Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Mengapa Halimah terpilih jadi presiden Singapura?
  • Rabu, 13 September 2017 — 11:58
  • 960x views

Mengapa Halimah terpilih jadi presiden Singapura?

Halimah Jacob, 63, jadi presiden ke- 8 Singapura dan perempuan pertama yang memegang posisi sebagai kepala negara.
Halimah Yacob (berjilbab). Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Singapura, Jubi - Halimah Jacob, 63, jadi presiden ke- 8 Singapura dan perempuan pertama yang memegang posisi sebagai kepala negara.

Mantan Anggota Parlemen itu langsung memenangkan pemilu setelah bakal calon presiden lainnya gugur karena terjegal peraturan baru.

"Saya hanya bisa bilang saya berjanji akan melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk melayani warga Singapura ," ujar Halimah , Senin (10/9/2017).

Kemenangnnya itu semestinya jadi momen yang bisa dirayakan. Namun, hal tersebut justru diperdebatkan. Karena berbagai alasan terkait reputasi Singapura sebagai negara yang teknokratis dan efisien.

Meski jabatan presiden di Singapura hanya bersifat seremonial, pengembannya bisa memveto beberapa keputusan pemerintah. Seperti masalah keuangan yang menyentuh cadangan negara atau penunjukkan pejabat penting di layanan publik.

"Pihak diuntungkan dalam pemilu presiden yang sudah dapat dipastikan ini adalah Halimah Yacob dan timnya, serta oposisi Singapura, yang kini mempunyai bekal serangan baru terhadap PAP (Partai Aksi Rakyat). Seisi Singapura terkena dampaknya," kata Sudhir Vadaketh, pengamat Singapura.

Halimah sempat menjadi pendukung loyal PAP yang kini berkuasa. Baru belakangan ini Halimah tak lagi mendukung partai tersebut.

Dalam pemilu ini, untuk pertama kalinya, kandidat yang bisa menjadi presiden Singapura hanya boleh dipilih dari satu kelompok ras: Melayu.\

Amandemen pemilihan presiden terpilih yang disahkan oleh parlemen pada November tahun lalu, memberi peluang bagi etnis tertentu yang tidak memiliki perwakilan selama lima periode berturut-turut untuk menjadi presiden. Peluang itu diisi oleh Halimah dengan memenangkan pemilihan presiden Singapura.

"Ini menunjukkan kami tidak hanya bicara soal multi-rasialisme, tapi kami bicara tentang ini dalam konteks meritokrasi atau kesempatan untuk semua orang, dan kami benar-benar melakukannya," kata Halimah kepada Straits Times sebelum menyatakan maju sebagai capres.

Peraturan baru itu juga menetapkan kriteria lebih ketat pada latar belakang para kandidat. Misalnya, mereka yang berasal dari sektor swasta diwajibkan menjabat sebagai eksekutif utama sebuah perusahaan dengan setidaknya US$370 juta saham ekuitas.

Kedua bakal calon Melayu lainnya, pengusaha Salleh Marican dan Farid Khan, gagal mendapatkan sertifikat kelaikan dari Komisi Pemilu Presiden karena alasan itu, meski komisi sebenarnya bisa menggunakan diskresi untuk memungkinkan mereka tetap maju.

Para pengkritik menuding peraturan baru itu, adalah cara pemerintah untuk mengatur pemilu dan mencegah oposisi untuk mencalonkan diri.

Pada Agustus, pengadilan banding Singapura menolak gugatan terhadap sistem baru oleh Tan Cheng Bock, anggota partai penguasa yang membelot menjadi pengkritik. Tan kalah tipis dalam pemilu sebelumnya pada 2011 lalu oleh Tony Tan, mantan wakil perdana menteri.

Populasi Singapura terdiri dari 74 persen etnis China, 13 persen Melayu, 9 persen India dan 3,2 persen ras lainnya.

Halimah mencatat sejarah sebagai orang Melayu kedua yang terpilih sebagai presiden setelah Joseph Ishak (1965 - 1970), presiden pertama republik ini.

Halimah adalah mantan ketua parlemen , lahir pada 23 Agustus 1954 di rumah keluarganya di Queen Street, anak bungsu dari lima bersaudara.

Masa remajanya dihabiskan sebagai anak yatim. Ibunya bekerja sebagai penjual nasi padang keliling. Dia membantu ibunya setelah memiliki warung makan. Ia mencuci, membersihkan meja dan melayani pelanggan.

Akhir 1960-an, dia menimba ilmu di Singapore Chinese Girls 'School, dan merupakan salah satu dari sedikit murid Melayu di sekolah itu. Pada 1970 dia kemudian pergi ke Tanjong Katong Girls 'School dan University of Singapore. Dia lulus dengan gelar sarjana hukum.

Pada tahun 1978, Halimah bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) sebagai staf bidang hukum. Dia menghabiskan lebih dari 30 tahun di sana dan akhirnya ditunjuk sebagai wakil sekretaris jenderal.

Pada 1980, dia menikahi Mohamed Abdullah Alhabshee, seorang pengusaha. Mereka memiliki lima anak.

Pada 2001, dia masuk politik atas desakan Perdana Menteri Goh Chok Tong dan memenangkan 4 pemilu parlemen sejak itu.

Halimah Yacob yang berkecimpung dalam dunia politik pada usia yang tidak muda, kemudian menjadi anggota parlemen perempuan Melayu pertama sejak kemerdekaan. Pada 2013, Halimah ditunjuk sebagai ketua parlemen wanita pertama di Singapura.(*)

Sumber: CNN Indonesia/Tempo.co

 


 

loading...

#

Sebelumnya

Gempa Meksiko, terparah sepanjang 100 tahun

Selanjutnya

Mari Alkatiri emban Perdana Menteri Timor Leste

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe