Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bomberai
  3. Masjid tua Patimburak bukti keberagaman Fakfak
  • Jumat, 22 September 2017 — 10:40
  • 741x views

Masjid tua Patimburak bukti keberagaman Fakfak

Arkeolog Papua, Hari Suroto, menilai keberadaan masjid tua Patimburak yang terletak di kampung Patimburak, distrik Kokas, kabupaten Fakfak, Papua Barat, merupakan bukti keberagaman warga setempat.
Masjid tua Patimburak yang terletak di kampung Patimburak, distrik Kokas, kabupaten Fakfak, Papua Barat, dibangun tahun 1870, adalah masjid tertua di Kabupaten Fakfak, sebagai bukti keberagaman dan simbol toleransi masyarakat di wilayah tersebut – Jubi/IST
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi  - Arkeolog Papua, Hari Suroto, menilai keberadaan masjid tua Patimburak yang terletak di kampung Patimburak, distrik Kokas, kabupaten Fakfak, Papua Barat, merupakan bukti keberagaman warga setempat.

"Masjid tua Patimburak dibangun oleh Raja Pertuana Wertuar pada 1870 Masehi yang menunjukkan keberagaman di daerah itu," kata Hari Suroto, di Jayapura, Kamis (21/9/2017).

Arsitektur masjid itu, kata dia, sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja. Apalagi jika dilihat dari kejauhan, masjid tersebut terlihat seperti gereja, dimana kubahnya mirip arsitektur gereja-gereja di Eropa pada masa lampau.

"Hasil penelitian arkeologi menunjukkan masjid tua Patimburak merupakan wujud dari konsep filosofi satu tungku tiga batu," katanya.

Masjid tua Patimburak dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar, baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen.

Saat itu, pada 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Pertuanan Wertuar.

"Satu tungku tiga batu mengandung arti 'tiga posisi penting' dalam keberagaman dan kekerabatan etnis di Fakfak. Satu tungku tiga batu artinya tungku tersusun atas tiga batu berukuran sama," katanya.

Ketiga batu ini, lanjut dia, diletakkan dalam satu lingkaran dengan jarak satu sama dengan lainnya sehingga posisi ketiganya seimbang untuk menopang periuk tanah liat.

Tungku yang berkaki tiga membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga tersebut rusak, tungku tidak dapat digunakan.

"Makna agama dalam konsep filosofi satu tungku tiga batu, bahwa ketiga batu itu dilambangkan sebagai tiga agama yang sama kuat dan menjadi kesatuan yang seimbang untuk menopang kehidupan dalam keluarga. Tiga agama ini adalah  Islam, Protestan, dan Katolik," katanya.

Tidak jarang dalam satu keluarga besar di Fakfak dan sekitarnya terdapat tiga aliran agama, tetapi mereka hidup rukun dan damai disertai nilai-nilai toleransi yang tinggi.

"Mereka tidak akan pernah terpengaruh oleh isu-isu ataupun perselisihan terkait agama. Toleransi hidup beragama di Fakfak sangat kental dan tetap dipertahankan oleh masyarakat dan patut untuk dicontoh, sebagai bentuk keberagaman dan kebhinekaan yang ada di Indonesia," kata Hari. (*)
 

loading...

Sebelumnya

Rusli: sektor pariwisata di Kaimana harus diseriusi

Selanjutnya

Gubernur Mandacan takjub melihat keindahan Teluk Triton Kaimana

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe