JUBI --- Setelah Yawan Wayeni ditembak Aparat kepolisian, 4 Agustus 2009 di lokasi perkebunan rakyat milik warga, kampung Mantembu, Kabupaten Yapen, sejak Kamis, (20/8), Aparat keamanan dari TNI/Polri mulai menjadikan lokasi tersebut sebagai areal pelatihan militer.
Mama Wayeni, salah satu keluarga Almarhum Yawan Wayeni, Kamis (20/8) di Mantembu mengatakan, sekitar 2 truk milik polisi dan puluhan motor mulai memasuki areal tersebut siang tadi. Dirinya hanya mendengar letupan senjata. ”Mereka tembak-tembak dilokasi kebun kami. Saya takut jadi saya lari pulang rumah,” jelas mama Wayeni.
Ketakutan Wayeni seperti juga dialami warga lain di Mantembu. ”Kami mau kerja di kebun, mencari makan dan petik sayur untuk jual dipasar, tetapi kalau tentara dan polisi tembak-tembak, jangan sampai kami juga kena tembak”.
Hingga siang, sejumlah warga di kampung Mantembu tidak berani keluar rumah, apalagi untuk pergi ke kebun. ”Saya tiap hari jualan di pasar, untuk hidupi saya punya anak. Kami butuh biaya untuk anak sekolah, uang jajan, dan buku tulis dan lain-lain. bagaimana saya mau penuhi kebutuhan anak-anak saya, kalau lahan kebun kami dipakai untuk latihan tembak-tembak?” ucapnya sedih.
Keluarga Wayeni dan warga lain menolak aksi militer di kampung Mantembu tersebut. “Mantembu bukan tempat untuk latihan menembak militer Indonesia. Areal sini adalah lokasi kebun rakyat,” tegas Wilson Uruwaya, tokoh pemuda adat di Yapen, Papua, siang tadi.
Menurut Wilson, warga sekitar areal kebun rakyat adalah, rakyat sipil. Mereka juga merasa takut dan was-was jangan sampai ada penembakan terhadap mereka di areal kebun itu. “Tindakan itu sangat menganggu warga, karena warga merasa resah dengan tindakan tembak-tembak di sini. Apalagi kalo rakyat ditembak dengan alasan peluru nyasar. Ini sangat riskan sekali,” ujarnya. (Willem Bobi)