Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Tekan angka penyalahgunaan narkoba, BNN berharap kerjasama keluarga
  • Selasa, 26 September 2017 — 10:28
  • 334x views

Tekan angka penyalahgunaan narkoba, BNN berharap kerjasama keluarga

Untuk mengurangi angka penyalahgunaan narkoba jenis ganja dan sabu-sabu di Kabupaten Jayapura dibutuhkan kerjasama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten dan masyarakat.
Salah seorang staf Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Jayapura saat melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba di sekolah - Jubi/Yance Wenda 
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Sentani, Jubi - Untuk mengurangi angka penyalahgunaan narkoba jenis ganja dan sabu-sabu di Kabupaten Jayapura dibutuhkan kerjasama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten dan masyarakat.

“Kita punya keluarga ini belum sadar ketika ada keluarganya mengunakan narkoba. Padahal dalam UU 35 pasal 54 menyebutkan setiap pecandu narkoba wajib direhabilitasi, ” jelas Kasi Reabilitasi BNN Kabupaten Jayapura,Yulius Panggau.

Saat ditemui Jubi di ruang kerjanya, Senin (25/9/2017), Yulius menjelaskan pentingnya wajib rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba agar ia dapat diselamatkan dari ketergantungannya pada narkoba. Apabilah tidak dilakukan rehabilitasi akan merusak perkembangan otaknya.

“Tapi kalau dia kategori pengedar narkoba, sesuai surat edaran Mahkama Agung, kepemilikan ganja diatas 5 gram tetap dihukum, karena itu bukan untuk digunakan sendiri tetapi membagikan ke orang lain. Dia masuk kategori pengedar atau penjual dan harus dihukum,” ucapnya.

Yulius juga mengatakan bagi orang tua yang tidak melaporkan anaknya sebagai pengguna, bisa dipidana karena tidak ada rasa tangung-jawab terhadap anaknya.

“Saya sering sampaikan ke masyarakat, kita orang tua itu bukan hanya sebatas melahirkan tetapi didalamanya ada bagaimana rasa tangung-jawab untuk sekolahkan dan menjaga anak supaya tidak masuk dalam perilaku yang bisa merusak masa depannya,” ucap Yulius.

Kata Yulius, untuk melakukan rehabilitasi, jika si anak sudah berusia diatas 18 tahun, dia dapat datang sendiri melakukan rehabilitasi. Jika anak masih berusia dibawah 18 tahun, harus ada pengawasan dari orang tua.

“Kebanyakan anak –anak usia sekolah yang kami rehabilitasi. Saya biasa bilang ke mereka, kalian harus lihat jam-jam yang kamu tidak belajar, baru datang ke kantor. Karena kami di kantor sampai pukul empat sore. Kalau hari Jumat kantor buka sampai pukul lima sore,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bagi siswa-siswi yang direhabilitasi bukan berarti mereka itu harus dikeluarkan dari sekolah. Mereka tetap berhak mengikuti pelajaran layaknya teman-teman lainnyanya yang tidak terlibat penyalahgunaan narkoba dan tidak sedang mengikuti rehabilitasi.

“Kami juga memberitahukan kepada kepala sekolah. Sepanjang anak itu hanya sebagai penguna, tidak boleh keluarkan dari sekolah, karena anak itu punya hak untuk tetap sekolah” jelas Panggau.

Di tempat ang terpisah, warga masyarakat, Simson Wanimbo, mengatakan anak-anak yang terjerak penyalahgunaan narkoba biasa memang agak kurang mendapat pengawasan dari orang tua.

“Anak-anak ini susah kalau tujuan sekolah itu sekolah saja kak. Masih merayap di bawah saja baru bikin tahu-tahu, pake-pake barang itu. Nanti mereka tes kerja bagaimana kalau sudah penguna apalagi penerimaan saja sudah pake tes urin begitu,” kata Simson. (*)

 

Sebelumnya

SMPN 1 Sentani ujicoba lima hari sekolah

Selanjutnya

Ketua Kopkedat rela jual trompet kesayangan demi Korowai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe