Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Natan: berantas buta aksara di Papua butuh pendekatan kontekstual
  • Kamis, 14 September 2017 — 17:42
  • 416x views

Natan: berantas buta aksara di Papua butuh pendekatan kontekstual

"Pemerintah jangan mengatasi buta aksara hanya dalam angka dan program, tetapi ada tindakan di lapangan. Pertama, menggunakan bahasa daerah setempat dan tutor setempat. Saya pikir ada beberapa gereja memiliki ada tutor dan bahasa setempat, cara ini dapat digunakan mengatasi buta aksara di Papua," kata Natan kepada Jubi, Kamis (14/9/2017).
Ilustrasi aktivitas belajar mengajar Gerakan Papua Mengajar Kelompok Belajar Buper Waena, Kota Jayapura - gerakanpapuamengajar.org 
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Anggota Komisi V DPR Papua, komisi yang membidangi pendidikan, Natan Pahabol menyatakan, salah satu strategi yang perlu diterapkan pemerintah memberantas buta aksara di Papua, dengan konsep pendekatan kontekstual.

"Pemerintah jangan mengatasi buta aksara hanya dalam angka dan program, tetapi ada tindakan di lapangan. Pertama, menggunakan bahasa daerah setempat dan tutor setempat. Saya pikir ada beberapa gereja memiliki ada tutor dan bahasa setempat, cara ini dapat digunakan mengatasi buta aksara di Papua," kata Natan kepada Jubi, Kamis (14/9/2017).

Ia mengatakan, di Papua, motode membaca adalah kebudayaan baru. Sejak dulu, orang Papua tidak ada yang belajar berhitung, menulis dan membaca, tapi pengetahuan lisan. 

Menurutnya, tidak bisa masyarakat yang buta aksara diajar dengan menggunakan bahasa kedua,  misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta lainnya.

"Itu akan sangat membingungkan mereka. Setelah Injil masuk, barulah diperkenalkan membaca dan menulis. Makanya, perlu dimulai dengan bahasa daerah dan alat lain. Harus ada gagasan memberantas buka aksara di Papua," ujarnya. 

Katanya, pemerintah cukup menganggarkan dana dan menyerahkan tugas memberantas buta aksara ini kepada pihak LSM, aktivis, gereja dan tutor-tutor bahasa daerah.

"Ini tugas kita semua, tidak boleh hanya membebankan masalah ini kepada pemeirntah daerah, atau provinsi," katanya. 

Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) menyatakan angka bebas buta aksara di Tanah Air mencapai 97,93 persen sehingga sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga masih belum mengenal huruf dan mampu membaca.

Jumlah buta aksara di Tanah Air terjadi pada usia 15-59 tahun tersebar di 11 provinsi. Sebanyak 28,75 persen warga di Papua masih belum mampu mengenal huruf dan membaca. Ini mengakibatkan Papua menjadi provinsi paling tinggi angka buta hurufnya. 

Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih mengaku prihatin melihat jumlah angka buta huruf di Tanah Air.

"Program pemberantasan buta aksara ada di Ditjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud, namun yang terus memantau tingkat buta huruf negeri ini adalah Perpurnas. Sayangnya koordinasi di antara kedua pihak belum terlihat," kata Abdul Fikri.(*)

loading...

Sebelumnya

Pemkab Intan Jaya fokus selesaikan pertikaian pilkada

Selanjutnya

Pendaftaran pendamping desa online dinilai sulitkan anak Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe