Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Sebuah kisah persahabatan yang harus diceritakan
  • Minggu, 24 September 2017 — 14:11
  • 519x views

Sebuah kisah persahabatan yang harus diceritakan

Ini adalah kisah tentang sebuah kelompok pertemanan antara kaum muda dari kelompok etnis terbesar di Fiji yang persahabatannya tak tersentuh oleh intrik dan pengaruh politisi dan tokoh masyarakat.
Blair Robertson bersama bukunya Kaiviti - A Fiji Tale - IST
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Suva, Jubi – Ketika Blair Robertson meluncurkan buku pertamanya Kaiviti - A Fiji Tale (Kaiviti – Sebuah Kisah Fiji), dia tidak yakin tanggapan seperti apa yang akan dia terima.

Majalah Islands Business menggambarkan buku sebagai hasil dari inspirasi masa mudanya.

“Robertson menceritakan kisah seorang pemuda yang tumbuh di daerah multi-etnis Pacific Harbour di tepi Teluk Rovodrau, sekitar 45 kilometer dari ibu kota Fiji, Suva.

Ini adalah kisah tentang sebuah kelompok pertemanan antara kaum muda dari kelompok etnis terbesar di Fiji yang persahabatannya tak tersentuh oleh intrik dan pengaruh politisi dan tokoh masyarakat.

Walaupun persahabatan mereka tidak terpengaruh oleh politik, namun jelas bahwa perubahan di Ibu kota Suva akhirnya menjangkau setiap bagian dari negara higga akhirnya mempengaruhi kehidupan individu masyarakat.

Kaiviti adalah sebuah Kisah Fiji menceritakan Sean McDougall sehari-harinya bersekolah di Down Memory Lane History yang muncul dalam novel ini yang ditulis oleh Blair Robertson dan diterbitkan oleh University of the South Pacific, berbicara tentang kegiatan selancar piknik di Pacific Harbour yang selalu dilakukan di saat akhir pekan dan terpaksa harus dihentikan mendadak akibat Kudeta Rabuka.

“Kami menerima banyak respon dan jelas sekali banyak orang menikmati buku ini, terutama mereka yang tertarik dengan Fiji dan ingin mendapatkan lebih banyak informasi tentang negara ini dalam bentuk cerita,” kata Robertson.

“Beberapa pembaca yang tahu tentang waktu kejadian di dalam buku ini terjadi merasa ada beberapa informasi rahasia di dalamnya.”

Robertson sedang bekerja di Indonesia bekerja untuk sebuah majalah saat dia terinspirasi untuk bangun di pagi hari dan menulis buku pertamanya.

“Saya dibesarkan di Fiji dan saya ingin menunjukkan sifat multikultural negara itu kepada pembaca sehingga mereka yang datang dari luar negeri dapat belajar sesuatu tentang negara kita dalam bentuk cerita dan bukan saja buku sejarah,” tuturnya.

Menyusul keberhasilan Kaiviti - A Fiji Tale, Robertson sekarang sedang bersiap untuk meluncurkan buku keduanya.

Ini adalah seri kedua dari rangkaian empat buku yang diharapkannya akan sangat dinikmati pembaca.

“Saya merasa bahwa sejarah itu sangat menarik dan saya pikir Fiji memiliki sejarah yang sangat kaya dan, sayangnya, tidak banyak materi yang ditulis mengenai sejarah Fiji.

“Penelitian yang saya lakukan untuk buku ini (yang kedua) menunjukkan mudahnya saya mendapatkan buku-buku saat ini, terutama ada banyak buku tentang masa Lapita. Jadi, Anda harus belajar tentang setiap aspek budaya, tentang setiap tempat dan waktu, untuk mengetahui secara mendalam tentang apa yang Anda tulis.

“Sampai Anda tahu atau mengerti semua hal ini, Anda akan bisa memahami gambaran era tersebut.

"Buku ini adalah tentang sebuah kelompok dusun kecil yang tinggal di bagian timur Solomon. Suatu hari, ada beberapa penyusup datang dan kemudian dari sana mereka melakukan sebuah perjalanan, dan perjalanan ini membawa mereka menyeberangi samudra ke sebuah negeri bernama Fiji."

Dia menambahkan lebih dalam penelitian yang dia lakukan, semakin baik pemahamannya tentang orang Lapita.

"Saya menemukan beberapa hal seperti agama di Polinesia atau apa saja yang diketahui tentang masa-masa itu. Saya juga mengetahui tentang beberapa budaya Melanesia yang berbeda. Untuk dapat menulis buku ini, saya mengumpulkan informasi dan membuat database tentang setiap aspek kehidupan orang Lapita. Meneliti beberapa buku dan hampir semua literatur berhubungan dengan ini yang telah terbitkan. Setelah itu, mengumpulkan dan menyatukan cerita ini tentang sekumpulan orang yang datang beberapa ribu tahun yang lalu ke Fiji. "

Robertson mengatakan bahwa dia berharap buku keduanya dapat melukiskan gambaran yang jelas dan akurat tentang kehidupan seperti apa yang terjadi pada masa itu.

“Buku ini tidak memberi tahu secara pasti apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, tapi mungkin memberi kita apa yang mungkin terjadi di masa lalu. Anda melakukan penelitian dan ceritanya berputar pada plot utama dan plotnya harus membuat seseorang yang sedangn membaca buku ini untuk membuka ke halaman berikutnya.

“Saya senang telah menulis buku yang kedua karena ada empat buku dalam seri ini.

“Ini adalah bagian dari rangkaian, jadi saya berharap bisa menyelesaikan seri ini dengan baik. Saya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menulis buku yang pertama, jadi saya telah belajar menguranginya sedikit dalam penulisan ulang.”

Lantas seprti apa rencananya seperti dia menyelesaikan empat seri bukunya? "Saya suka terbangun pagi-pagi sekali dan menulis, keluarga saya juga menyukai rutinitas ini,” katanya.

“Untuk melakukan rutinitas itu setiap hari, dan juga pada saat yang bersamaan menghadapi tantangan bekerja di sektor bisnis, adalah perpaduan yang baik. Saya merasa bahwa saya lebih produktif dalam menulis, jadi saya suka bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit karena itu adalah saat-saat yang paling damai – saat itulah saya mendapatkan semua ide saya.” (*)

loading...

Sebelumnya

Soal nuklir di Pasifik, ingat Perjanjian Funafuti dan Rarotonga

Selanjutnya

Eafere, Wakil Direktur Jenderal MSG yang baru

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe