Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. PIF sekadar Talkfest Pasifik lainnya, bagaimana dengan jejak karbon?
  • Minggu, 10 September 2017 — 12:52
  • 596x views

PIF sekadar Talkfest Pasifik lainnya, bagaimana dengan jejak karbon?

Dari sudut pandang kita, tindakan yang dilakukan belum cukup. Dan untuk Kepulauan Pasifik, kenyataannya adalah banyak masalah yang dibahas selama pertemuan ini terus memburuk sementara para pemimpin kita masih terus berdiskusi tentangnya.
Forum Kepulauan Pasifik (PIF) ke-48 tahun ini dilaksanakan di Apia, Samoa – Asia Pacific Report/Foto dari Sekretariat PIF
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Apia, Jubi – Para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik (PIF) di Apia minggu ini sedang melakukan pekerjaan yang sangat sulit. Tidak ada keraguan tentang ini. Atau, setidaknya begitulah harapan kita.

Seperti yang umumnya mereka lakukan pada pertemuan seperti ini yang terkait usaha menyelamatkan rakyat kita dan belahan planet kita dari hukuman yang kekal.

Waktu akan berlalu dan, bersama perubahan iklim mengambil sebagian besar fokus, pertemuan ini sama saja, telah selesai dan laporan mungkin sedang disusun saat Anda membaca opini ini.

Perlu diingat bahwa perubahan iklim bukanlah isu yang bisa diperbaiki dalam satu malam, Anda tahu ini. Sejujurnya, terlepas dari berapa banyak kesepakatan, kerangka kerja, dan janji-janji yang dibuat oleh para pemimpin kita, faktanya adalah kepulauan kita sedang tenggelam dan hanya sedikit yang dapat kita lakukan untuk melawannya.

Fakta ini seharusnya tidak menghentikan kita dari berpura-pura melakukan sesuatu tentang hal itu.

Dan ketika Anda memiliki sekelompok pejabat yang sering beterbangan kemana-mana yang mengaku melakukan ini dan itu untuk kepentingan orang-orang miskin di daerah terpencil, setidaknya kita bisa tidur  dengan baik mengetahui bahwa mereka pasti senang dapat melakukan perbuatan baik itu... siapa yang tahu.

Tentu saja banyak juga kebisingan akibat masalah-masalah ini.

Berpura-pura tampak sibuk

Ini adalah bagian terbaik dari pertemuan seperti yang sedang terjadi di Apia minggu ini. Kita bisa berkumpul, mengenakan pakaian terbaik kita, berpindah dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya dan berpura-pura terlihat sibuk.

Tapi apa artinya itu bagi seseorang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari di perkampungan?

Apakah ini mengubah prospek dari petani subsisten yang bekerja keras siang dan malam untuk mendapatkan sepuluh tala (mata uang Samoa) dan memberi makan keluarganya yang beranggotakan 12 orang?

Apakah itu benar dapat memberdayakan perempuan biasa yang harus mengatasi begitu banyak rintangan untuk menjaga dirinya dan keluarganya?

Jangan pula kita lupakan, seseorang akan membayar tagihan untuk semua ini. Bagaimana dengan pembayar pajak yang secara terpaksa membayar tagihan ini, apa yang mereka dapatkan sebagai imbalannya?

Dan bagaimana cara kita mengukur tingkat pengembalian investasi dari pertemuan ini?

Pertanyaan-pertanyaan diajukan karena alasan sederhana

Kami mengajukan pertanyaan ini karena alasan yang sangat sederhana.

Diawal pertemuan ini, Sekretaris Jenderal Dame Meg Taylor menyatakan bahwa ”semua orang Pasifik harus menjadi penerima kebaikan bersama yang akan menjadi dampak oleh kebijakan dan inisiatif yang dibahas selama pertemuan ini”.

Semata-mata, apa yang dikatakannya itu adalah benar. Tapi mari kita berhenti sejenak di sini.

Berapa banyak pertemuan Forum yang pernah kita adakan hingga sekarang dan dimana tepatnya kita berada sekarang ini (untuk penyelesaikan isu-isu yang dibahas dalam forum tersebut)?

Melihat beberapa perkembangan terakhir, apakah Forum PIF menjadi badan regional yang lebih kuat untuk mewakili suara-suara Pasifik?

Apa yang dapat kita perkirakan dari kemunculan dan penguatan sub-kelompok seperti Polynesian Leaders Group (Kelompok Pemimpin Polinesia) dan lainnya? Mungkinkah kemunculan kelompok-kelompok ini bisa menandakan awal dari rampungnya PIF?

Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi pihak yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi jika kita serius, pertanyaan ini harus diajukan dan pemimpin kita harus merespon.

Upacara penutupan yang mewah

Faktanya adalah sebelum kita sadari, pertemuan ini sudah selesai dengan upacara penutupan dan makan malam yang mewah di sebuah tempat eksotis bintang lima di mana para delegasi dan pemimpin akan menikmati anggur yang mahal dan bersukacita.

Tidak apa-apa. Mereka juga harus sedikit bersenang-senang, bukankah memang demikian?

Anda lihat, hari ini dalam pertemuan-pertemuan tersebut, kami yakin bahwa mereka sudah akan mempersiapkan pertemuan berikutnya. Begitulah prosedur kerja pertemuan seperti ini. Dan ini bukan hanya di Pasifik.

Talkfest (Festival ‘omong belaka’) seperti ini telah menjadi cara hidup dan Anda harus bertanya kapankan ini akan berakhir? Jika menyelamatkan planet ini adalah tujuannya, dapatkah Anda membayangkan jumlah jejak karbon yang ditinggalkan orang-orang ini dalam proses menyelamatkan planet?

Tapi siapa peduli?

Intinya adalah, entah bagaimana, seseorang harus menjelaskan mengapa perlu diadakannya satu pertemuan setelah pertemuan lain untuk mempersiapkan pertemuan lain untuk menganalisis pertemuan terakhir.

Tolong jangan salah sangka, kami mendukung penyelesaian masalah ini dan kami tidak pernah mencemooh diskusi tentang masalah ini. Berbicara tentang masalah jauh lebih baik daripada tidak mengakui adanya masalah sama sekali.

Waktunya berhenti berbicara dan mulai bertindak

Tapi kita juga harus sadar bahwa sebuah garis batas harus ditarik untuk menentukan waktunya berhenti berbicara dan mulai bertindak.

Dari sudut pandang kita, tindakan yang dilakukan belum cukup. Dan untuk Kepulauan Pasifik, kenyataannya adalah banyak masalah yang dibahas selama pertemuan ini terus memburuk sementara para pemimpin kita masih terus berdiskusi tentangnya.

Anda dapat memilih salah satu dari isu-isu yang penting, apakah itu kesehatan, pendidikan, lingkungan, tata pemerintahan, keadilan, gender, dan Anda akan mendapati bahwa kemajuannya sangat lamban, itupun jika ada sama sekali, namun pembayar pajak yang malang masih terus membiayai pejabat tinggi untuk meminum bir dan memakan hidangan yang lezat atas nama diskusi untuk kemajuan.

Baiklah, mari kita membuat pertemuan di Apia sebagai yang bermakna. Dan katakan padaku bahwa ada jawaban dibalik kegilaanmu melaksanakan semua pertemuan ini.

Tuhan memberkati.(Asia Pacific Report/ Elisabeth C.  Giay)

*Ditulis oleh Mata’afa Keni Lesa, seorang editor di warta berita Samoa Observer

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pengurangan dana dan kontrol politik hancurkan sistem universitas PNG

Selanjutnya

Komunike PIF ke- 48 di Apia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe