Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Sulawesi
  3. Kandungan berbahaya PCC yang telan puluhan korban
  • Jumat, 15 September 2017 — 15:35
  • 973x views

Kandungan berbahaya PCC yang telan puluhan korban

Obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol dikatakan memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung singkat.
Polda Sultra bersama BNN Provinsi Sultra merilis hasil tangkapan ribuan pil Tramadol dan PCC yang diduga digunakan puluhan pelajar di Kota Kendari hingga menyebabkan mereka kehilangan kesadaran. Jubi/Tempo
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jakarta, Jubi - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan pernyataan resmi terkait kasus penyalahgunaan Paracetamol Cafein Carisoprodol atau PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam situs resminya bpom.go.id, BPOM menyatakan tablet bertuliskan PCC yang dikonsumsi pelajar Kendari positif mengandung Karisoprodol.

"Hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC menunjukkan positif mengandung Karisoprodol," ujar BPOM dalam situs resminya yang dikeluarkan pada Kamis, 14 September 2017 pukul 20:19.

Karisoprodol telah dibatalkan izin edarnya oleh BPOM sejak tahun 2013. Karisoprodol biasa disalahgunakan sebagai obat menambah rasa percaya diri, obat penambah stamina, bahkan digunakan oleh pekerja seks komersial (PSK) sebagai obat kuat.

Hal senada juga telah disampaikan oleh Kepala Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) dr. Jolan Tedjokusumo. Katanya, PCC dipercaya mampu meningkatkan kepercayaan diri. Namun jika digunakan dalam jangka panjang, maka dapat menimbulkan gangguan pada otak dan syaraf. "Makanya lalu ditarik dari peredaran," kata Jolan kepada Tempo.

Obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol dikatakan memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung singkat.

Terkait tindakan pencegahan terhadap penyalahgunaan obat maupun peredaran obat ilegal, BPOM akan bekerjasama dengan BNN dan Kepolisian membentuk tim Aksi Nasional Pemberantasan Penyalahgunaan Obat. Pencanangan aksi tersebut direncanakan pada tanggal 4 Oktober 2017.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mengidentifikasi kandungan Paracetamol Cafein Carisoprodol atau PCC yang beredar di Kendari, Sulawesi Tenggara. Permintaan ini menyusul adanya puluhan pelajar dan pegawai yang dibawa ke rumah sakit setelah mengonsumsi PCC.

“Jika ini terbukti zat psikotropika, Kemenkes mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap NAPZA yang mengganggu kesehatan. Kami juga berharap agar BNN menginvestigasi secepatnya,” kata dia dalam keterangannya, Kamis, 14 September 2017.

Jika telah terbukti berbahaya, Nila meminta BNN menetapkan PCC sebagai zat adiktif sehingga masyarakat mengetahui bahwa zat tersebut tak boleh dikonsumsi.

Dalam pantauan kementerian, hingga 14 September 2017 pukul 14.00 WIB, terdapat 60 korban penyalahgunaan obat-obatan yang dirawat di tiga RS. Rumah Sakit Jiwa Kendari menangani 46 korban, Rumah Sakit Kota Kendari 9 korban, dan Rumah Sakit Provinsi Bahteramas 5 korban. Dari 60 korban tersebut, ada 32 korban rawat jalan, 25 korban rawat inap, dan 3 orang yang dirujuk ke RS Jiwa Kendari.

Menurut Nila, para korban yang rata-rata berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi setelah mengonsumsi obat-obatan seperti Somadril, Tramadol, dan PCC. "Mereka mengalami gejala gangguan mental," kata dia. Bahkan, salah satu korban yang masih berusia anak-anak meninggal dunia setelah mengonsumsi obat tersebut.

Kasus penyalahgunaan PCC ini mencuat berawal dari video yang diunggah warga Kendari di laman Facebook pribadinya pada Rabu, 13 September 2017. Sekitar 50 pelajar dan pegawai dirawat di sejumlah rumah sakit karena mengalami gejala gangguan mental usai mengonsumsi obat-obatan, seperti Somadril, Tramadol, dan PCC. Secara serampangan, ketiga jenis obat itu juga dikonsumsi bersama dengan minuman keras oplosan.

Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Sultra), menangkap delapan pengedar obat terlarang jenis PCC yang banyak beredar dan dikonsumsi warga di daerah itu.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tenggara, Komisaris besar (pol) Satria Adhi Permana, mengungkapkan kedelapan tersangka berjenis kelamin perempuan.

"Dua dari delapan tersangka merupakan oknum apoteker dan asisten apoteker salah satu apotek di Kendari," katanya.

Selain apoteker itu katanya, pihaknya juga menangkap enam pengedar lainnya yang biasa beroperasi di Kota Kendari, Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Konawe.

Dari tangan pelaku, polisi menyita ribuan pil Somadril dan Tramadol. Delapan tersangka tersebut sudah meringkuk di sel tahanan Polda Sultra dan Polres Kendari.

"Dari tangan tersangka telah disita ribuan butir obat PCC jenis Somadril dan Tramadol," katanya.

Menurutnya, penyalahgunaan obat tersebut diduga kuat menjadi pemicu terjadinya kelainan kejiwaan yang terjadi pada puluhan remaja di Kota Kendari.

"Para tersangka ini kita akan terapkan Undang-Undang Kesehatan khususnya di pasal 197 dan pasal 196. Yang bersangkutan dinyatakan sebagai penyedia, pengada dan penjual dari daftar obat G tersebut,"(*)

Sumber: Tempo.co/Antara

 

loading...

#

Sebelumnya

Karawo tampil di "Couture New York Fashion Week"

Selanjutnya

RS Ainun Habibie operasi gratis 1.100 pasien katarak

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe