di Pengadilan Militer III-19 Jayapura, dengan terdakwa Serda BS, yang awalnya dijadwalkan 24 Agustus, tertunda.

Komnas HAM Perwakilan Papua yang dipercayakan berbagai pihak mengawal kasus ini menyatakan, sidang pembacaan putusan direncanakan akan digelar 12 September.

"Sidang ditunda hingga 12 September. Ada hakim yang pensiun, dan ketua majelisnya di panggil ke Jakarta, mungkin ada pertemuan para majelis hakim," kata Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey kepada Jubi, Selasa (29/8/2017).

Katanya, sidang kasus ini sudah menjadi semacam konsensus bersama masyarakat Kota Jayapura khususnya, dan Papua umumnya. Komnas HAM berharap, sidang ini dipercepat sehingga menjadi sebuah pelajaran bagaimana menjaga toleransi di Indonesia yang kini mulai rapuh.

"Ini juga menjadi komitmen Polda dan Pangdam. Pangdam beberapa kali dalam forum resmi mengatakan, ini harus dipercepat. Tapi memang independensi hakim tidak bisa kita masuki," ujarnya.

Menurut Frits, pihaknya mengapresasi mekanisme di Pengadilan Militer yang terbuka. Misalnya ketika sidang di lapangan, Komnas HAM diminta hadir, melihat langsung rekonstruksi dari satu adegan ke adegan lainnya, hingga proses pembakaran sampah untuk menguji apakah benar yang ikut terbakar adalah kitab suci atau bukan. 

"Kasus ini bukan masalah kepentingan Papua, tapi kepentingan bagaimana menjaga toleransi di tengah maraknya kejadian yang berpotensi intoleransi di Indonesia. Ini juga tentang bagaimana memberikan pendidikan toleransi," katanya.

Masyarakat di Papua, lanjut Frits, memiliki kesadaran dalam bertoleransi. Mereka melimpahkan penyelesaian masalah ini ke Pengadilan Militer dan berharap apa pun putusan pengadilan dapat diterima semua pihak. 

"Komnas HAM berkepentingan menjaga bagaimana toleransi di Papua, karena itu sejak awal Komnas HAM terlibat dan ditunjuk oleh Polda, Pangdam, dan gereja untuk mengawal proses ini," ucapnya.

Katanya, hingga kini semua pihak dapat menahan diri terutama pihak gereja. Terpenting gereja telah menyatakan pengampunan kepada pelaku. Ini merupakan pendidikan toleransi yang sangat baik. Makanya penuntasan kasus ini harus cepat agar menjadi pembelajaran toleransi di Papua dan Indonesia.  

Dalam sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa di Pengadilan Militer III-19 Jayapura,  Selasa (15/8/2017), majelis hakim menilai terdakwa Serda BS berbelit-belit memberikan keterangan. 

Sejumlah pertanyaan diajukan majelis hakim dalam sidang yang dipimpin hakim ketua, Kolonel James F Vanderslot didampingi hakim anggota, Letkol Dwi Yudo Utomo dan Mayor Dendi Sutiyoso.

Majelis hakim menilai, keterangan terdakwa dalam sidang, sedikit berbeda dengan keterangan yang ada dalam BAP POM. 

"Saya mau tanya kejujuran kamu, kamu tidak mau jujur," ujar James F Vanderslot.

Kata James F Vanderslot, dalam keterangan terdakwa sesuai BAP POM, ia menyatakan panik ketika mengetahui ada kitab suci terbakar. Ini menandakan ada kesalahan.

"Kalau orang salah itu panik. Kalau kamu tidak salah, kamu tidak akan panik. Makanya jadi militer itu harus bersih dari berpikir negatif," katanya, seperti pada pemberitaan sebelumnya.

Terdakwa dalam menjawab pertanyaan majelis hakim beberapa kali menyatakan tidak tahu. Terdakwa kembali menyatakan tidak tahu ketika hakim menanyakan siapa yang menaruh kitab suci di tempat sampah, dan menyebabkannya terbakar.

"Saya menyesal karena terjadi ricuh akibat terbakarnya kitab suci, yang saya sendiri tidak tahu siapa yang melakukan," kata terdakwa.

Setelah berkonsultasi dengan penasehat hukumnya, terdakwa menyatakan meminta maaf.

"Saya minta maaf atas kelalaian dan keteledoran saya. Saya tidak ada niat, namun jika dalam bak sampah ada kitab suci terbakar, saya minta maaf," ujarnya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kesiapan infrastruktur PON dan atlet harus sejalan

Selanjutnya

Pemamggilan sejumlah pejabat itu hal yang wajar, asal tidak ada muatan politik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe