Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Pendeta Dani Mitha: saya tidak pernah mengerahkan massa
  • Senin, 18 September 2017 — 19:01
  • 1117x views

Pendeta Dani Mitha: saya tidak pernah mengerahkan massa

"Sebagai saksi dan seorang pendeta yang pernah difitnah mengerahkan sekitar 700 warga Jemaat GKI Sion, Padang Bulan, membuat kerusuhan. Saya klarifikasi hari ini, tidak pernah terjadi seperti itu," kata Pdt. Dani Mitha dalam keterangan pers di Kantor Klasis GKI Kota Jayapura, Senin (18/9/2017).
Pdt. Anike Mirino, KPKC Klasis Jayapura,  Ketua Badan Pekerja Klasis GKI Jayapura, Pdt. Hein C. Mano, dan saksi, Pdt. Dani Mitha ketika menggelar konferensi pers di Kantor Klasis GKI Jayapura, Senin (18/9/2017) - Jubi/Arjuna
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Pendeta Dani Mitha, saksi dalam kasus terbakarnya kitab suci di Pengadilan Militer III-19 Jayapura dengan terdakwa Serda BAK atau BS, menyatakan ia tidak pernah mengerahkan massa, ketika terjadi rusuh di depan Korem 172/PAW, Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, 25 Mei 2017.  

"Sebagai saksi dan seorang pendeta yang pernah difitnah mengerahkan sekitar 700 warga Jemaat GKI Sion, Padang Bulan, membuat kerusuhan. Saya klarifikasi hari ini, tidak pernah terjadi seperti itu," kata Pdt. Dani Mitha dalam keterangan pers di Kantor Klasis GKI Kota Jayapura, Senin (18/9/2017).

Menurutnya, ketika itu pihaknya pergi untuk menyelesaikan secara baik-baik. Meminta kepada Kasrem, menyelesaikan dengan baik.

"Situasi di luar kami juga tidak tahu, tiba-tiba ada gejolak dan kami juga berusaha menenangkan pada waktu itu. Saya juga menyesalkan beberapa media online yang membuat berita tanpa ada konfirmasi yang valid," ujarnya.

Katanya, gereja tidak pernah mengajak warganya rusuh. Begitu juga ketika hadir dalam setiap persidangan kasus terbakarnya kitab suci, pihaknya tidak pernah mengajak masyarakat.

"Kami tidak mau Papua ribut. Kalau Papua ribut, nanti dibilang ini karena gereja. Kami tidak mau itu terjadi, karena gereja di Papua ini pernah dicap separatis. Sampai saat ini Papua masih aman karena ada suara gereja," ujarnya. 

Ketua Badan Pekerja Klasis GKI Jayapura, Pdt. Hein C. Mano mengatakan, GKI di Tanah Papua memaafkan perbuatan terdakwa, tetapi proses hukum pidana material terhadap terdakwa harus tetap jalan.

Katanya, penegak hukum, termasuk institusi TNI dan Polri, jangan bersikap membedakan mayoritas dan minoritas. 

"Kalau memang itu atas nama negara dan keadilan, hukum harus ditegakkan. Meski ada pengampunan dari gereja, keadilan harus ditegakkan, hukum harus dijunjung tinggi," ujarnya. (*)

Sebelumnya

Julius: DPT pilkada Intan Jaya akan pengaruhi pilgub dan pemilu

Selanjutnya

Aksi hari ini, Relawan LE siap duduki Kantor Gubernur Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe