Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Seruan gereja-gereja Pasifik tentang perubahan iklim
  • Sabtu, 16 September 2017 — 06:31
  • 1133x views

Seruan gereja-gereja Pasifik tentang perubahan iklim

Dukungan oleh Gereja-gereja Pasifik, termasuk tiga Gereja yang berbasis di Fiji - Keuskupan Anglikan Polinesia, Gereja Metodis di Fiji dan Gereja Presbiterian St. Andrews serta Dewan Gereja-gereja Fiji, menunjukkan pentingnya keterlibatan Fiji di COP23 bagi Pasifik dan negara-negara yang rentan.
Perdana Menteri Voreqe Bainimarama berjabat tangan dengan PM Tuvalu Enele Sopoaga saat penutupan the Climate Action Pacific Partnership bulan Juli kemarin – Fiji Times/James Bhagwan
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Suva, Jubi – Pada pembukaan konferensi Climate Action Pacific Partnership di Suva pada bulan Juli tahun ini, Perdana Menteri Voreqe Bainimarama menegaskan perspektif unik yang dibawa oleh masyarakat Pasifik dalam diskusi seputar perubahan iklim berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman masyarakat Pasifik sendiri.

“Tentu saja tidak ada yang salah dengan adanya perbedaan pendapat tentang jalan terbaik bagi kita untuk maju. Yang penting adalah, mengingat besarnya tantangan yang kita hadapi untuk meyakinkan seluruh dunia agar bertindak terhadap perubahan iklim, untuk tetap bersatu karena akan jauh lebih efektif jika kita semua berbicara dengan satu suara: suara Pasifik, suara dari beberapa kelompok masyarat yang paling rentan dan menuntut tindakan nyata serta menuntut seruan kita didengarkan. “

Sebulan kemudian, Pemimpin Gereja Pasifik, mewakili sekitar 20 gereja Pasifik dan dewan-dewan gereja nasional mengeluarkan pernyataan mendukung Pasifik melalui Fiji untuk menjadi panitia COP23 (Conference of the Parties to the UN Convention on Climate Change, Konferensi negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB atau UNFCCC).

Dukungan oleh Gereja-gereja Pasifik, termasuk tiga Gereja yang berbasis di Fiji - Keuskupan Anglikan Polinesia, Gereja Metodis di Fiji dan Gereja Presbiterian St. Andrews serta Dewan Gereja-gereja Fiji, menunjukkan pentingnya keterlibatan Fiji di COP23 bagi Pasifik dan negara-negara yang rentan.

Dukungan ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Ini adalah bagian dari mempraktikkan “suara kenabian mereka sebagai gereja dan orang percaya tentang iman mereka untuk memperkuat teriakan umat kita dan Moana (Samudra) yang secara langsung atau tidak langsung akan terkena dampak perubahan iklim, dan mendorong semangat kita sebagai penjaga ciptaan Allah”.

Selama satu setengah dekade lalu, gereja-gereja di Pasifik telah berusaha menjadi penyalur suara bagi masyarakat yang tidak bersuara dalam isu perubahan iklim; menyatukan dunia ilmiah dan sains oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim) dan pengalaman langsung masyarakat Kepulauan Pasifik yang rentan.

Tapi mengapa peran gereja dan komunitas agama begitu penting dalam mengatasi perubahan iklim dan dalam mempengaruhi perubahan penting di isu-isu genting di Pasifik lainnya?

Dalam sebuah artikel baru-baru ini yang berjudul,”Sidelining God: Why secular climate projects in the Pacific Islands are failing” (“Mengesampingkan Allah:  Mengapa proyek iklim sekuler di Kepulauan Pasifik gagal"), akademisi Australia Profesor Patrick Nunn mengatakan dia melihat badan-badan asing selalu gagal menghasilkan dampak yang efektif untuk mengubah sikap dan pandangan masyarakat Pasifik tentang perubahan iklim.

Dia menulis, “Mengapa, tanya mereka, spiritualitas memiliki peran dalam masalah seperti adaptasi perubahan iklim atau manajemen resiko bencana, yang begitu jelas dibingkai dalam istilah yang sangat manusiawi dan sekuler dan sama sekali tidak spiritual?”

Ini adalah pertanyaan retoris, karena menurut Profesor Nunn jawabannya terletak pada siapa yang membingkai pertanyannya.

Di kawasan Pasifik, sama seperti di sebagian komunitas lainnya di seluruh dunia, spiritualitas yang dibentuk oleh kepercayaan sangat mempengaruhi cara kita menginterpretasikan, mengerti, dan berkomunikasi dengan sesama manusia dan dengan alam.

Menekankan betapa mendesaknya memproses Perjanjian Paris sebagai perjanjian legal yang membatasi kenaikan suhu global dan bertujuan untuk memperkuat respon global terhadap ancaman perubahan iklim dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan usaha untuk memberantas kemiskinan, gereja-gereja Pasifik menyerukan kepada semua pemerintah dan organisasi internasional untuk:

  • Meningkatkan komitmen mengurangi emisi karbon untuk menjaga kenaikan suhu global tidak melebih 1.5°C di atas tingkat pra-industri;
  • Menguraikan secara jelas dan menerapkan secara langsung Rencana Adaptasi Nasional sesuai dengan Perjanjian Paris;
  • Kesepakatan dan pengakuan akan kebutuhan dan hak asasi manusia dari kelompok-kelompok paling rentan;
  • Untuk menghentikan semua subsidi bahan bakar fosil secepatnya dan transisi dari bahan bakar fosil menjadi 100% energi terbarukan pada tahun 2050;
  • Segera melakukan usaha untuk menutup kesenjangan antara tingkat internasional, nasional dan khususnya di tingkat lokal, yang menghambat pendekatan adaptasi iklim berbasis masyarakat dan manajemen resiko bencana yang dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dan mengatasi kemiskinan; dan
  • “Gereja-gereja mengakui kearifan lokal dan kekuatan masyarakat lokal sebagai faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam membangun Pasifik yang lebih lestari dan memiliki ketahan iklim tinggi.
  • “Melibatkan partisipasi semua anggota masyarakat, mencakup semua sub-kelompok masyarakat yaitu perempuan, kaum muda, anak-anak, kemunitas  difabel, dan kelompok minoritas lainnya.”

“Oleh karena itu kami menyerukan agar diadakan konsultasi dan partisipasi dari komunitas kami dalam proses perencanaan adaptasi iklim nasional mulai dari awal untuk benar-benar mengadopsi potensi mereka, dan menciptakan sebuah budaya manajemen resiko yang proaktif dan bukan reaktif, meningkatkan efisiensi, melindungi kehidupan dan penghidupan, dan mengurangi kerugian ekonomi dan non-ekonomi.”(Fiji Times/Elisabeth C. Giay)

Pendeta James Bhagwan adalah kontributor reguler kolom ini.

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pengusaha perempuan Vanuatu masuk 70 perempuan inspirasional Pasifik

Selanjutnya

PNG rayakan Hari Kemerdekaan ke-42 Tahun

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe