Content View Hits : 1833038
Friday, 12 March 2010
Terjadinya Nama-Nama Burung PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 02 February 2010 15:05

Zaman dahulu di Daerah Maribu, suatu lembah yang subur di tepi Sungai Ormu, hiduplah sepasang suami istri yang selalu rukun dan damai dan tak pernah kurang sesuatu apapun. Suami tersebut bernama Soi Mutsi. Ketika istrinya yang sudah hamil tua, sebelum anaknya lahir, istrinya telah dahulu meninggal. Setelah istrinya dimakamkan kemudian anak yang lahir itu dipelihara oleh arwah ibunya yang sudah berada di alam baka. Anak tersebut tumbuh dan subur. Setelah anak tersebut menginjak usia sekolah, ia suka bermain dengan anak-anak seumurnya di daerah tersebut. Namun anak ini dikenal oleh teman-temannya nakal dan mereka belum mengetahui asal-usulnya.
Pada suatu waktu, sore hari yang cerah banyak anak kecil bermain di halaman, saat itu anak tersebut tidak ikut bermain. Kebiasaan anak itu pada dasarnya suka mengganggu anak yang lain apalagi anak-anak kecil hingga menangis. Hal tersebut cukup menarik perhatian masyarakat, sehingga banyak yang bertanya-tanya anak itu dari mana dan siapa orang tuanya. Mengapa ia suka mengganggu anak-anak,sehingga mereka memutuskan untuk menangkap anak tersebut. Pada suatu anak itu muncul lagi dan ikut bermain dengan anak-anak kecil sementara itu anak-anak muda yang berniat menangkapnya selalu memperhatikan gerak-gerik anak tersebut dan siap untuk menangkapnya.  Ketika anak nakal tersebut sedang mengganggu anak lain sampai menangis maka saat itu juga ia ditangkap. Berita itu cepat tersiar ke seluruh kampung, banyak orang-orang datang melihatnya. Salah satu diantaranya adalah Soi Mutsi. Begitu Soi Mutsi melihat anak tersebut, hatinya tersentuh, perasaannya mengatakan bahwa itu anaknya yang ikut terkubur dengan ibunya. Maka tidak banyak berpikir Soi Mutsi segera mengambil anak tersebut lalu dibawanya pulang. Sejak itu anak tersebut dipelihara Soi Mutsi dan diajarinya cara-cara hidup yang baik termasuk bercocok tanam, berburu dan meramu. Ia diberi nama Soi Sro, sementara itu ibunya yang memelihara di alam baka mencari-cari dan menunggunya sepanjang waktu. Namun selalu tidak dapat kabar dan beritanya, dimana dan kemana anak itu pergi. Ia sangat sedih dan merindukan anak tersebut. Waktu terus berjalan anak itu semakin besar dan semakin cerdik. Pada suatu hari Soi Sro menangkap seekor Kuskus. Karena seharian ia berburu Soi Sro beristirahat di bawah pohon yang rindang sambil membayangkan ibunya.
“Seandainya ibu masih hidup tentunya ibunya senang melihat hasil buruan anaknya”. Sementara ia melamun dan membayangkan ibunya, tiba-tiba arwah ibunya muncul dan langsung membawa Soi Sro dan hasil buruannya. Untunglah hal tersebut diketahui oleh tantenya yang dengan sigapnya merebutnya kembali dan menaruhnya di sebuah Pohon Mangga yang besar. Soi Sro tinggal sendirian di pohon tersebut tanpa ada yang menemani. Suatu saat datanglah seekor Burung Pipit lalu menegurnya,
“Hai sobat.., mengapa murung, apakah sobat memerlukan bantuan saya?” tanya Burung Pipit. “Dengarlah hai Burung Pipit, saya telah beberapa waktu berada di pohon ini. Siapa yang bisa membawaku pulang ke rumah ayahku,” keluh Soi Sro
“Tunggulah tiga hari lagi, saya akan berusaha menolongmu“ kata si Burung Pipit, sambil terbang meninggalkan Soi Sro. Pada senja harinya ketika udara sangat cerah nampak Soi Mutsi termenung sedih. Ia teringat anaknya yang telah beerapa lalu pergi berburu belum kembali. Tiba-tiba muncul Burung Pipit menghampirinya. “Hai Paitua Soi Mutsi, mengapa Bapak murung? “ sapa Burung Pipit.
“Anak Soi Sro telah beberapa hari tidak pulang dan perginya kemana saya tidak tahu, itulah yang membuat saya sedih.
“Bapak, kalau begitu cobalah tunggu dua atau tiga hari lagi. Apabila dua atau tiga hari lagi di langit sebelah barat tampak kehitam-hitaman itu adalah kami dengan rombongan yang mengantarkan anak bapak kembali ke sini,”   ujar Burung Pipit. Tepat tiga hari kemudian, Burung Pipit memanggil semua keluarga burung, dari burung yang kecil sampai yang besar. Semua burung berkumpul mengelilingi Soi Sro yang duduk diatas Pohon Mangga.  Pada saat itu juga Soi Sro disuruh naik ke atas punggung Burung Garuda. Kemudian terbang diiringi oleh semua burung dan Burung Pipit sebagai penunjuk jalannya. Sementara itu Soi Mutsi yang menunggu dengan harapan cemas, merasa gembira ketika melihat dilangit tampak kehitam-hitaman.“Apakah ini yang dimaksudkan oleh Burung Pipit tiga hari yang lalu?” pikir Soi Mutsi dalam hatinya. Semakin lama tanda-tanda itu semakin dekat, sehingga akhirnya tampaklah si Burung Pipit berada paling depan, lalu Burung Nuri dan disusul burung-burung yang lain dan yang paling terakhir Burung Garuda yang membawa Soi Sro untuk diserahkan kepada bapaknya, Paitua Soi Mutsi. Soi Mutsi menerima dengan penuh kegembiraan dan kemudian ia mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk membalas kebaikan burung-burung tersebut.
“Sobat-sobatku burung yang baik hati, aku berjanji akan membuat kebun buah-buahan yang besar dan lengkap dengan segala macam buah-buahan makanan burung. Setelah itu saya akan mengundang kalian untuk menikmati kebunku sebagai tanda terima kasih atas pertolongan kalian. Tetapi sekarang saya belum punya apa-apa hanya dapat mengucapkan banyak terima kasih dan silahkan kalian pulang. Hanya itu yang dikatakan oleh Soi Mutsi kepada burung-burung tersebut. Semenjak itu  Soi Mutsi dan Soi Sro bekerja keras membuat kebun buah-buahan yang besar dan lengkap. Semua tanaman buah ada dikebunnya dan di sekeliling dilingkari dengan pagar yang tinggi, dilengkapi dengan dua buah pintu di depan dan di belakang. Tak ada sedikitpun celah yang tampak.Di dalam kebun dibuatnya sebuah pondok untuk beristirahat. Ketika Soi Mutsi merasa bahwa segala sesuatunya telah siap, maka diundangnya burung-burung yang telah membantu menolong anaknya hingga bisa kembali kepadanya. Maka berdatanglah segala macam jenis burung ke kebun Soi Mutsi, untuk menikmati berbagai makanan yang ada. Ketika burung itu sedang asyik menikmati makanan Soi Mutsi menutup pintu-pintu kebun di muka maupun di belakang. Setelah itu ia menggunakan pemukul kayu, ia memukul burung yang diundangnya hingga berjatuhan ke tanah. Melihat gelagat yang kurang baik, burung-burung tersebut panik ketakutan. Pada saat itu Burung Nuri berteriak–teriak agar semuanya terbang menyelamatkan diri masing-masing. Tidak lama kemudian kebun tersebut menjadi sepi. Semua burung telah pergi atau bersembunyi menghindari kekejaman si Soi Mutsi.
“Kemana saja burung-burung itu pergi tanya Soi Mutsi dalam hatinya, kemudian ia kembali ke pondok untuk beristirahat. Sesaat sebelum sampai ke pondok terdengar kepakan sayap burung yang bersembunyi di dalam abu perapian. Abunyapun berhamburan ketika burung itu terbang menghilang dari pandangan Soi Mutsi. Sehingga burung itu diberi nama Imuit Kusung atau Burung Kumkum. Setelah itu ketika ia melangkah mau mendekati noken sayur yang tergantung di pojok pondok, tiba-tiba keluarlah burung yang bersembunyi di situ yang kemudian terbang dengan gesitnya ke udara. Burung tersebut kemudian diberi nama Bomesi atau Kakatua. Begitu Soi Mutsi sampai dan membuka pintu pondok terbanglah burung yang bersembunyi di tempayan Sagu. Burung itu lalu diberi nama Mbiam atau Kakatua putih. Kemudian keluar lagi burung lain yang bersembunyi dalam tumpukan tempurung dan burung tersebut diberi nama Kakatua Merah.Akhirnya semua burung yang bersembunyi keluar berterbangan meninggalkan kebun Soi Mutsi dengan selamat. Sehingga Soi Mutsi menanggung kekecewaan dan penyesalan yang berkepanjangan. Mengapa ia sampai begitu sampai hati kepada kawanan burung yang telah membantu menyelamatkan anaknya. Ia berjanji dalam hati untuk tidak semena-mena dengan burung dan akan melindungi semua margasatwa yang ada di daerahnya.
*)Sumber: Cerita Rakyat Papua YPLHC - Grasindo



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free Joomla PHP extensions, software, information and tutorials.
Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
 Klik Banner Di Atas, Dapatkan Informasi Penghargaan Pembela Hutan Papua 2010 

Pooling

Siapakah Bakal Calon Walikota Jayapura Pilihan Anda?
 

Komentar Pembaca

Frontpage

Surat Pembaca