Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Soal nuklir di Pasifik, ingat Perjanjian Funafuti dan Rarotonga
  • Jumat, 22 September 2017 — 09:18
  • 454x views

Soal nuklir di Pasifik, ingat Perjanjian Funafuti dan Rarotonga

Pilihannya cukup sederhana: apakah kita akan mewariskan kepada anak-anak kita pulau-pulau di samudra yang terkontaminasi dengan bahan radioaktif, atau kita berkomitmen untuk meninggalkan warisan bebas nuklir bagi generasi penerus kita, orang-orang lautan Pasifik, di masa depan.
Warga atol Bikini di Kepulauan Marshall saat dievakuasi setelah uji coba nuklir di wilayah tersebut oleh Amerika Serikat - RNZI/Photo curtesy of US Navy
PINA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Suva, Jubi – Seperti dilaporkan oleh Nic McClellan untuk PINA minggu lalu dari Apia, Perdana Menteri Tuvalu, Sopoaga, mngumumkan komitmen Tuvalu untuk Nuclear Ban Treaty (Perjanjian Pelarangan Nuklir; NBT).

Ini adalah berita yang membesarkan harapan, mengingat Tuvalu, bersama dengan anggota Forum Federated States of Micronesia (Federasi Mikronesia, FSM) lainnya, Nauru, dan Australia, tidak menghadiri pemungutan suara akhir untuk NBT di PBB pada bulan Juli kemarin.

Sebagai bentuk pengakuan sejarah aktivitas nuklir yang perih dan menyakitkan di Pasifik, Perdana Menteri merujuk pada “semangat” Perjanjian Rarotonga.

Lebih dari semangat perjanjian tersebut, semangat persatuan dan kemerdekaan Pasifik yang mendukung pembentukan South Pacific Nuclear Free Zone (Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, SPNFZ).

Antusiasme itulah yang kami harapkan dibawah oleh para pemimpin kami kepada Majelis Umum PBB mendatang dan meratifikasi Traktat Pelarangan Nuklir pada tanggal 20 September.

Dalam bingkai sejarah

Komentar dari PM Sopoaga ini seolah memanggil kita untuk melihat kembali pertemuan-pertemuan  Forum krusial yang telah lalu dan berperan penting dalam menetapkan zona bebas nuklir di daerah berpopulasi tinggi kedua di seluruh dunia: Funafuti (1984) dan Rarotonga (1985).

Para pemimpin Pasifik kita memainkan peran penting dalam membangun zona bebas nuklir sebagai bukti solidaritas melawan kolonialisme di daerah Pasifik dan aktivitas nuklir Prancis yang sedang berlangsung pada saat itu di Te Ao Maohi (masyarakat pribumi Tahiti dan Polinesia Prancis modern ini).

Di negara Tuvalu-lah rancangan perjanjian tersebut diadopsi dan dimana mengusulkan larangan pembuangan limbah nuklir di Pasifik oleh Jepang. Akibat pemimpin Forum kami yang memiliki pemikiran ke masa depan, pada tahun 1984, zona bebas nuklir regional dilihat sebagai sarana untuk “mempertahankan momentum debat internasional mengenai perlucutan dan pengawasan senjata”

SPNFZ didukung oleh tetangga Pasifik kami dari Cile, Kolombia,Ekuador, dan Peru - anggota PCSP dan Perjanjian Tlatelolco, yang pada saat itu telah menetapkan Amerika Latin dan Karibia sebagai zona bebas nuklir juga.

Pada tahun berikutnya saat pertemuan di Kepulauan Cook dimana “Forum mengamati bahwa persetujuan dengan Perjanjian Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan ... mencerminkan keprihatinan mendalam dari semua anggota Forum mengenai adu kepemilikan senjata nuklir yang terus berkelanjutan dan resiko perang nuklir.” Perjanjian Rarotonga adalah ditandatangani di South Pacific Forum (Forum Pasifik Selatan) ke-16 oleh Australia, Selandia Baru, Kepulauan Cook, Tuvalu, Samoa, Fiji,
Kiribati, dan Niue. Nauru, PNG,

Kepulauan Solomon, Tonga, dan Vanuatu turut meratifikasi perjanjian tersebut mengikuti prosedur konstitusional masing-masing. Digabungkan, ke tiga belas negara Pasifik ini merupakah lebih dari seperempat dari lima puluh tanda tangan yang dibutuhkan untuk dunia bebas nuklir.

Lautan pulau-pulau

Pembentukan SPNFZ menunjukkan kepada dunia bahwa Pasifik, yang pernah menjadi panggung utama  saat perang dunia dan lokasi lebih dari 300 tes bom nuklir dan termonuklir, dibangun kembali sebagai zona damai.

Bukan hanya ‘lautan pulau-pulau’ seperti yang dikatakan Epeli Hau'ofa (penulis dan antropolog Tonga dan Fiji), namun lautan pulau-pulau yang bebas dari nuklir.

Kami hendak mengingatkan kembali semangat Nuclear Free and Independent [Blue] Pacific (Pasifik Biru yang Independen dan Bebas Nuklir) saat para pemimpin kita mengambil posisi mereka di panggung dunia di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke 72 - badan sangat mapan yang menghentikan dan membuang ke luar jendela teater perang Pasifik,
pada saat wilayah ini hnaya dianggap sebagai ‘pulau-pulau di laut yang jauh (dan tidak signifikan).’

Saya lebih memilih jika Anda menandatangani perjanjian NBT.

Pekan lalu di Apia, para pemimpin forum PIF telah sepakat untuk menulis surat kepada Amerika Serikat untuk mendukung keadilan nuklir bagi Kepulauan Marshall, yang merupakan usaha untuk menunjukkan solidaritas kepada Kepulauan Marshal usaha yang disambut dengan baik.

Namun, sebagai ibu dua anak laki-laki Enjebi / Enewetak / Ujelang (atol dan pulau-pulau di Kepulauan Marshal lokasi tes nuklir AS operasi Sandstone) yang terpaksa harus mengungsi karena kontaminasi radioaktif di tanah, saya lebih memilih jika Anda untuk menandatangani Perjanjian Pelarangan Nuklir pada tanggal 20 September.

Tanda tangan Anda akan mengirim pesan lebih kuat daripada sekedar inisiatif politik yang berkata bahwa Anda mengakui penderitaan dan kesulitan dari keluarga anak-anak saya, dan bahwa Anda dapat mewujudkan semangat Regionalisme Pasifik yang benar dengan melakukan apa yang dapat Anda lakukan untuk melindungi masa depan yang sangat penuh ketidakpastian bagi cucu dan cicit saya.

Pilihannya cukup sederhana: apakah kita akan mewariskan kepada anak-anak kita pulau-pulau di samudra yang terkontaminasi dengan bahan radioaktif, atau kita berkomitmen untuk meninggalkan warisan bebas nuklir bagi generasi penerus kita, orang-orang lautan Pasifik, di masa depan.

Pilihan apa yang akan Anda ambil?(Elisabeth C. Giay)

*Brooke Takala adalah seorang ibu, kandidat PhD di University of the South Pacific, dan coordinator di LSM yang disebut Elimoñdik.

Sebelumnya

Pelestarian budaya dan tradisi iTaukei

Selanjutnya

Sebuah kisah persahabatan yang harus diceritakan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe