Content View Hits : 2934206
We have 58 guests online

Saweteko

CERITA RAKYAT MEYBRAT

 

JUBI — Dicelah-celah gunung dengan pepohonan nan lebat, terhampar pohon cemara di atas bukit-bukit tipis yang mengelilingi negeri itu, Negeri Faituse. seolah-olah menjadi pembatas antara wilayah Orang  Sabes di utara serta Orang Sufoo dan Aramna jalan ke Suswa di bagian Barat.

Di sebelah timur sana merupakan negeri Orang Aifat, awan-awan dan gunung-gunung tampak membiru. Tanah Orang Sree serta orang Faut atau juga Orang Sabes tampak menghijau di arah selatan memutar ke arah utara yaitu Sree Hakit, negeri Orang Nauw Sre berdiam atau memburu babi hutan.
Terdengar suara Burung Camar atau Mambruk yang seolah-olah” memberitahu” kalau-kalau ada pengayau kepala manusia sedang lewat, di situlah Sakof Snee, tempat yang didiami manusia Raksasa, Saweteko, di Daerah Faitesu.
Di Faitesu itu pula sering dijadikan tempat berkumpul orang-orang sekitar untuk mengadakan upacara serimonial atau ritual yang di sebut sikiwiat atau roh wuon untuk istilah yang kedua. Sering kali orang-orang berkumpul dan berdansa bersama siang dan malam, satu atau dua hari berturut-turut.
Tempat itu (Faitesu), memang letaknya pada posisi silang. Suasana di celah-celah bukit di Faitesu, Sakof Sneedan Em Metis yang seram, seolah-olah seperti daerah tak bertuan karena orang-orangnya yang sedikit jumlahnya. Banyak orang yang memilih berkebun di tempat yang dekat dengan safer (Air yang mengalir menlalui tonjolan batu. sering kali di tadah berjam-jam untuk mendpat satu-dua ruas bambu untuk di jadikan air minum) karena letak Faitesu yang kering, serta di atas dataran yang tinggi yang merupakan  tempat untuk diadakan pesta-pesta adat saja.
Di sekitar Faitesu itu, dibangun taro(Panggung terbuka yang di bangun untuk dansa serta upacara-upacara bersama) untuk berdansa bersama. Pada saat upacara sakral maupun serimonial, selalu diiringi dengan suah bosuah.
Di sekitar Sakof Snee, tepatnya di sekitar Puncak Gunung Em Metis itulah rumah tempat Saweteko tinggal. Saweteko adalah manusia tinggi besar di antara orang-orang lain. Daun telinganya seperti dua buah piring menggelantung di kiri-kanan. Jari-jari tangan kakinya panjang dengan cagang bercabang lima. Setiap ruas jari-jari bisa mencapai tiga puluh centimeter.
Rambutnya bagaikan rerumput yang tumbuh di semak belukar. Menghitam-mengering. Giginya terlihatberjejer bagai pagar semen di pintu mulut Saweteko. Bahkan taringnya bagi babi yang telah mencapai usia lima tahun.
Sekali melangkah ia akan menjangkau lima-enam meter. Bulu matanya lentik bagaikan bulu mata sapi jantan. Urat-urat yang menghubungkan antara sendi-sendi kaki dan tangan tampak melingkar bagaikan kabel instalasi listrik. Apabila berjalan di atas tanah maka terasa perut bumi bergetar. Setiap melangkah akan meninggalkan bekas tancapan itu terlihat menggusur tanah ke bawah dengan kedalaman dua-tiga centi ke bawah.
Itulah Saweteko. manusia raksasa yang pernah hidup di Faitesu. Meskipun fisiknya tinggi besar tampak seram tetapi jika Saweteko mendekat, terlihat ramah sekali. Banyak senyum dan menarik perhatian setiap orang yang di jumpainya. Tak seorangpun yang tahu kalau Saweteko itu sesungguhnya adalah manusia pengayau kepala manusia. Pembunuh berdarah dingin. Aksinya itu dilakukan di sekitar Sakof Snee ketika seorang berjalan sendiri.
Setiap malam ia seringkali datang berdansa bersama-sama orang lain. Kalau Saweteko tiba di atas taro,ia akan di gandeng dua-tiga anak kecil serta gadis-gadis yang memujanya. Apabila saweteko ingin tidur ia akan digandeng dua tiga lapis bagaikan ular yang sedang melingkarkan badannya. Pekerjaannya setiap hari yaitu mengayau kepala manusia, tetapi tidak seorangpun mengetahuinya.
Setiap malam ia turun dari tempat tinggalnya dan berdansa pada taro yang dibangun di atas sofnan dan akan menjadi pusat perhatian banyak orang tetapi di satu sisi, Saweteko juga menjadi pusat kecurigaan orang-orang atas fisiknya yang tinggi besar dan mukanya yang seram.
Tidak ada seorangpun bisa menggapai pinggangnya atau bahunya, karena Saweteko memang lebih tinggi dari semua orang yang ada.
Ketika orang-orang berdansa, seringkali ada seseorang laki-laki atau perempuan yang menyanyikan sebait syair bosuah (Salah satu bentuk kesenian dalam Suku Meybrat yang dinyanyikan secara bersama dan bergandengan tangan lalu berdansa dengan formasi melingkar)  lalu diikuti oleh yang lain dan berdansa secara bergandengan tangan lalu berputar-putar mengelilingi lapangan  dansa (sofnan) hingga posisi semula dan diganti lagi dengan syair-syair lagu yang lain,dengan irama yang lain pula di ikuti oleh yang lain dengan suara merdu,gerak tari penuh namun padu dengan syair yang berirama pula.
Pada saat orang-orang berdansa bersama seringkali Saweteko mengangkat syair bosuah nya sebagai berikut : “Saweteko......teko rae tekya hu wowa mbuut ee.....mbuut ee.....” sawe bocorkan.. kepala orang dekat ia tinggal diam.....diam” (Saweteko, pembocor kepala manusia, tak seorangpun tahu).
Saweteko berdansa bersama-sama di taro tetapi menjelang pagi ia segera menghilang. Ia pulang ke Sakof Snee untuk tidur dan melanjutkan pekerjaannya yaitu mengayau kepala manusia.
Pada malam hari, ia akan muncul lagi di tempat dansa untuk berdansa bersama-sama hingga menjelang subuh saat ia akan menghilang, kembali ke Sakof Snee.
“Siapa gerangan yang tinggi besar ini?”, demikian beberapa pertanyaan yang seringkali muncul sambil berbisik-bisik dari mulut di antara pemuda-pemuda di Faitesu dan sekitarnya.
Seringkali orang-orang di Faitesu dan sekitarnya kehilangan sanak saudara. Mereka yang kehilangan istri, anak atau saudaranya mencari ke sana kemari tetapi tidak menemukannya.
Orang-orang yang hilang di sekitar Sakof Snee itu dari waktu ke waktu kian bertambah. Setiap kali berdansa Saweteko mengulang syair lagunya “ saweteko...rae tkiya huu owea mbuut ee-mbuut ee:”
Lama kelamaan orang-orang mulai mencurigai makna lagu itu. Pada suatu malam, Saweteko datang untuk berdansa bersama hingga menjelang fajar. Kemudian Saweteko pulang ke tempat tinggalnya di atas Gunung Em Metis.
Diam-diam ada sejumlah pemuda yang mengintai jejak langkah Saweteko.
Begitu langkah naik keatas rumahnya yang tinggi di atas pohon, Saweteko merasa mengantuk hendak tidur. Kebiasan tidur Saweteko yaitu melingkarkan badannya dua-tiga lingkaran bagaikan ular yang melingkarkan badan di atas tanah.
Kepalanya dia masukan ke dalam dadanya. Ketika tertidur lelap, para pemuda ini berusaha naik ke atas rumahnya. Mereka mengikat badan Saweteko menjadi beberapa bangian.
Setelah mengikat badan Saweteko, mereka membangunkan Saweteko, katanya, “ Saweteko, Saweteko..., nros tih !!” (Hai Saweteko, Saweteko, bangunlah).
Saweteko terkejut bangun tetapi badannya sudah terikat. Para pemuda lalu memotong tubuh Saweteko hingga beberapa bagian, iapun mati. Tamat lah manusia raksasa yang kuat dan angkuh yang seringkali mengayau kepala manusia itu. ***
 

 

 

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items:

Terbitan Papua Room

Mawar Hitam Tanpa Akar
29/08/2009 | Administrator
article thumbnail

  Sebuah Novel Dari Tanah Papua "Inilah [ ... ]


Other Articles