Cerpen – Alun-alun Utara Yogyakarta

Alun-alun Kidul Yogyakarta - IST

Alun-alun Kidul Yogyakarta – IST

Topilus B. Tebai

Malam Sabtu sekitar jam 7. Dari tenda biru tempat saya duduk ini, kupandang dua pohon beringin di tengah alun-alun utara kesultanan Yogyakarta. Gagah!

Kesultanan Yogyakarta yang saya tahu adalah sebuah kesultanan yang dengan sadar mengatakan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ketika Indonesia berdiri. Kota Yogyakarta pernah menjadi ibu kota negara Indonesia, kala Soekarno memerintah.

Kesultanan Yogyakarta menjadi salah satu nadi penyuplai nutrisi tetap tumbuh suburnya negara ini. Saya selalu tertarik menelusuri sejarah dan perkembangan kota ini. Walau saya seorang putra Papua.

Sambil nikmati nasi uduk di dalam terpal biru ini, pikiranku melayang. Sedikit singgah di akhir tahun 1961, pada 19 Desember tepatnya, di alun-alun utara ini. Soekarno dengan berapi-api mengumandangkan Trikora.

Isi Trikora lugas, tegas, seperti para pemimpin imperialis leluhurnya semisal Gadjah Mada, Soekarno berkata: Papua adalah tanah air kita bangsa Indonesia. Kita harus gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial.

Masih dalam imajiku, saat itu, rakyat dari berbagai kesatuan perjuangan dan golongan militer pasti telah tumpah memenuhi ruang-ruang kosong, memadati alun-alun utara kota ini. Dan kulihat sebuah panggung setinggi satu meter, tepat di samping dua pohon beringin itu.

Bagai layar lebar, aku segera hanyut dalam imajiku: Soekarno dengan berapi-api mengutuk habis-habisan tindakan Belanda mempersiapkan bangsa Papua untuk merdeka, dan dengan peluh menetes karena panas matahari kota Yogyakarta yang menyegat, Soekarno mengatakan Sabang sampai Merauke adalah wilayah kedaulatan RI yang harus dipertahankan, tanpa memedulikan panas terik yang membuat keringat jatuh dengan nakalnya di dahi hingga keraknya.

Pages: 1 2 3

  • Meki Wetipo

    Indah, waaaa…
    Bahasa sederhana dan pembaca diajak berkeliling alun2 utara Yogyakarta…