Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Maluku
  3. Perda perempuan dan anak korban kekerasan direvisi
  • Minggu, 24 September 2017 — 17:44
  • 4665x views

Perda perempuan dan anak korban kekerasan direvisi

setiap korban berhak mendapatkan perlindungan, informasi, pelayanan terpadu, penanganan, berkelanjutan sampai tahap rehabilitasi dan penanganan baik dari individu, kelompok atau lembaga pemerintah maupun masyarakat.
Ilustrasi. Nusantaranews.co/Jubi
ANTARA
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Ternate, Jubi - Legislator di Ternate, Maluku Utara (Malut) akan merivisi Perda nomor 3 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan agar sesuai dengan kondisi kekinian.

"Hasil koordinasi dengan dinas terkait dan LSM memang substansi perda harus diubah, karena belum mengakomodir pemenuhan hak-hak anak sesuai dengan aturan yang berlaku," kata Ketua Bapemperda DPRD Ternate, Nurlaela Syarif di Ternate, Minggu ( 24/09/2017).

Untuk itu, DPRD Kota Ternate akan mengusulkan revisi perda itu dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda) tahun 2018 sebagai ranperda inisiatif.

"Muatan perda ini harus direvisi karena faktor banyak aturan di atasnya sudah tidak sesuai serta muatan perlindungan anak sedikit dalam norma, sehingga tidak ada pilihan lain selain harus disesuaikan dengan kondisi kekinian," ujar Anggota Fraksi Nasdem tersebut.

Menurut dia, Bapemperda menemukan 47 kasus terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan diduga masih banyak korban yang tidak melapor.

"Sesuai data selama tiga tahun terakhir terjadi kekerasan perempuan dan anak. 19 kasus yang diadvokasi (2015), 15 kasus pada tahun 2016 dan 13 kasus di tahun 2017 dan kasus ini terlapor di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak dan yang riskan di 2017 peningkatan di kasus pencabulan terhadap anak," ujarnya.

Ia menambahkan, setiap korban berhak mendapatkan perlindungan, informasi, pelayanan terpadu, penanganan, berkelanjutan sampai tahap rehabilitasi dan penanganan baik dari individu, kelompok atau lembaga pemerintah maupun masyarakat.

"Setiap korban kekerasan berhak mendapatkan perlindungan dan pendampingan baik psikologis maupun hukum serta mendapatkan jaminan atas hak-haknya yang berkaitan dengan statusnya sebagai anggota keluarga maupun masyarakat," ujarnya. (*)
 

loading...

#

Sebelumnya

Dua penyandang disabilitas ikut seleksi CPNS Kemenkumham

Selanjutnya

Pelayanan publik di Ternate masih rendah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat