Content View Hits : 2920222
We have 83 guests online

SUMDA *) (Cerita rakyat dari Daerah Demta - Bagian I)


Sumda adalah nama seorang nenek yang memiliki kekuatan fisik dalam berperang, bagian depan tubuhnya (dada dan perut) terbuat dari batu. 

Di sebelah barat Demta Kota (Kota Kecamatan Demta sekarang), hiduplah seorang nenek yang tinggal bersama kedua anak perempuannya di dalam gua. Gua tersebut merupakan istana bagi mereka bertiga. Nenek itu bernama Sumda. Nenek Sumda  berstatus juga sebagai seorang ratu dan berkuasa atas beberapa daerah di sekitar Demta. Nenek Sumda juga dijuluki Nenek Raksasa karena ia memiliki kekuatan yang besar yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya yang berada di daerah Demta. Tubuh Nenek Sumda bagian depan (dada dan perut) dan tubuhnya bagian belakang diselimuti atau dilapisi dengan batu. Lapisan batu pada tubuhnya itu merupakan perisai atau tameng baginya untuk melindunginya dari serangan musuh atau siapa saja yang berkelahi atau berperang dengannya. Di daerah Demta saat itu tidak ada seorangpun yang dapat menyaingi kekuatan dan ilmu tanding yang dimiliki Nenek Raksasa Sumda sehingga ia dihormati dan disegani sebagai ratu yang berkuasa.
Sebagai seorang ratu, Nenek Sumda memiliki banyak harta. Harta itu merupakan benda atau alat yang digunakan dan dibutuhkan manusia pada waktu itu untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup dan kehidupannya. Harta Nenek Sumda itu terdiri dari tempayan dan sampe/gerabah jenis besar dan kecil yang digunakan untuk membuat papeda (makanan khas Papua-red), alat penikam penyu (tempuling) ukuran panjang dilengkapi dengan hiasan dan ukiran, sedangkan ukuran pendek tidak dilengkapi dengan ukiran dan hiasan, jala penangkap ikan dan udang, manik-manik dalam segala jenis dan warna, tomako batu (kampak batu), beberapa ukiran yang menggambarkan suasana laut dan darat, alat perang berupa busur dan panah, tulang Kasuari berbentuk sangkur ukuran pendek dan panjang, syatu (sejenis ubi) dan Nenek Sumda juga memelihara beberapa Burung Cenderawasih. Pekerjaan sehari-hari Nenek Sumda dan kedua anaknya adalah mengerjakan tempayan dan sampe yang dibuat dari campuran tanah liat, pasir dan abu dapur.
Di daerah-daerah sekitar Demta yang belum dikuasai oleh Nenek Sumda, yaitu Demta Pulau (Dariap). Di pulau itu terdapat beberapa kampung, yaitu Pisya, Usufar, Yaugap, Kosay. Werey dan Yausya. Nenek Sumda bercita-cita untuk merebut dan menguasai Pulau Dariap dengan jalan membunuh dan memusnahkan Pulau Dariap karena mereka tidak mau tunduk pada kekuasaan Nenek Sumda. Oleh karena itu, Nenek Sumda menyusun rencananya untuk berperang dan memusnahkan penduduk Pulau Demta (Dariap).
Mentari pagi mulai menguak kabut malam yang menyelimuti Pulau Dariap dan kehangatan sang surya menyirami bumi, menerpa tubuh semua insan yang semalam suntuk bergelut dengan udara dingin dan digoda mimpi-mimpi buruk. Pagi itu langit sepenuhnya berwarna kuning kebiru-biruan. Ketika itu Nenek Sumda dan sekutunya memasuki Kampung Marga Pisya. Penduduk kampung segera menyambut tamu baru itu dengan senyum persahabatan namun apa dikata, dalam sekejap mata tamu itu mengamuk di tengah kampung. Penduduk kampung yang datang menghampiri dengan maksud mengajak bicara, jadi sasaran sangkur tulang Kasuari. Sebagian jatuh berlumuran darah dan lainnya segera melarikan diri. Laki-laki yang muda dan kuat tidak bisa memberikan perlawanan, mereka lari tunggang-langgang mendaki Bukit Syantur untuk menyelamatkan diri. Kampung Marga Pisya berubah menjadi lautan api. Jeritan menyayat hati dan darah manusia yang tidak berdosa untuk pertama kalinya membasahi tanah Pulau Dariap. Mereka yang selamat lari ke bukit-bukit dan meratapi anggota keluarga yang telah hilang serta rumah dan harta kekayaan mereka yang dilahap oleh api. Kemudian Marga Pisya menyampaikan berita malapetaka yang menimpa kampungnya kepada marga di kampung-kampung lain. Penduduk di kampung lain segera bersikap waspada.
Hari berikutnya Nenek Sumda dan sekutunya memasuki perkampungan Marga Usufar di atas punggung Morop. Perempuan itu memimpin pasukannya di depan. Para lelaki muda yang tegap dan kuat Marga Usufar mempersiapkan diri untuk menghadapi Nenek Sumda dan sekutunya. Para pemuda satria itu menyerang Nenek Sumda dengan hujan anak panah namun sangat mengherankan karena semua anak panah itu terpental kembali ke pemanah-pemanah yang berasal dari Marga Usufar. Beberapa pemuda langsung tewas tertikam anak panahnya sendiri dan yang lainnya melarikan diri dengan busur-busur yang masih ada di tangan mereka. Kembali lagi Marga Kampung Usufar menjadi lautan api. Berita ini dengan cepat tersiar ke kampung-kampung lain bahwa tubuh Nenek Sumda dilapisi batu dan dengan kekuatan ilmunya dapat mengembalikan panah kepada pemanahnya.

Lahirnya Pahlawan Kembar
Berita penyerangan Nenek Sumda ke Kampung Marga Pisya dan Usufar membuat penduduk Kampung Werey dan Kosay segera bersiap-siap mengasingkan diri ke tempat lain. Di tengah hiruk-pikuknya manusia yang sedang dilanda perasaan takut kepada raksasa Sumda yang kejam dan serakah, di Perkampungan Marga Kosay terdapat seorang perempuan yang sedang hamil tua. Perempuan hamil itu dengan panik meminta pertolongan kepada tetangga dan kenalan agar ia juga diberi tempat untuk menumpang di perahu-perahu mereka yang mulai bertolak mengungsikan diri ke pulau-pulau di laut lepas. Namun, ia selalu gagal mendapatkan tumpangan karena perahu mereka telah sesak dengan para penumpang dan barang-barang bawaan mereka. Akhirnya tinggallah perempuan yang hamil itu sendirian di pantai Pulau Dariap. Air mata membasahi kedua pipinya. Ia meraung dan meratapi nasibnya karena mungkin sebentar atau besok, ia akan dibantai oleh si nenek tua yang kejam dan buas itu. Dengan gontai ia memasuku hutan, mencari tempat perlindungan. Ia menemukan sebuah gua dan bersembunyi di situ.
Pada siang hari, perempuan hamil itu mengembara di dalam hutan, masuk keluar kebun penduduk yang telah mengungsi. Ia mengambil hasil kebun berupa keladi, pisang dan sayur-sayuran kemudian dibawanya ke dalam gua tempat persembunyiannya. Ia tidak dapat masak dan membakar makanannya di siang hari karena jikaasap api mengepul ke angkasa akan dilihat oleh Nenek Sumda, berarti nyawanya akan terancam. Ketika malam tiba, barulah perempuan itu dapat membuat api untuk memasak dan memabakar makanannya yang akan dimakan pada malam hari, besok pagi dan siang.
Konon perempuan yang hamil itu mempunyai suami yang berasal dari alam gaib. Sering suaminya datang kepadanya saat-saat tertentu untuk membantu dan menghiburnya. Keperluan hidupnya berupa daging dan ikan ia peroleh dari suaminya. Di malam hari suaminya selalu mengunjunginya dan memberikan kepadanya apa yang diperlukan. Pada suatu hari, perempuan itu merasa sakit karena akan melahirkan. Akhirnya, ia melahirkan dua anak laki-laki kembar. Hatinya bahagia tetapi kegelisahanpun datang ketika kedua anaknya itu menangis. Ia khawatir tangis itu akan mendatangkan keributan di pulau dan terdengar oleh Nenek Sumda. Segera dibujuknya kedua anak itu dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahunpun berganti. Anak-anak itu mulai mengalami perubahan fisik Mulai dapat tertawa, tumbuh gigi, duduk, merangkak dan berdiri sambil berpegang pada tebing batu dan berjalan tertatih-tatih mengelilingi gua. Lama-kelamaan kedua anak itu sudah dapat berjalan dengan sempurna dan berlari-lari. Ketika usia kedua anak itu mencapai enam tahun, ibu mereka membuatkan busur dari akar Pohon Bakau dan panah dari batang Pohon Sagu. Ibu itu setiap hari melatih mereka memanah. Setelah mereka pandai menggunakan busur dan anak panah, mereka mulai belajar berburu binatang di hutan. Misalnya cicak, ular, tikus dan burung-burung. Semua hasil buruan diberikan kepada ibu mereka. Ibu mereka kemudian memperkenalkan binatang mana yang dapat dimakan dan binatang mana yang tidak dapat dimakan. Karena setiap hari pekerjaan anak-anak itu adalah memanah binatang maka keduanya dilatih memanah tepat sasaran.Kedua anak lelaki itu kini telah tumbuh menjadi remaja. Oleh sebab itu, anak panah yang kecil dari tangkai Daun Sagu diganti yang besar dari batang Pohon Pinang.(Bersambung)

*) Diambil dari Kumpulan Cerita Rakyat Papua Tana Naripi Sosane Besien
 

 

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items:

Terbitan Papua Room

Mawar Hitam Tanpa Akar
29/08/2009 | Administrator
article thumbnail

  Sebuah Novel Dari Tanah Papua "Inilah [ ... ]


Other Articles