Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Duka untuk Rohingya bukan milik umat muslim saja
  • Senin, 04 September 2017 — 19:12
  • 719x views

Duka untuk Rohingya bukan milik umat muslim saja

Jakarta, Jubi - "Hentikan pembantaian, selamatkan Muslim Rohingya," Kata Sarah. Perempua berjilbab itu merupakan koordinator aksi protes yang menamakan diri Sahabat Muslim Rohingnya.
Jakarta, Jubi - "Hentikan pembantaian, selamatkan Muslim Rohingya," Kata Sarah. Perempua berjilbab itu merupakan koordinator aksi protes yang menamakan diri Sahabat Muslim Rohingnya.
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jakarta, Jubi - "Hentikan pembantaian, selamatkan Muslim Rohingya," Kata Sarah. Perempua berjilbab itu merupakan koordinator aksi protes yang menamakan diri Sahabat Muslim Rohingnya.

Senin (4/9/2017), Sarah dan ratusan perempuan berjilbab menggelar aksi solidaritas, di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta.

Tapi kecaman bukan hanya milik umat Muslim saja.

Sebelumnya, 13 peraih Nobel dan 10 tokoh dari berbagai profesi mengirim surat terbuka ke Dewan Keamanan PBB. Mengkritik pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Surat terbuka itu ditandatangani 13 peraih Nobel. Yakni Muhammad Yusuf, Uskup Desmond Tutu, Malala Yousafzai, Jose Ramos Horta, Tawakul Karman, Shirin Ebadi, Betty Williams, Mairead Maguire, Oscar Arias, Jody Willliams, Leymah Gbowee, Sir Richard J. Roberts, dan Elizabeth Blackburn.

Adapun 10 tokoh itu adalah Emma Bonino, Arianna Huffington, Sir Richard Branson, Paul Polman, Mo Ibrahinm, Richard Curtis, Alaa Murabit, Jochen Zeitz, Kerry Kennedy, dan Romano Prodi.

Surat terbuka yang diunggah di Guardian, 1 September 2017 itu, menyatakan serangan militer Myanmar telah membunuh ratusan orang termasuk anak-anak, pemerkosaan terhadap perempuan, pembakaran rumah dan penangkapan terhadap warga sipil secara semena-mena.

Rohingya sebagai etnis minoritas berpopulasi 1 juta orang di Myanmar. Mereka hidup turun temurun di Myanmar. Mereka telah mengalami persekusi bertahun-tahun oleh pemerintah dan kelompok nasionalis Budha.

Bentrokan berdarah diawali serangan kelompok dari Rohingya ke 30 kantor polisi dan beberapa markas tentara di Rakhine, Myanmar. Militer lalu membalasnya dengan operasi militer yang dinamai “menumpas ekstrimis”.

Bentrokan terburuk sejak 5 tahun terakhir ini, membuat gelombang pelarian etnis Rohingya ke perbatasan Bangladesh. Mereka tewas saat menyeberang ke Bangladesh terutama anak-anak dan perempuan.

Sementara itu, penasihat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Himahbudhi), Daniel Johan menegaskan kekerasan terhadap etnis Rohingya bukanlah konflik antara penganut Buddha dengan Islam.

"Di dalam Buddha itu tidak ada satu ayat pun yang membenarkan pemeluk agama Buddha itu terlibat dalam perang," kata Daniel yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa itu

Menurutnya, ada faktor lain yang disinyalir sebagai akar masalah.Yakni persoalan sumber energi, di wilayah yang ditinggali etnis Rohingya selama ini.

"Di situ ada jalur sumber energi, minyak, dan gas. Saya rasa itu yang utama di sana," katanya.

Hal serupa dikatakan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar. "Tidak ada kaitannya dengan konflik agama," . (*)

Pengungsi Rohingya. Freepresskashmir.com/Jubi


 


 

#

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Namibia bakal atur pengelolaan limbah dan polusi

Selanjutnya

Suu Kyi akhirnya bicara soal Rohingya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe