Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Pansus DPRD Deiyai: kami tidak setuju jika dikatakan peluru karet
  • Kamis, 31 Agustus 2017 — 19:48
  • 1989x views

Pansus DPRD Deiyai: kami tidak setuju jika dikatakan peluru karet

"Saya sangat tidak setuju, apalagi dinyatakan itu peluru kaget, padahal sudah jelas bahwa peluru itu kaliber PIN 5,56. Jadi, yang kami minta pelaku dipecat dan dipenjara," tegas Ketua Pansus DPRD Deiyai, Alfret Pakage kepada Jubi di Jayapura, Kamis, (31/8/2017). 
Ketua Panitia Khusus (Pansus) DPRD Deiyai, Alfret Pakage - Jubi
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Terkait tragedi Deiyai 1 Agustus 2017, Ketua Panitia Khusus (Pansus) DPRD Deiyai, Alfret Pakage, mengaku kaget dan kesal saat disebutkan pelaku penembakan Deiyai Berdarah, hanya akan dipindahtugaskan ke fungsi yang berbeda atau bersifat demosi, sekurang kurangnya satu dan dua tahun.

"Saya sangat tidak setuju, apalagi dinyatakan itu peluru kaget, padahal sudah jelas bahwa peluru itu kaliber PIN 5,56. Jadi, yang kami minta pelaku dipecat dan dipenjara," tegas Ketua Pansus DPRD Deiyai, Alfret Pakage kepada Jubi di Jayapura, Kamis, (31/8/2017). 

Pakage menegaskan, kalau ada rasa keadilan, tunjukkanlah bahwa Indonesia merupakan negara yang taat hukum.

"Tidak bisa dan tidak cukup sekadar meminta maaf di media. Jangan asal-asal bicara, keluarga dan rakyat Deiyai sakit hati hanya mendengar kata minta maaf," ungkapnya. 

"Kami wakil rakyat Deiyai kesal. Kasus pencurian saja bertahun-tahun masuk penjara, tapi pencabutan nyawa kok dibilang menggunakan peluru hampa dan karet. Peluru tajam sudah kenyataan, jangan balikkan fakta," tambahnya. 

Sementara itu, dilansir dari Antara, Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Kamal mengatakan, sembilan anggota Polri termasuk delapan Brimob itu sudah divonis pada sidang kode etik, yang dilaksanakan secara terpisah di Mapolda Papua, Rabu, (30/8/2017).

"Sembilan anggota Polri di jajaran Polda Papua yang terlibat dalam kasus penembakan di Deiyai, dijatuhi hukuman berbeda, dan yang terberat adalah hukuman mutasi bersifat demosi," ujarnya.

Dari hasil sidang tersebut, lima anggota Brimob yakni Iptu MS, Briptu F, Briptu A, Briptu EA dan Briptu RR dinyatakan tidak bersalah karena sudah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP), dan peluru yang digunakan adalah peluru hampa dan karet.

Namun, Aipda ES dan Bripka VM dinyatakan bersalah dan melakukan perbuatan tercela sehingga berkewajiban meminta maaf secara lisan di depan sidang, dan dipindahtugaskan ke fungsi yang berbeda bersifat demosi sekurang-kurangnya dua tahun.

Sedangkan putusan terhadap Iptu AD yang saat itu menjabat Komandan Pleton Brimob Polda Papua, dan Iptu MR yang saat itu menjabat Kapolsek Tigi, juga dijatuhi hukuman dipindahtugaskan ke fungsi berbeda bersifat demosi sekurang-kurangnya satu tahun, serta meminta maaf di depan sidang. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Divestasi saham Freeport 51%, di mana hak orang Papua?

Selanjutnya

Kapolres pimpin pengamanan kontingen Pesparawi di pelabuhan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe