JUBI--Habuah adalah nama salah satu tempat di Wilayah Meybrat yaitu Desa Seya, di Pedalaman Sorong - Tanah Papua.
Sebagai suatu kebiasaan membangun jaringan maka dilakukan melalui hubungan kain adat atau mah boho (transaksi kain adat dengan tujuan mendapatkan bunga pokok dalam bentuk tukar-menukar kain adat). Misalnya, hubungan pemberi dan penerima gadis atau hubungan ekonomi, misalnya berdagang dengan cara barter dan sebagainya. Juga, dalam menjalin persaudaraan serta jaringan komunikasi yang harmonis maka dilakukan kerjasama dalam berbagai bentuk. Hubungan mereka itu perlu dijaga agar keserasian tidak terganggu.
Lain halnya perilaku lelaki yang tidak diketahui namanya dalam cerita Habuah ini. Lelaki ini melakukan tindakan yang tidak terpuji, yaitu menggauli gadis rae sawan (masih terikat kekerabatan)nya hingga hamil dan ditinggal pergi begitu saja tanpa mau bertanggung jawab.
Gadis yang ditinggal itu minum racun dan meninggal tetapi rohnya mengejar lelaki tersebut hingga Habuah. Beginilah ceritanya.
Ada seorang lelaki yang hendak mengikuti utang-piutang kain adat ke raensawan di Daerah Fef (Wilayah Karoon) di Bagian Utara Meybrat, Sorong.
Selama beberapa waktu ia tinggal di sana untuk menanti transaksi kain adat atau mah bowo. Ia berkenalan dengan seorang gadis. Gadis tersebut tidak lain adalah raen sawannya atas dasar jaringan pertukaran kain adat yang telah terjalin beberapa waktu lamanya.
Selanjutnya lelaki itu menjalin hubungan kasih hingga berhubungan badan dengan gadis itu tetapi, tak seorangpun yang mengetahui hubungan asmara dua sejoli tersebut.
Setelah beberapa lama ia tinggal di sana maka tibalah saatnya para kerabat memberi kain balas jasa atau msuot boho.
Setelah diberi pokok bunga kemudian pemuda ini pulang ke Seya, yaitu Habuah. Perjalanan panjang ia tempuh, naik-turun gunung. Gunung Suberaus, Sakof Syiak, Mana Ibu, Ibiy, Wonwon Ara dan Rufases lalu Gunung Tuhwii hingga kebunnya di Habuah. Ia tinggal di Habuah, memelihara anjing-anjing dan mendirikan rumah di atas Pohon Yin (Pohon Beringin).
Belakangan, gadis yang ditinggalkan itu ternyata hamil setelah lelaki ini pulang. Setiap hari gadis itu dicaci-maki oleh keluarganya. Mereka tidak mau kalau ada kehamilan diluar perkawinan secara resmi yang biasanya dilakukan di Daerah Meybrat.
Seorang anak gadis harus dipinang dengan bofot (Kain Pinangan) atau byua (harta). Karena bertentangan dengan adat Orang Meybrat maka setiap hari gadis itu ditekan, dicaci-maki.
Ia benar-benar sakit hati. Tidak dapat lagi menahan emosi yang memuncak.
Ia pergi ke hutan mencari Akar Duba yang sering dipakai untuk meracuni ikan. Ia mengambil beberapa Akar Duba dan memeras air yang berwarna putih seperti susu segar. Ia meneguk Air Duba itu beberapa liter.
Lelaki yang pernah menggaulinya itu bersenang-senang di Habuah. Tidak pernah mengingat-ngat lagi kalau ia pernah mempunyai hubungan khusus dengan seorang gadis di Daerah Fef, di Tanah Karoon.
Pada suatu malam yang cerah, bintang-bintang bertaburan di angkasa bagaikan mentari di siang bolong, ditembusi cahaya bintang dan senja yang memerah.
Gunung Suberaus, Sakof Syiak dan Mana Ibu tampak cerah. Lelaki itu menatap dengan iba karena pada arah utara itulah tempat tinggal raen sawannya serta bersemi pula dalam hatinya gadis yang pernah digaulinya. Mungkin karena terangnya awan sehingga membuat lelaki itu menjadi teringat kembali gadis kenalannya yang dilupakan di negeri nun jauh, Fef. Dengan senyum seorang diri ia menatap bintang-bintang yang bertebaran di arah utara itu. Matanya menatap dengan asyik ke salah satu benda yang terang benderang sambil mengatakan "Betapa indahnya bintang itu. Memancarkan cahaya di celah-celah gunung itu". Yang bersinar dari arah utara itu sesungguhnya adalah sinar fota mwan (hantu dari wanita yang bunuh diri dengan cara meminum racun) dari gadis yang telah meninggal itu.
Lama-kelamaan, benda itu terlihat bergerak melangkah dari arah utara menuju Habuah, tempat dimana lelaki itu mendirikan rumah di atas Pohon Beringin yang rindang. Rumah itu menjulang di atas dataran yang suram.
Lelaki tersebut semakin penasaran dan semakin mengenali wajah hantu itu. Hantu yang menyerupai sosok wanita itupun semakin mendekat dan hendak mengatakan, "Bo rotit myuo, bo rotit myuo?" ("Dimanakah gerangan yang kucari, dimanakah gerangan yang kucari?")
Ketika hendak mengatakan sesuatu, terciumlah bau yang tak sedap dari mulut hantu itu. Semakin mendekat lelaki tersebut bertanya dalam hati,"Apakah ini cahaya manusia?" "Oh tidak, tidak, ini fota!"
Lalu, ia semakin penasaran dan bertanya-tanya lagi, sambil mengingat-ingat wajah yang semakin bergerak mendekat itu. "Jangan-jangan, inikah gadis yang pernah kugauli?" "Ataukah orang lain?" "Jangan-jangan, telah terjadi apa-apa sehingga fotanya mengikuti aku ini?", tanyanya dalam hati tetapi badannya gemetaran. Hantu itu semakin mendekat di sekitar Gunung Tuhwi.
Setelah melewati Gunung Tuhwi, fota tersebut terus melangkah turun. Sungai Korswan dilewati terus hingga mendekati Habuah.
Tak lama lagi ia mendekati Habuah, tempat dimana lelaki itu mendirikan rumah dan berdiam bersama anjing-anjingnya itu.
Lelaki muda itu menjadi panik setelah memastikan wajah hantu itu, bahwa memang itu adalah hantu dari wanita yang pernah digaulinya. Hantu itu semakin mendekat hingga jarak hanya lima ratus meter.
Lelaki itu meninggalkan anjing-anjingnya tertidur di dalam koba-koba yang dijadikan tikar. Ia menaiki Pohon Yin yang merupakan pohon berdahan rindang, tempat dimana ia mendirikan rumah di atas dahannya. Ketika hantu itu semakin mendekat, lelaki itu mengambil beberapa meterial yang melekat di atas pohon itu dan melemparnya ke dalam kali.
Hantu itu mengira bahwa, lelaki itulah yang melarikan diri dan melompat ke dalam Kali Auk. Ia pun ikut melompat ke dalam kali mencari-cari orang yang melompat ke kali itu sambil mengatakan, "Bo rotit myuo, bo rotit myuo?" ("Dimanakah gerangan yang hendak kutuju, dimanakah gerangan yang hendak kutuju?")
Setelah mencari ke dalam Kali Auk, ia tidak menemukan apa-apa maka iapun kembali ke atas dan menaiki rumah itu. Begitu mendekati rumah, ia melihat aham (koba-koba dari Bahasa Melayu Papua, yaitu semacam alas di dalam rumah yang terbuat dari bahan Daun Pandan) yang tampak membukit seolah-olah lelaki tersebut sedang tertidur di dalamnya.
Tongkat yang dipegang pada tangan kanannya itu dipukulkan pada bukitan pandan yang sebenarnya berisi anjing. Anjing itu mati. Hantu tersebut memasukkan anjing-anjing yang dipukul itu ke dalam api lalu disiram dengan air racun dari Akar Duba yang ada di mulutnya itu. Ia menyebarkan anjing yang disiram racun itu dan terus memburu lelaki itu. Lelaki itu sudah memanjat Pohon Yin yang ada di atas rumah itu dan bersembunyi di dahannya.
Ketika diketahui oleh fota tersebut bahwa lelaki itu berada di atas Pohon Yin itu, fota tersebut meninggikan badannya hingga hampir saja menggapai lelaki itu.
Dengan akal licik, lelaki itu mengambil material yang menempel di Pohon Yin dan dilemparkannya ke dalam kali.
Hantu itu mengira bahwa lelaki itu melompat ke dalam sungai sehingga ia pun ikut melompat, menyelam ke dalam sungai. Tak ada yang didapatnya, kembali lagi ke atas Pohon Yin tersebut tetapi lelaki itu sudah turun dari pohon dan berlari ke arah Seya.
Hantu itu mencium baunya dan mengejarnya ke Seya yang bersemak-belukar, terhampar alang-alang serta onak-duri. Lelaki itu memanjat Pohon Mrie (Jenis pohon yang kulitnya bersisik dan kalau tidak hati-hati ketika memanjat akan melukai bagian badan) dan duduk di atas salah satu dahannya.
Sialan! ketika ia hendak mendekati pohon itu lelaki berakal licik itu terlebih dahulu naik ke atas Pohon Mrie.
Ketika fota itu hendak memanjat Pohon Mrie itu, kulit Pohon Mrie yang tajam itu mengikis bagian pahanya sehingga luka-luka, kesakitan.
Batallah niatnya memanjat Pohon Mrie itu. Lelaki itu selamat. Selesailah sudah niat balas dendam hantu tersebut pada lelaki itu. ***

| < Prev | Next > |
|---|
Pantai su meti, mari tong cari bia! See details
Ramai-ramai mengejar Persipura See details
Anak-anak dari Pegunungan Bintang See details
Menunggu keputusan dibalik pagar MRP See details
Ini sa pu ikan, ko punya mana? See details
Inilah kemenanganku! See details
Hi, Just Smile for Us! See details
Satu malam di Distrik Langda, Kabupaten Yahukimo See details

| Artikel..... | Asal Mula Nama Wamena |
| Artikel..... | Jacksen Mulai Pimpin Latihan Persipura |
| Artikel..... | KMSP2 Dukung Yusak Yaluwo |
| Artikel..... | Persemi Mimika Siap Jadi Tuan Rumah Divisi II |
| Artikel..... | MRP Warning Investor di Asmat |
| Artikel..... | Selamatkan Warisan Budaya Asmat |
| Artikel..... | Tingginya Buta Aksara di Papua : Hukum Karma Buat Guru |
| Artikel..... | PILKADA Se-Papua Barat : Hari Pemungutan Suara Kemungkinan Diubah |
| Artikel..... | Banyak Pengusaha Perempuan Papua Belum Gabung di IWAPI |
| Artikel..... | UU Pornografi Tak Bisa Diterapkan di Papua |
| Artikel..... | Perlukah Pemekaran Kodam (di) Papua? |
| Artikel..... | Ambil 10 Kategori Lomba, Tim Pesparawi Nabire Optimis Raih 5 Medali |
| Mawar Hitam Tanpa Akar 29/08/2009 | Administrator Sebuah Novel Dari Tanah Papua "Inilah [ ... ] |
| Other Articles |